Opini Publik

Sindrom Ken Dedes

PERMASALAHAN kaum perempuan dari zaman ke zaman terus berubah. Kaum perempuan milenial tidak lagi harus berjibaku

Sindrom Ken Dedes
kompas.com
Neno Warisman 

OLEH: PATHURRAHMAN KURNAIN MA,

Dosen FISIP ULM (Direktur Program Laboratorium Riset Politik-Pemerintahan FISIP ULM)

PERMASALAHAN kaum perempuan dari zaman ke zaman terus berubah. Kaum perempuan milenial tidak lagi harus berjibaku dengan permasalahan yang dialami Kartini di era kolonial. Di abad 21 ini, praktik penindasan dan diskriminasi terhadap perempuan sudah mulai kehilangan relevansinya.

Kebutuhan dunia industri dan teknologi informasi sudah buta akan perbedaan gender, mendegradasi dominasi maskulinitas atas feminitas. Sehingga cepat atau lambat, suka atau tidak, kaum perempuan akan tampil di ranah publik dengan sendirinya secara alamiah. Bukankah telah kita saksikan, kaum perempuan sudah tidak aneh lagi menduduki posisi yang dulu dianggap tabu dan didominasi oleh laki-laki.

Di negeri ini, mulai dari Presiden, Kepala Daerah, Ketua DPRD, Pimpinan Perusahaan, Direktur Rumah Sakit, Pemilik Restoran hingga sopir bus telah diisi kalangan perempuan. Tidak terlalu berlebihan kiranya bila John Naisbitt dan Patricia Aburdune dalam “Megatrends 2000” terbitan tahun 1982, telah jauh-jauh hari meramalkan bahwa memasuki milenial kedua perempuan akan mengambil semua peran dalam berbagai lini kehidupan. Sehingga yang kita butuhkan saat ini adalah sudut pandang baru untuk melihat eksistensi kaum perempuan beserta problematikanya tersendiri.

Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh kaum perempuan milenial adalah kerawanan mengidap Cinderella Complex Syndrome (CCS). Collete Dowling, dalam “The Cinderella Complex: Women’s Hidden Fear of Independence” (1981), memaparkan bahwa wanita dengan sindrom ini memiliki keinginan kuat di bawah alam sadar mereka untuk terus diurus segala kehidupannya oleh laki-laki. Tidak hanya itu, mereka juga mengharapkan laki-laki untuk melindungi serta menyelesaikan permasalahan mereka dalam semua hal. Mereka menginginkan kehidupan yang mapan, secure dan ideal seperti dalam dongeng.

Sindrom ini menimbulkan ketergantungan yang sangat besar terhadap kaum adam, tidak percaya diri, juga tidak mandiri. Jika tidak diperangi, kondisi ini tidak hanya merugikan eksistensi perempuan Indonesia pada khususnya, tetapi juga membahayakan jati diri bangsa serta mengancam daya saing negara.

Jika perempuan Indonesia milenial gagal mengambil peran dan eksistensinya dalam lanskap percaturan global, itu berarti perempuan Indonesia telah menabung saham untuk kerutuhan bangsanya.

Ide yang saya tawarkan, untuk melawan sindrom Cinderella Complex adalah dengan memunculkan sindrom tandingan yang mengandung spirit positif.

Sindrom dilawan dengan sindrom, dimana kita bisa memunculkan ikon perempuan nusantara sebagai inspirasinya. Sindrom itu saya namakan ‘Ken Dedes Syndrome’. Siapa sosok Ken Dedes? Dalam Serat Pararaton (bahasa Kawi: “Kitab Raja-Raja”) diceritakan bahwa Ken Dedes adalah leluhur raja-raja Jawa, nenek moyang Wangsa Rajasa, trah yang berkuasa di Kerajaan Singasari dan Majapahit.

Selain dikenal sebagai perempuan yang memiliki pesona kecantikan luar biasa, ia menguasai Karma Amamadangi. Karma Amamadangi merupakan perbuatan atau tindakan yang memperoleh penerangan atau perilaku tercerahkan. Ken Dedes juga memiliki tanda istimewa, yakni Rahsya yang bersinar (prabha). Karena memiliki berbagai keistimewaan, Ken Dedes diberikan gelar Parameswari (Perempuan utama/yang paling unggul). Siapapun laki-laki yang mampu menikahinya, maka akan menjadi raja besar. Sebab Ken Dedes dipercaya sebagai pemberi legitimasi kekuasaan bagi laki-laki yang mampu menjadikannya istri.

Sindrom Ken Dedes ini bukan bertujuan untuk membawa kaum perempuan Indonesia bergerak mundur ke belakang. Sindrom Ken Dedes ini hanyalah pemantik filosofi berfikir agar setiap perempuan Indonesia mampu membentuk dan melahirkan pemimpin-pemimpin besar di berbagai sektor kehidupan. Inilah kemajuan revolusi berfikirnya, dimana tanggung jawab untuk melahirkan pemimpin besar bukan terletak di pundak satu atau dua orang perempuan saja, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh perempuan Indonesia.
Kaum perempuan harus dikembalikan kepercayaan dirinya, bahwa di tangan merekalah kunci keberhasilan jika kita ingin segera bertransformasi menjadi bangsa yang besar. Kaum perempuan harus benar-benar membuktikan bahwa dibalik keberhasilan laki-laki, terdapat peran strategis mereka di dalamnya.

Kita tentu sudah tidak asing dengan Hadist Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa “Wanita adalah tiang negara, jika baik wanitanya maka baiklah negaranya, dan jika rusak wanitanya maka rusak pula negaranya”.

Tidak berlebihan juga kiranya apa yang telah ungkapkan Bung Karno dalam bukunya yang berjudul Sarinah (1963). “Laki-laki dan perempuan itu seperti dua sayap dari seekor burung, jika dua sayap sama kuatnya maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setingi-tingginya”.

Walaupun secara kodrati kaum perempuan akan menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya, mereka harus mampu menjadi seorang istri yang ‘menghebatkan’ suaminya sekaligus ibu yang cekatan dalam mendidik dan mempersiapkan anak-anaknya sebagai generasi unggul. Sehingga akan tercipta generasi bangsa yang kompetitif dalam masyarakat global dan tangguh dalam menghadapi tantangan perubahan era disrupsi yang bergerak sangat cepat dan sulit untuk diprediksi.
Kaum perempuan milenial harus mampu menjadikan Ken Dedes sebagai tren/filosofi berfikir. Jika sindrom Ken Dedes ini menjadi viral dan terimplementasi dengan baik, maka reikarnasi kejayaan nusantara lama yang selama ini telah tenggelam bukanlah sebuah isapan jempol belaka. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved