Jendela

Hawking, Kita dan Waktu

Hari ini adalah akhir 2018, besok adalah awal 2019. Kita tentu tidak bisa menjawab, sampai berapa tahun lagi bumi yang kita pijak ini bertahan.

Hawking, Kita dan Waktu
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman
Rektor UIN Antasari

PADA 1988, Prof. Stephen Hawking menerbitkan buku berjudul A Brief History of Time (Sejarah Singkat Waktu). Buku ini ternyata laris manis. New York Times memasukkannya sebagai salah satu buku laris selama 147 minggu, sedangkan Times di London mempertahankannya selama 237 minggu. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa dan telah terjual lebih dari 10 juta buah di seluruh dunia.

Mengapa? Mungkin karena Stephen Hawking adalah ilmuwan yang cacat fisik sehingga mengundang simpati. Tetapi yang lebih mungkin adalah karena buku itu mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan besar. Bagaimana alam semesta ini ada? Apakah ada permulaannya? Dari mana datangnya? Adakah hubungan antara ruang dan waktu? Hawking mencoba menjawab semua ini melalui teori-teori fisika.

Menurut Hawking, sejak abad ke-19, sains menjadi sangat teknis. Para ilmuwan hanya “sibuk dengan pengembangan teori-teori baru yang menjabarkan seperti apa alam semesta sehingga tak sempat lagi bertanya mengapa.” Meski akhirnya Hawking juga tidak bisa menjawab tuntas pertanyaan ini, dia berharap kelak akan ada teori padu yang lengkap, yang membuat kita “mengetahui isi pikiran Tuhan.”

Pada 14 Maret 2018 lalu, Hawking wafat di usia 76 tahun. Menurut Times, sang ilmuwan mengaku tidak percaya pada adanya kehidupan sesudah mati. Tubuh kita ini baginya laksana komputer. Kalau sudah rusak, tidak akan ada fungsinya lagi. Dalam sebuah wawancara dia juga mengaku sebagai seorang ateis dalam arti dia tidak percaya akan Tuhan yang pribadi. Tuhan baginya adalah hukum alam itu sendiri.

Sebagai orang awam dalam kajian fisika, A Brief History of Time tidak semua saya pahami. Namun saya tergoda ingin tahu, apa pandangan fisikawan tentang waktu? Hawking menjelaskan bahwa teori Einstein mengenai relativitas ruang dan waktu menyiratkan alam semesta ini punya permulaan dan mungkin juga akhir. Teori Hawking sendiri tentang ledakan besar sebagai awal alam semesta juga demikian.

Ya, awal dan akhir sangat akrab dengan kehidupan kita. Hari ini adalah akhir 2018, besok adalah awal 2019. Kita tentu tidak bisa menjawab, sampai berapa tahun lagi bumi yang kita pijak ini dan seluruh alam semesta akan bertahan? Akankah terjadi kehancuran? Kita juga tidak tahu, sebelum perhitungan tahun ditetapkan, berapa lama alam semesta ini telah ada? Ataukah memang sudah ada tanpa awal?

Bagi kaum beriman, Tuhan adalah pencipta alam semesta. Artinya, alam ini berawal, dan juga bisa berakhir, meskipun sains modern belum bisa memastikan. Ilmu manusia masih terlalu sedikit. Namun yang pasti adalah, hidup kita memiliki awal dan akhir. Kita lahir, kita tumbuh, kita dewasa, dan akhirnya kita mati. Sampai hari ini, belum ada satu pun manusia yang terus-menerus hidup. Semua mati!

Jika Hawking menulis tentang sejarah singkat waktu, maka sebenarnya sejarah singkat itu adalah hidup kita. Saya pandangi rambut saya. Ternyata uban makin memutih, dan rambut makin menipis. Saya lihat dua anak saya. Dulu masih bayi, sekarang sudah gadis. Ketika ayah kami meninggal, adik bungsu saya masih kelas IV SD. Sekarang, dia sedang menempuh S-2. Semua berlalu begitu cepat dan terasa singkat.

Jika Hawking mengeluh bahwa para ilmuwan hanya sibuk mengembangkan teori ‘cara kerja’alam semesta dan lupa tentang mengapa alam ini ada, maka kita pun banyak yang sibuk mengejar kekayaan, kekuasaan dan ketenaran tanpa menanyakan mengapa. Padahal, ketika pertanyaan mengapa itu diabaikan, manusia akan hidup tanpa makna dan tujuan. Hidup seolah kardus indah tanpa isi.

Dalam otobiografinya berjudul My Brief History, pada usia 21 tahun Hawking mengaku nyaris putus asa karena menderita penyakit yang membuatnya lumpuh. Tetapi semangat hidupnya bangkit ketika dia yakin akan berjuang untuk menjadi ilmuwan yang bermanfaat. Seorang yang cacat, katanya, harus berkonsentrasi pada hal-hal yang bisa dia lakukan dan tidak menyesali apa yang tak bisa dia lakukan.

Alhasil, 2018 segera berakhir. Dalam hidup yang singkat ini, jika seorang yang mengaku ateis seperti Hawking saja terdorong memikirkan mengapa dan untuk apa dia hidup, bagaimana dengan kita yang konon manusia beragama? (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved