Berita Kabupaten Banjar

Jalan Umum Paramasan Gelap Gulita, Tahun Depan Disperkim Pasang 100 Tiang PJU

Paramasan tak sekadar belum terjamah jaringan telepon nirkabel. Lebih dari itu juga masih gelap gulita akibat minimnya fasilitas jaringan listrik.

Jalan Umum Paramasan Gelap Gulita, Tahun Depan Disperkim Pasang 100 Tiang PJU
HO/Disperkim Kabupaten Banjar
Beginilah kondisi aksesibilitas menuju Desa Paramasanatas kabupaten Banjar. Badan jalan cuma berupa perkerasan yang di beberapa tempat hancur dan berubah menjadi kubangan berlumpur. 

Listrik tenaga surya, sebutnya, sangat cocok untuk mengatasi masalah penerangan di wilayah terpencil seperti di wilayah Paramasan. Pasalnya jika membangun jaringan listrik konvensional (kabel), memerlukan biaya investasi yang besar karena perlu pengadaan bahan yang banyak sepeti tiang dan kabel listrik.

Terkait bantuan listruk tenaga surya, sebutnya, Kementerian ESDM hanya meminta adanya sejenis surat pernyataan dari manajemen PT PLN bahwa setidaknya dalam rentang waktu lima tahun tidak memprogramkan perluasan jaringan di wilayah sasaran. "Nah, ini yang sulit dipenuhi karena pihak PLN kurang sependapat," tandas Kartolo.

Baca: Daftar Uang Rupiah yang Tak Berlaku Lagi Mulai 2019, Tukar Segera Pakai Cara Ini!

Terpisah, kalangan warga Paramasanatas sangat menantikan adanya penerangan listrik negara masuk ke kampung mereka. Pasalnya sejak berpuluh tahun silam hingga sekarang hanya mengandalkan penerangan secara mandiri yakni menggunakan mesin generator (genset).

Itu pun bagi warga yang sanggup membeli mesin genset dan mampu membiayai cost operasionalnya. "Sedangkan harga bensin di kampung kami mahal hingga Rp 13 ribu seliternya. Ratusan ribu duitnya sebulan untuk menghidupi genset," ucap Amat, warga Paramasanatas, kemarin.

Karena itu dirinya dan warga kampungnya sangat mendambakan masuknya jaringan listrik PLN. Jika listrik telah masuk diyakini ekonomi warga juga bakal meningkat karena praktis bakal banyak usaha yang bisa dibuka ketika ada fasilitas listrik.

Kaur Pemerintahan Desa Paramasanatas, Bahrin, mengatakan jika dikalkulasi biaya opersional mesin genset dalam sebulan menyita uang sekitar Rp 500 hingga 780 ribu. Ini tergantung lama pengoperasian dan banyak sedikitnya perlengkapan listrik yang dihidupkan atau digunakan.

Baca: Perkembangan Terkini Gunung Anak Krakatau, Debu Vulkanik 12 Km, Bisa Tsunami Selat Sunda Lagi?

"Harga bensin di kampung kami memang mahal karena akses menuju ke sini memang susah. Hukum ekonomi pasti berlaku, apalagi ongkos angkut pun tentu juga mahal. Tak heran jika harga-harga barang di sini juga mahal," sebutnya.

Ia berharap pemerintah terus meningkatkan perhatian terhadap keterbelakangan di Paramasanatas. Pasalnya, fasilitas umum di kampungnya sangat minim. Mulai ketiadaan jaringan listrik PLN, sulitnya akses jalan hingga ketiadan jaringan telepon selular. (banjarmasinpost.co.id/roy)

Penulis: Idda Royani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved