Opini Publik

Kemuliaan Menjadi Pelayan Umat (Catatan Hari Amal Bakti Kemenag)

Seperti kita ketahui bersama bahwa setiap tanggal 3 Januari Kementerian Agama RI memperingati Hari Amal Bakti (HAB) yang ke-73 di 2019 ini

Kemuliaan Menjadi Pelayan Umat (Catatan Hari Amal Bakti Kemenag)
kemenag.go.id
Kantor Kementerian Agama. 

OLEH: AHMAD SYAWQI, Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

Seperti kita ketahui bersama bahwa setiap tanggal 3 Januari Kementerian Agama RI memperingati Hari Amal Bakti (HAB) yang ke-73 di 2019 ini dengan tema utamanya adalah “Jaga Kebersamaan Umat”. Sedang tagline yang digunakan yaitu “Bersih Melayani”.

Sebuah lembaga layanan publik seperti perbankan, pajak, hotel termasuk juga perpustakaan, akan dipandang baik dan profesional ketika pelayanannya bagus dan mengesankan. Yang membedakan antara perpustakaan mewah (exclusive) dan perpustakaan umum bisa kita lihat dari segi pelayanannya. Tentunya kita tahu kalau perpustakaan yang mewah akan memberikan pelayanan extra dan super. Sehingga memberikan kesan yang melekat di hati pelanggan, dan nantinya perpustakaan itu akan menjadi tempat favorit yang sering di kunjunginya Oleh karena itu, pimpinan lembaga lebih ketat dalam memilih seorang pelayan yang handal, master dan profesional.

Apa yang bisa dilakukan oleh pelayan selain memberi? Seorang yang menyadari bahwa ia tengah melayani, berarti sedang mengeruk kebahagian dan sedang bermandikan dan kesejatian. Tentunya tidak ada yang tidak bisa kita berikan lewat pekerjaan kita. Sebagai pimpinan, direktur, manajer bahkan seorang pustakawan yang sehari-sehari melayani para pemustaka, akan banyak yang bisa diberikan untuk semua orang. Akan banyak yang dilakukan untuk membuat orang lain bahagia. Apa pun pekerjaan kita. “Kebahagiaan lebih sering terjadi dalam kehidupan yang memberi, dibandingkan kehidupan yang meminta”.

Kadang kita menyangkal bahwa kita ini sesungguhnya seorang pelayan? Siapa pun kita adanya. Kadang orang mencak-mencak, berang dikatakan pelayan. Banyak orang yang tidak senang dikatakan pelayan. Seorang pejabat pun tidak begitu suka dikatakan pelayan masyarakat, ia memilih disebut pegawai pemerintah. Padahal seorang polisi adalah pelayan bagi masyarakatnya. Seorang guru adalah pelayan bagi muridnya, seorang dokter, menjadi pelayan bagi pasienya. Seorang pustakawan, ia menjadi pelayan bagi para pemustaka yang datang mencari informasi di perpustakaan. Sayang, mereka semua melupakan kemulian dari sifat melayani. Padahal Tuhan sendiri Allah SWT melayani manusia tiada henti. Oleh karena itu, ia Maha Melayani.

Menggapai kemandirian dan kesejatian adalah dengan lantang mengatakan bahwa “aku memang seorang pelayan”, dan sangat berterima kasih apabila diberi kesempatan untuk melayani orang lain lebih banyak lagi. Kita telah menyadari kemulian seorang pelayan. Kita telah menemukan kekayaan yang dikandung dari tindakan melayani. Dan kita juga berhasil membuka hijab atau tirai yang selama ini menutupi kita, yaitu kebahagiaan sejati yang banyak kita dapat dari memberi, bukan meminta.

Menjadi seorang pelayan merupakan tindakan besar yang tidak semua orang mampu melakukannya. Tentunya karena tindakan itu memerlukan penghapusan ego yang berkerak dalam diri kita. Menjadi seorang pelayan adalah kemuliaan, dan itu yang menyebabkan kita terus bermandikan kebahagiaan. Menjadi seorang pelayan adalah bagaimana kita menerapkan sifat-sifat Tuhan yaitu Rahman (Pengasih) dan Rahim (Penyayang) Nya Allah SWT kepada semua hamba-Nya. Kita akan menjadi kaya melebihi seluruh harta yang pernah kita miliki. Kekayaan kita akan melimpah ruah dengan keberaniaan kita menempuh jalan pelayanan ini. Karena itu, hakekat kekayaan seseorang dikatakan kaya, ketika dia memiliki kekayaan hati yang mulia sebagai sebuah sumber kebahagiaan yaiu akhlak mulia.

Kemuliaan Sifat Melayani
Memberikan pelayanan terbaik kepada umat manusia adalah pekerjaan yang sangat mulia dan merupakan pintu kebaikan bagi siapa saja yang mau melakukannya. Dalam Alquran dalam salah satu ayat yang berbunyi : “…dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. al-Maidah : 2).

Melalui ayat di atas Allah memerintahkan kepada kita untuk saling menolong didalam koridor “mengerjakan kebajikan dan takwa” dan Allah melarang sebaliknya. Jika kita melanggar ketentuan Allah maka hukuman akan diberikan dan “Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. Jadi interaksi itu boleh dilakukan kapanpun dan dengan siapapun selama tidak melanggar batasan diatas.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan sahabat Jabir bin Abdillah : “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya”. Hadits ini memerintahkan kepada kita agar berusaha untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, bahkan beliau menjadikan “bermanfaat bagi sesama” sebagai parameter baik tidaknya kualitas iman seseorang.

Sahabat Abu Hurairah RA meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi : “Barang siapa menghilangkan (memberikan solusi) kesukaran seorang mukmin di dunia maka kelak Allah akan menghilangkan kesukarannya di hari kiamat. Barang siapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang sedang mengalami kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusan duniawi dan akhiratnya. Dan barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (keburukannya) di dunia dan akhirat, dan Allah akan senantiasa membantu hamba-Nya selama dia mau membantu saudaranya.”

Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang keutamaan yang didapatkan seseorang jika dia mau memberikan bantuan dan pelayan kepada sesama demi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Baik pertolongan dalam bidang materi, berbagi ilmu, bahu membahu mengerjakan sesuatu, memberikan nasehat dan masih banyak lagi. Dan yang juga perlu kita tegaskan disini bahwa hadits ini melarang kita untuk mengumbar “aurat (kejelekan)” orang lain, karena konsekwensi mengumbar “aurat” orang lain adalah Allah akan membuka “aurat” kita di hadapan makhluknya.

Hadits berikutnya adalah tentang standar layanan yang “harus” diberikan kepada sesama. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang sampai dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri”.(HR. Bukhori). Inti hadits ini adalah “Perlakukan saudara Anda seperti Anda memperlakukan diri Anda sendiri”. Kita pasti ingin diperlakukan dengan baik, kita pasti ingin dilayani dengan baik, kita pasti ingin dilayani dengan cepat, maka aplikasikan keinginan Anda tersebut ketika Anda melayani orang lain.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa jika kita mau menelaah lebih jauh ajaran Islam kita akan banyak banyak sekali nilai-nilai interaksi sosial yang saat ini sedang digalakkan diberbagai instansi pemerintahan maupun swasta. Hal ini bukan merupakan sesuatu yang sulit untuk diterapkan, yang dibutuhkan adalah rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya agar nilai-nilai interaksi sosial itu bisa diterapkan secara menyeluruh. Jika agama kita mempunyai produk lengkap, kenapa kita musti mengimpor produk buatan orang lain? Penting kita ketahui bahwa : “Berbuat baiklah engkau (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu”. (QS. al-Qashas : 77). (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved