Opini Publik

Merengkuh Damai Sejati (Refleksi Natal di Tahun Politik)

MENGAITKAN peringatan natal di tahun politik, memberi kesan seolah dipaksakan. Satu dan lain hal, natal sifatnya universal, berlaku di seluruh jagat

Merengkuh Damai Sejati (Refleksi Natal di Tahun Politik)
BPost Cetak
Marudut Tampubolon 

DR MARUDUT TAMPUBOLON SH MM MH, Advokat/Pemerhati Hukum dan Sosial Keagamaan

MENGAITKAN peringatan natal di tahun politik, memberi kesan seolah dipaksakan. Satu dan lain hal, natal sifatnya universal, berlaku di seluruh jagat raya. Natal ada, sudah berlangsung dua ribu delapan belas tahun. Sementara tahun politik hanya berlaku tahun ini, dan khusus di Indonesia. Tetapi argumentasi itu juga terkesan dipaksakan. Sebab bagaimanapun natal mengandung satu ajaran yang sifatnya lintas ruang dan lintas waktu. Peringatan natal dapat dikaitkan dan disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan faktor sosial lainnya.

Oleh karena itu tetap relevan, mengaitkan peringatan natal dengan peristiwa, bahkan sekecil apapun bagi yang merayakannya. Demikian pula dalam dimensi individual sekalipun, keberadaannya tetap relevan sebagai bagian dari ketaatan ajaran bagi siapa yang memercayai atau bahkan meyakininya.

Relevansi Kisah Natal
Satu diantara ritual peringatan natal adalah merefleksi kisah di seputar natal, yang berarti hari kelahiran itu dan yang telah lewat selama dua ribu delapan belas tahun yang lalu. Pembacaan kisah itu adalah dalam rangka menguatkan rohani dalam dimensi keimanan yang kudus. Tidak hanya itu, relevansi dimaksud khususnya dikaitkan dengan ajaran Yesus yang tak lekang oleh waktu, senantiasa up to date di sepanjang jaman.

Untuk itu, kisah Natal yang disajikan dalam Perjanjian Baru juga tidak terlepas dari dimensi politik. Tema politik secara implisit telah terdapat dalam silsilah Yesus pada permulaan Injil Matius, dengan menyebut sejumlah leluhur Yesus dari tokoh tokoh politik masa lampau. Bahkan pemasukkan empat perempuan non-Yahudi dalam deretan leluhur Yesus, mempunyai pesan tersendiri tentang pergulatan politik pada jamannya.

Dalam ajaran ini, kontekstualitas politik tidak terlepas dari aspek sosial yang lebih luas. Interaksi sesama, dalam sebuah komunitas senantiasa melahirkan pola politik yang sesuai untuk masanya. Saat itu, dari kisah para majus dari Timur, pengungsian ke Mesir karena Herodes ingin membunuh bayi Yesus serta pembunuhan sejumlah bayi tak berdosa, melanjutkan tema politik saat itu. Matius merefleksikan dengan mengatakan bahwa Allah tidak berpihak pada orang orang elit yang tinggal di istana, melainkan pada golongan miskin, orang asing, para pengungsi, dan orang orang dari golongan hambaNya yang sedang berkesempitan.

Hal itu merupakan peristiwa politik atau politisasi terhadap sejarah yang sesuai dengan tempat dan masanya. Berikutnya, Injil Lukas secara lugas mengontraskan antara kekaisaran Romawi yang berkuasa dan kemiskinan keluarga kudus Maria dan Yosef. Keluarga kudus terpaksa terhiba lunta di Betlehem, karena kepentingan kekaisaran Romawi yang mengadakan sensus penduduk dalam rangka menjaring wajib pajak. Hal ini berarti merupakan beban yang semakin berat.

Pada tataran politik lokal, peristiwa yang berhubungan dengan dekrit Kaisar Agustus yang mendorong Maria dan Yosef berangkat dari Nasareth ke Betlehem, merupakan peristiwa yang dimensinya adalah memberi kesempatan kepada para gembala, yaitu golongan yang paling rendah dalam strata sosial masyarakat Yahudi waktu itu, untuk menjadi pihak pertama yang mendengar tentang kelahiran Sang Juru selamat dan Pembawa damai sejati (Lukas 2: 11-14).

Pada dimensi pressure dalam dunia politik, hal ini merupakan cara Lukas mengkritik Kaisar yang menyebut dirinya sebagai juru selamat dan pembawa damai bagi Israel. Tetapi damai itu wujudnya berupa Pax Romana yang digaungkan keagungan Kaisar bagi Israel, yang praktiknya jauh dari kedamaian. Praktisnya, tidak lebih dari pendekatan keamanan yang dilakukan oleh tentara Romawi yang brutal dan penuh kekerasan. Jadi inti dimensi politis saat itu adalah melakukan perlawanan secara damai, untuk menciptakan kedamaian sejati bagi seantero negeri.

Sejarah mencatat bahwa peristiwa itu berhasil, kendati untuk beberapa saat, menghadirkan kedamaian. Pendekatan itu dipandang efektif dan efisien, membawa kedamaian bagi bangsa Israel yang waktu itu rawan konflik sosial. Kerawanan sosial yang penuh intimidasi dan kekerasan, serta dibayar mahal dengan pajak yang mencekik rakyat. Semua itu tiak terlepas dari emosi negeri Romawi yang rajin melakukan invasi ke luar negeri sebagai refleksi dari bentuk negara imperium.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved