Opini Publik

Revolusi Industri 4.0 dan Budaya Kerja Bermutu

Revolusi industri 4.0 dapat disebut sebagai era kompetisi yang menuntut kecakapan hidup sehingga kita mampu secara mudah menyesuaikan kebutuhan zaman.

Revolusi Industri 4.0 dan Budaya Kerja Bermutu
MAIRECLAIRE.COM
ilustrasi 

Oleh: Prof Drs Ahmad Suriansyah MPd PHD
Guru Besar Bidang Kepemimpinan dan Organisasi Pendidikan ULM

Kita saat ini berada di abad 21, yang disebut dengan revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak, mengutip pendapat Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum dalam bukunya “The Fourth Industrial Revolution”.

Dengan kata lain, kemampuan otak menjadi penting dalam menjawab perubahan hidup dan tantangan hidup. Untuk itu, menjadi manusia yang hidup di era ini menuntut banyak perubahan cara pandang, cara membaca, cara bersikap, cara mengambil tindakan, dan cara melakukan evaluasi secara komprehensif.

Ke depan, akan semakin banyak tantangan baru yang harus dihadapi dalam konteks menjadi manusia Indonesia yang mampu tegak berdiri dan kuat dalam menghadapi banyak tantangan hidup. Pandangan visioner perlu dilakukan agar tidak tertinggal jauh dengan yang lain. Pandangan untuk berpikir kritis terhadap pelbagai peluang dan kesempatan adalah sebuah hal niscaya.

Pandangan untuk terus membaca dan menghadirkan subyek diri yang tidak puas terhadap apa yang dipelajari, diperoleh, dan begitu seterusnya menjadi bagian utama dalam memaknai revolusi industri 4.0. Pada prinsipnya, yang dapat merubah dunia adalah manusia-manusia yang mampu memaksimalkan fungsi otak yang berlandaskan pada kemampuan membaca, berkomunikasi dan mengkomunikasikan apa yang dihasilkan oleh otak, bekerja sama dengan yang lain untuk menerjemahkan ide menjadi hal konkret, dan begitu seterusnya.

Revolusi industri 4.0 dapat disebut sebagai era kompetisi yang menuntut kecakapan hidup sehingga kita mampu secara mudah menyesuaikan dengan kepentingan dan kebutuhan zaman. Untuk itu, siapa yang selalu berpikir kerdil dan jauh dari pandangan maju, maka mereka harus siap untuk tersingkir dan disingkirkan.

Siapapun yang kemudian merasa paling hebat dan tidak mau belajar kepada yang lain akan dipastikan terjungkal di gelanggang kompetisi sebab mereka berpandangan bahwa pengetahuan, pengalaman hidup dan lain seterusnya dianggap sudah mencukup dan cukup. Berhenti untuk belajar dan merasa paling hebat di antara yang lain justru adalah sebuah bencana sebab di sinilah kehancuran karir atau kehilangan banyak kesempatan muncul.

Berhenti untuk membangun hubungan baik dengan yang lain sebetulnya menjadi pintu bagi hilangnya peluang kerja sama dalam konteks maksimalisasi fungsi otak secara konkret. Hidup di era revolusi industri 4.0 dapat dianalogikan seperti membangun jejaring laba-laba. Semakin banyak jejaring laba-laba yang dibuat, ini akan menghasilkan kemampuan dan kecakapan hidup di antara sesama sehingga akan mampu menghasilkan kerja dan kinerja yang jauh lebih baik daripada bekerja sendiri.

Jejaring laba-laba dalam konteks penguatan kapasitas diri di era 4.0 perlu dipahami sebagai kerangka untuk menebar energi, peluang, kesempatan, semangat bekerja lebih baik, dan begitu seterusnya sehingga jejaring laba-laba dalam konteks yang lebih fungsional sesungguhnya bermuara kepada keberhasilan yang dibangun di atas fondasi kerja bersama, kerja dengan energi dan pikiran positif, kerja dengan kekuatan kolektif dari pelbagai banyak individu yang tergabung dalam satu kelompok tim kerja.

Oleh sebab itu, terjemahan praktis dari revolusi industri 4.0 adalah semua manusia dengan pelbagai kebutuhan, kepentingan, disiplin hidup dan ilmu, dan begitu seterusnya perlu secara bersama-sama saling mem(ber)bagi pengalaman hidup untuk dapat menyelesaikan persoalan manusia dan bangsa secara bersama-sama. Era 4.0 perlu diterjemahkan sebagai ajakan moral dan kemanusiaan agar seluruh manusia mampu berpikir kolektif dan bekerja kolektif demi kepentingan yang lebih besar.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved