Fikrah

Muhasabah Setiap Waktu

TAHUN baru Masehi disambut mendunia, tidak tergeser oleh tradisi lainnya. Menanti pukul 00.00 manusia tumpah ruah keluar rumah

Muhasabah Setiap Waktu
banjarmasinpost.co.id/rahmadhani
KH Husin Naparin 

OLEH: KH HUSIN NAPARIN, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

TAHUN baru Masehi disambut mendunia, tidak tergeser oleh tradisi lainnya. Menanti pukul 00.00 manusia tumpah ruah keluar rumah, kegiatannya umum bersifat hura-hura, main petasan dan kembang api serta hiburan hot lainnya; jika dilihat dengan kacamata agama ujungnya mesti maksiat, minimal menyia-nyiakan waktu.

Hotel-hotel banua meningkatkan hiburan, ada hotel menyuguhkan acara Men in Black, pengunjung harus berpakaian hitam; ada Majestic Forest, pengunjung dibuat seperti berada di dalam hutan, ada Pesta 1001 Malam Non Stop; muncul ungkapan indah Happy New Year, tidak ada ungkapan Sad New Year, kendati berbarengan terjadi berbagai kejadian membawa duka nestapa.

Para ulama miris akan keselamatan umat berupaya mengingatkan, mengajak pada pisah-sambut tahun Masehi, agar introspeksi diri (muhasabah), sebagai upaya mengalihkan umat dari kondisi buruk kepada kegiatan bernuansa agama, seperti gebyar selawat di panggung terbuka, iktikaf di masjid, diisi tausiyah dan dzikir; namun ada yang mengeritik, dikatakan membuat bid’ah.

Akhir dan awal tahun Masehi, seyogianya bagi umat beriman berlalu begitu saja, karena tidak ada hubungan dengan agamanya dan kehidupan islaminya.

Umat Islam menggunakan kalender Masehi harus cerdas, sekadar memudahkan pergaulan dengan pihak lain dalam berbagai transaksi ekonomi dan kesepahaman lainnya, yang tak terelakkan.

Muhasabah dalam Islam tidak mesti dilakukan pada akhir dan awal tahun Masehi, tetapi dalam berbagai kesempatan detik-detik waktu yang dilalui oleh seorang hamba Allah, yang mendapat nikmat hidup lewat denyutan nafas yang dia tarik dan hembuskan atau lewat detakan jantungnya, bisa jadi dia hanya bergembira menerima nikmat, tetapi lupa kepada Mun’im (Allah Pemberi Nikmat).

Syekh Syihabuddin Al-Qaliyubi dalam kitabnya An-Nawadir, menceritakan ada seseorang mengaca diri pada cermin, dia tersentak melihat sehelai uban di jenggotnya, “Oh, sudah tua rupanya aku ini,”

Ia pun menelusuri rentangan waktu hidupnya dan tersadar 20 puluh tahun pernah taat, tetapi 20 tahun pula dalam maksiat, jika aku dipanggil Allah saat ini, berarti aku zero di sisi-Nya.
Ia pun menangis dan memohon petunjuk (huda) kepada Sang Pemberi umur, untuk diberi taufik dapat mengisi sisa umur yang misterius dengan kebaikan.

Muhasabah, dapat dilakukan pada saat berpakaian dan saat keluar rumah.

Syekh Mustafa Lutfhi al-Manfaluti menulis dalam bukunya An-Nazharat dengan judul al-Gad (Hari Esok), isinya antara lain, Ingat, kata beliau, “jika anda melekatkan pakaian ke badan, anda tidak tahu apakah pakaian itu nantinya anda sendiri yang melepaskan ataukah dilepaskan pemandi mayat, jika anda keluar rumah melangkah kaki, anda tidak tahu itu apakah langkah terakhir, bisa jadi waktu pulangnya anda digotong dengan tandu, karena sudah tidak bernyawa.”

Muhasabahlah dengan menoleh ke belakang kehidupan anda, ada bintik-bintik hitam? Basuhlah dengan tobat. Cicipi masa kini dengan tafakkur, jika dalam nikmat pupuk dengan syukur, jika dalam bencana siram dengan sabar.

Tataplah masa depan dengan tadbir (rancangan) terpuji, positif thinking untuk mencari ridha Allah dan gapai dengan upaya dan doa; semoga taufik-Nya menyertai anda. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved