B Focus Economic

Begini Respon BPR di Kalsel Menanggapi Maraknya Tekfin P2P

Selain Bank BPR Paringin, Bank BPR Batola juga menganggap Tekfin P2P belum menjadi ancaman karena kepercayaan masyarakat masih lebih condong pada BPR.

Begini Respon BPR di Kalsel Menanggapi Maraknya Tekfin P2P
BPost Cetak
B Focus Economic Selasa (1/1/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Selain Bank BPR Paringin, Bank BPR Batola juga menganggap Tekfin P2P belum menjadi ancaman karena kepercayaan masyarakat masih lebih condong pada BPR.

Direktur Utama Bank BPR Batola, Bahrani menjelaskan, meningkatnya pengetahuan masyarakat berkat berbagai program edukasi dan literasi yang menyadarkan masyarakat besarnya risiko memilih layanan keuangan dan kredit dari penyedia yang kurang dipahaminya.

"Apalagi masyarakat juga tahu Tekfin juga banyak yang tidak resmi, jadi masih banyak yang lebih percaya ke BPR yang jelas merupakan perusahaan milik daerah," kata Bahrani.

Sementara itu, Direktur Utama BPR Multidhana Bersama, M Noor HR mengaku walaupun saat ini belum rasakan tekanan dari maraknya Tekfin P2P, namun hal tersebut menurutnya bisa menjadi ancaman di waktu yang akan datang.

Baca: Ketika Mahfud MD Dapat Tawaran Endorse untuk Promo Produk di Medsos, 1 Twit Rp 4 Juta

Baca: Tak Merasa Terancam dengan Teknologi Finansial, BPR Justru Sulit Bersaing dengan ini

Baca: Perbedaan Maia Estianty-Irwan Mussry dan Mulan Jameela-Ahmad Dhani Saat Rayakan Tahun Baru 2019

Baca: Cara Wudhu Sandiaga Uno saat Kampanye Pilpres 2019 Dikomentari Mahfud MD, Netizen Gaduh

Bukan menentang perkembangan Tekfin, namun M Noor khawatir perkembangan teknologi yang semakin maju dan mudahnya akses justru banyak masyarakat yang salah memilih Tekfin P2P tak berizin.

"Jadi selain regulasi tapi penindakan bagi yang tidak berizin juga harus ditegakkan oleh pemerintah termasuk dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK)," kata M Noor.

Apalagi menurutnya tantangan saat ini juga datang dari kondisi ekonomi masyarakat dimana belum begitu bergeliatnya perekonomian khususnya segmen kecil dan mikro dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Walau demikian, menurut M Noor, hingga jelang akhir Tahun 2018, BPR Multidhana Bersama dapat genjot pertumbuhan kredit sebesar 10 persen.

Segmen ekonomi mikro usaha perdagangan menjadi nasabah debitur yang dominan di BPR Multidhana Bersama.

Dari sisi lokasi nasabah debitur, 60 persen nasabah debitur BPR Multidhana Bersama berada di Kabupaten Banjar, sisanya di Banjarmasin dan beberapa daerah lainnya.

Mayoritas dari kredit yang disalurkan pun diklaim sebesar 90 persen merupakan kredit produktif, sedangkan sisanya kredit konsumtif.

M Noor berharap pemerintah bisa mengajak BPR-BPR termasuk di Kalsel untuk bisa ikut salurkan KUR.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved