Tajuk

Tamatkan Mafia Bola

Sejak November lalu perkara serupa ramai di Indonesia. Mengemuka perihal pengaturan skor di Liga 2 dan juara settingan di Liga 1

Tamatkan Mafia Bola
DOK. SATGAS ANTIMAFIA BOLA
Dwi Irianto alias Mbah Putih saat ditangkap tim Satgas Antimafia Bola di Yogyakarta, Jumat (28/12/2018). 

PADA 2006 silam, publik pencinta bola dunia terperangah ketika jaksa di Italia mengungkap skandal di Serie A, yang saat itu merupakan kompetisi nomor wahid di dunia. Beberapa petinggi klup top terbukti melakukan kerja sama dengan pejabat FIGC –PSSI-nya Italia– guna menentukan wasit yang memimpin pertandingan tim terkait.

Singkat cerita, akhirnya beberapa klub disanksi. Hukuman paling berat buat Juventus, yakni gelar juara Serie A 2005 dan 2006 dilucuti. Dilarang mengikuti Liga Champions UEFA 2006-07. Paling menyedihkan, skuat berjuluk si Nyonya Besar itu degradasi ke Serie B!

Dalam situasi berbeda, sejak November lalu perkara serupa ramai di Indonesia. Mengemuka perihal pengaturan skor di Liga 2 dan juara settingan di Liga 1. Bahkan kemudian menggelinding pada Timnas Indonesia yang tampil di final Piala AFF 2010. Konon ada tiga pemain disuap bandar judi, sehingga Malaysia menang mudah 3-0 pada leg pertama (Padahal mereka dibantai Indonesia 5-1 di babak penyisihan).

Walaupun agak terlambat, PSSI melalui Komisi Disiplin (Komdis) menjatuhkan sanksi. Di antaranya hukuman berupa larangan seumur hidup berkecimpung di persepakbolaan Indonesia kepada Bambang Suryo. Mantan manajer klub Liga 3, Persekam Metro FC itu dianggap terbukti menawarkan jasa kepada PS Ngada agar bisa naik kasta ke Liga 2. Imbalannya Rp 100 juta.

Beberapa hari sebelumnya, Komdis mencoret PS Mojokerto Putra (PSMP) dari daftar peserta Liga 2 2019. Selain itu, satu strikernya, Krisna Adi dilarang bertanding dalam kompetisi resmi PSSI untuk selamanya. Dia diyakini sengaja tidak mencetak gol saat mengeksekusi tendangan penalti, demi membantu tim lain agar lolos ke semifinal Liga 2018.

Saat kasus ini makin ramai ditanggapi, giliran Satgas Antimafia Bola bentukan Polri yang beraksi. Mereka menangkap Johar Lin Eng di Bandara Halim Perdana Kusuma, Kamis (27/12).

Anggota Exco PSSI dan Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah tersebut diduga terlibat dalam kasus pengaturan skor sepak bola di Indonesia. Polisi menindaklanjuti keterangan Bupati Bajarnegara, Budhi Warsono beserta anaknya Lasmi Indrayani yang menjadi manajer Persibara Banjarnegara, saat tampil dalam satu acara di televisi swasta. Pihak tim Liga 3 itu dimintai uang Rp 500 juta untuk menjadi tuan rumah fase gugur. Total Persibara menghabiskan uang hingga Rp 1,3 miliar.

Sebelum Johar, polisi lebih dulu mengamankan mantan anggota komisi wasit Priyanto dan juga Anik Yuni Artika Sari yang merupakan anak Priyanto.

Pintu masuk telah terbuka. Sosok vital telah didapat. Inilah saatnya bagi Indonesia mengakhiri aksi mafia di sepak bola. Basmi hingga ke akar-akarnya. Jangan segan ketika pada perkembangannya diadang tokoh penting. Masyarakat pasti mendukung, demi sepak bola Indonesia yang hebat dan bermartabat. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved