Ekonomi dan Bisnis

Tingkatkan Kualitas Anyaman Bamban, Omzet Diktiarni Meningkat Rp 5 Juta Per Bulan

Perajin anyaman bamban, terus berupaya kembangkan produksi untuk hasilkan pangsa pasar yang lebih luas.

Tingkatkan Kualitas Anyaman Bamban, Omzet Diktiarni Meningkat Rp 5 Juta Per Bulan
ist
Diktiarni dengan produk olahannya dari anyaman bamban 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Perajin anyaman bamban, terus berupaya kembangkan produksi untuk hasilkan pangsa pasar yang lebih luas.

Sebelumnya anyaman bamban hanya dijadikan bakul atau keranjang mengangkut hasil pertanian, kini mulai diproduksi  kerajinan tas, tempat tisu, dan lainnya.

Dijelaskan perajin anyaman bamban asal Balangan, Diktiarni sejak 2014 sudah mulai kembangkan produk yang lebih kreatif dari anyaman bamban.

"Sebelumnya saya sudah sebagai perajin bamban sejak 2012, tapi saat itu hanya membuat bakul atau keranjang untuk padi," ujar pemilik Bakhalan Go ini.

Baca: Hotman Paris Undang Ustadz Abdul Somad ke Kopi Joni untuk Ceramahi Billy, Hilda dan Kriss Hatta

Tak hanya itu, untuk meningkatkan kelas anyaman bambu, kini ia memadukan anyanan bamban dan sasirangan. "Saya coba memadukan dengan sasirangan, responnya cukup bagus," kata dia.

Produk andalannya kini yakni tas dari anyaman bamban. "Kebanyakannya tas kecil untuk suvenir, tapi saya juga produksi tas tenteng dan tempat tisu," ungkapnya.

Soal harga ia mematok untuk tas suvenir mulai Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu, tas besar dibanderol dari Rp 35 ribu hingga Rp 175 ribu, dan kotak tisu Rp 45 ribu.

"Yang paling laku itu tas suvenir selain bisa suvenir acara pernikahan, juga kenang-kenangan acara seminar," imbuhnya.

Untuk omzet perbulan ia bisa hasilkan sekitar Rp 5 juta per bulan. "Karena saya memasarkannya juga secara online, jadi ada juga pesanan dari luar daerah seperti Pulau Jawa," imbuhnya.

Baca: Hotman Paris Posting video Ceramah Ustadz Abdul Somad, Bahasannya Ngena dengan Hotman

Meski demikian menurutnya sumber daya manusia perajin anyaman bambu saat ini masih kurang. "SDMnya masih kurang dan untuk kreativitas masih kurang bervariasi, sehingga susah bersaing dengan brand ternama," bebernya.

Oleh sebab itu ia menjual anyaman bamban masih setengah jadi. "Karena masih kekurangan SDM jadi saya jual dengan produk setengah jadi yang harganya lebih murah hanya Rp 35 ribu," ungkapnya.

Ia mengharapkan bisa meningkatkan pemasaran melalui lebih banyak desain yang lebih banyak. "Harapannya kami sebagai perajin lebih banyak diberikan pelatihan atau dibantu dari segi pemasaran," tandasnya.

(Banjarmasinpost.co.id/ Muhammad Maulana)

Penulis: M Maulana
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved