Tajuk

Saatnya Fokus Hilirisasi Industri

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Kalsel 2019 di kisaran 5,4 persen hingga 5,8 persen, lebih tinggi dibanding asumsi pertumbuhan ekonomi Kalsel tahun 2018.

Saatnya Fokus Hilirisasi Industri
Dok/banjarmasinpost.co.id
Tongkang batu bara di Sungai Barito 

BANJARMASINPOST.CO.ID - BANK Indonesia telah memberikan warning kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan pelaku usaha sektor pertambangan. Pada 2019, diperkirakan harga batu bara yang menjadi komoditas andalan daerah ini terus mengalami pelemahan di pasar dunia.

Pertemuan Tahunan BI 2018 di Aula Gedung KPw BI Kalsel, belum lama ini, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Kalsel pada 2019 relatif lebih tinggi dibanding asumsi pertumbuhan ekonomi Kalsel 2018.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Kalsel 2019 di kisaran 5,4 persen hingga 5,8 persen, lebih tinggi dibanding asumsi pertumbuhan ekonomi Kalsel tahun 2018 yang ada di kisaran 5,1 persen hingga 5,5 persen.

Potensi jatuhnya harga batu bara di pasar dunia sudah mulai terlihat saat ini. Salah satunya dari penurunan Harga Batubara Acuan (HBA) yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dari 97,90 dolar AS per ton pada November 2018, menjadi 92,51 dolar AS per ton untuk Desember 2018. Adapun HBA pada November 2018, merupakan titik harga terendah selama 2018.

Pemprov Kalsel harus siap melakukan gebrakan dengan menggenjot perwujudan hilirisasi industri komoditas andalan. Seperti diketahui, Kalsel pun dikenal sebagai daerah penghasil komoditas perkebunan andalan seperti karet dan kelapa sawit. Tapi industri pengolahan komoditas mentah hasil perkebunan masih terbatas.

Rencana untuk menggenjot hilirisasi industri ini pun telah menjadi keresahan nasional. Dimana Presiden Joko Widodo pada sejumlah kesempatan mengakui pemerintah selama ini alpa dalam membangun industri dan hilirisasi. Akibatnya, defisit transaksi berjalan membengkak dan menjadi masalah saat ekonomi global bergejolak seperti sekarang.

Untuk mengejar ketertinggalan ini, pemerintah pusat pun tengah konsen menerapkan sejumlah kebijakan guna mendorong industrilalisasi dan menekan defisit transaksi berjalan. Salah satunya pada industri kelapa sawit melalui proyek B20, dan selanjutnya B80 dan B100.

Hal ini tentu menjadi peluang yang sangat besar bagi Kalimantan Selatan, sebagai salah satu provinsi penghasil kelapa sawit di Indonesia. Penataan dan perhatian serius di sektor ini mutlak dilakukan, agar proyek hilirisasi industri bisa berjalan sesuai dengan target yang ingin dicapai.

Salah satunya dengan mempermudah perizinan berdirinya industri pengolahan, dan menjalin kerja sama dengan daerah tetangga penghasil komoditas ini untuk mengoptimalkan pengolahan dan pengelolaannya. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved