Yayasan Adaro Bangun Negeri

YABN dan Kelompok Rumpun Bambu Haruai Tanam 1000 Bambu di Bantaran Sungai Tabalong

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, selama tahun 2018, terjadi ribuan bencana alam yang dialami oleh Indonesia

YABN dan Kelompok Rumpun Bambu Haruai Tanam 1000 Bambu di Bantaran Sungai Tabalong
YABN
YABN dan Kelompok Rumpun Bambu Haruai Tanam 1000 Bambu di Bantaran Sungai Tabalong. Saat penyerahan Bambu dari kelompok tani kepada direktur YABN Okty Damayanti 

BANJARMASINPOST.CO.ID, TANJUNG - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, selama tahun 2018, terjadi ribuan bencana alam yang dialami oleh Indonesia, yang terbaru adalah Tsunami di Anyer yang menelan ratusan korban jiwa.

Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah korban meninggal dunia dan hilang akibat bencana pada tahun 2018 terhitung paling besar sejak satu dekade terakhir.

Selain menimbulkan sejumlah kerusakan, bencana yang terjadi juga menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar.

BNPB mencatat ada 3.548 orang meninggal dunia dan hilang, 13.112 orang luka-luka, 3,06 juta jiwa mengungsi dan terdampak bencana, 339.969 rumah rusak berat, 7.810 rumah rusak sedang, 20.608 rumah rusak ringan, dan ribuan fasilitas umum rusak.

YABN dan Kelompok Rumpun Bambu Haruai Tanam 1000 Bambu di Bantaran Sungai Tabalong
YABN dan Kelompok Rumpun Bambu Haruai Tanam 1000 Bambu di Bantaran Sungai Tabalong (YABN)

Tanah longsor menjadi salah satu bencana yang paling sering terjadi di Indonesia, di Kalimantan Selatan sendiri bencana tanah longsor acap kali terjadi di daerah aliran sungai (DAS) yang disebabkan oleh erosi arus sungai dengan lereng yang telah dialih fungsi sebagai lahan produksi ataupun pemukiman yang menjadikannya kehilangan penahan alami dinding sungai.

YABN dan Kelompok Rumpun Bambu Haruai Tanam 1000 Bambu di Bantaran Sungai Tabalong
YABN dan Kelompok Rumpun Bambu Haruai Tanam 1000 Bambu di Bantaran Sungai Tabalong (YABN)

Berdasarkan hasil pengkajian risiko bencana di Kabupaten Tabalong, total luasan lahan berpotensi terdampak longsor seluas 359,36 Km² tersebar di sejumlah kecamatan dan masuk dalam kategori bahaya sedang.

Di desa Halong Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong, Yayasan Adaro Bangun Negeri (YABN) bersama dengan kelompok Rumpun Bambu desa Halong Haruai melakukan penanaman 1000 bambu di bantaran sungai Tabalong sebagai upaya jangka panjang meminimalisir efek erosi dari sapuan arus sungai serta menjaga ekositem tanah dan air.

Kepala Desa Halong Haruai, Husaini mengungkapkan, desanya menjadi wilayah yang dikelilingi oleh sungai sehingga kemungkinan pengurangan lahan dapat terjadi setiap tahunnya bila tidak dilakukan penanggulangan terhadap longsor.

“Kami turut berterimakasih terhadap upaya yang dilakukan YABN dalam program konservasi lingkungan dengan penanaman 1000 bambu Betung Hitam di bantaran sungai desa kami, sehingga dampak longsor dapat dikurangi. Selain itu di masa mendatang bambu dapat dimanfaatkan untuk pembuatan furniture yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat," ujar Husaini.

YABN dan Kelompok Rumpun Bambu Haruai Tanam 1000 Bambu di Bantaran Sungai Tabalong
YABN dan Kelompok Rumpun Bambu Haruai Tanam 1000 Bambu di Bantaran Sungai Tabalong (YABN)

Okty Damayanti, Direktur YABN mengungkapkan, kegiatan penanaman yang dilakukan YABN menjadi upaya menjaga kelestarian lingkungan dengan melibatkan masyarakat secara langsung melalui pembibitan dan penanaman bambu dilingkungannya.

“Melalui kegiatan ini kami berharap agar ekosistem tanah dan air di desa Halong menjadi lebih baik dengan penanaman bambu ini, selain itu tentunya dengan kegiatan ini dapat mengurangi dampak erosi yang terjadi disejumlah wilayah rawan longsor yang ada di Kabupaten Tabalong dan secara tidak langsung bambu dapat menjadi sektor ekonomi tambahan bagi masyarakat dan kelompok,” jelas Okty.

Kelompok Rumpun Bambu dibentuk YABN sejak tahun 2015, sebelumnya sudah ada 5000 bambu yang ditanam YABN bersama masyarakat di sejumlah di Kabupaten Tabalong dan Balangan dengan harapan mengurangi potensi terjadi bahaya longsor di sejumlah area serta pelatihan pembuatan kerajinan dan furniture dari bambu sebagai upaya meningkatkan taraf ekonomi masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan di area operasional PT Adaro Indonesia.(adv/*)

Penulis: Dony Usman
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved