Tajuk

Peringatan Lebih Dini

ANCAMAN bencana berupa tsunami akibat gempa bumi dan aktivitas gunung berapa di Indonesia masih mengancam penduduk negeri ini.

Peringatan Lebih Dini
(Twitter @Sutopo_PN)
Anak Gunung Krakatau meletus. 

ANCAMAN bencana berupa tsunami akibat gempa bumi dan aktivitas gunung berapa di Indonesia masih mengancam penduduk negeri ini. Terutama yang berada di wilayah-wilayah patahan lempeng bumi.

Bencana gelombang pasang berupa tsunami terus memakan korban sejak gempa Aceh di 2004 hingga terakhir Palu dan Banten-Lampung, makin membuat siapa pun menjadi waspada. Khususnya warga yang berada di pesisir pantai.

Tapi, berbeda dengan tsunami sebelumnya, bencana yang melanda wilayah Banten dan Lampung dipastikan lebih disebabkan erupsi yang terjadi pada letusan Gunung Anak Krakatau. Dan ini luput dari pantauan siapa pun.

Namun, baik tsunami yang terjadi Palu dan Banten-Lampung, ada dua hal yang membuat jumlah korban menjadi sangat besar. Yaitu ketiadaan peringatan dini akan terjadinya tsunami, meski untuk Palu sempat ada peringatan namun kemudian dicabut.

Ketidakberfungsian alat pendeteksi tsunami di wilayah Palu dan sekitarnya, disinyalemen sebagai penyebab ketidakpastian adanya bencana gelombang pasang itu menyerang. Akibatnya, setelah peringatan adanya tsunami dicabut, ternyata bencana sebenarnya malah terjadi.

Sedang di Banten dan Lampung, tak ada satu pun peringatan akan ada bencama tsunami bakal menerpa pesisir kedua daerah tersebut, karena Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya tidak mendeteksi adanya gempa yang menjadi potensi penyebab tsenami.

BNPB beralasan, mereka tidak memiliki alat yang bisa memantau adanya longsoran gunung berapa bawah laut yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau, sehingga menimbulkan gelombang tsunami ke pesisir Banten dan Lampung saat kondisi air sedang pasang tinggi di kedua wilayah tersebut.

Dari peristiwa tsunami Palu dan Banten-Lampung, satu menjadi catatan paling penting adalah ketiadaan peralatan pemantau tsunami dan longsoran gunung bawah laut. Padahal, sebagai wilayah yang menjadi ‘cincin api’ Asia, Indoneia seharusnya memiliki kelengkapan tersebut.

Belajar dari kasus-kasuh gempa yang disertai tsunami, kesiapsiagaan peralatan pemantau, menjadi salah satu faktor utama bagi BNPB guna mengantisipasi bencana lebih besar menimpa wilayah rawan.

Namun, sebelum semua peralatan tersebut mampu terpenuhi, kewajiban memaksimalkan perangkat yang ada juga menjadi keharusan bagi aparat BNPB agar mereka bisa memberikan peringatan dini guna mengelinimasi jumlah warga yang menjadi korban.

Minimnya peralatan dan tidak berfungsinya sebagai perangkat lain, diharapkan tidak menjadi pengendur semangat anggota BNPB agar bisa bekerja maksimal. Malah diharapkan menjadi pemacu semangat mereka memberikan pelayanan terbaik bagi bangsa ini (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved