Tajuk

Saatnya Bawang Lokal Tampil

GELOMBANG tinggi di Laut Jawa akibat cuaca ekstrem sejak pertengahan Desember 2018 hingga awal Januari 2019 menyebabkan kapal pengangkut bawang

Saatnya Bawang Lokal Tampil
Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Maulana
Pedagang Bawang di Pasar Sentra Antasari Banjarmasin, Budi, saat menunggu pembeli. 

GELOMBANG tinggi di Laut Jawa akibat cuaca ekstrem sejak pertengahan Desember 2018 hingga awal Januari 2019 menyebabkan kapal pengangkut bawang asal Sulawesi dan Jatim tak bisa berangkat ke Kota Banjarmasin.

Dampaknya langsung terasa, harga bawang di Kota Banjarmasin langsung melambung tinggi karena stok bawang di pedagang kosong. Di sejumlah pasar, harga bawang merah kecil menjadi Rp 23 ribu per kilogram, sedangkan ukuran besar-besar Rp 25 ribu per kilogram. (Bpost, 3/1/2019).

Distributor bawang merah di Kota Banjarmasin mengakui, melambungnya harga bawang karena kapal pengangkut bawang merah dari Sulawesi tak bisa berangkat akibat gelombang tinggi. Begitu stok barang sedikit permintaan pasar tinggi, hukum ekonomi tentang supply and demand pun berlaku, harganya pun melambung tinggi.

Inilah yang terjadi saat ini di pasaran Kota Banjarmasin. Dan hal ini merupakan hal yang biasa terjadi pada bulan-bulan tertentu saat terjadi musim gelombang tinggi di laut Jawa.

Harus kita akui, untuk kebutuhan pokok, kecuali beras (karena Kalsel sudah berhasil mewujudkan swasembada beras pada 2016, Kalsel masih sangat tergantung pasokan dari luar daerah terutama Pulau Jawa.

Khusus bawang, berdasar data di Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Kalsel, selain Jawa, Kalsel sangat tegantung dari pasokan dari Bima Nusa Tenggara Barat (NTB). Rata-rata kebutuhan bawang Kalsel mencapai 16.000 ton per tahun dengan asumsi kebutuhan bawang per kapita 4 kg per tahun.

Dari total kebutuhan per tahun tersebut, produk lokal Kalsel sejauh ini hanya mampu memenuhi 10 persen bawang merah, pasokan terbanyak berasal dari NTB, selebihnya mendatangkan dari Jawa dan Sulawesi.

Melihat besarnya kebutuhan bawang merah Kalsel, ini merupakan peluang besar bagi petani di Kalsel untuk bangkit memenuhi kebutuhan pangan sendiri.

Sejumlah daerah telah mengembangkan komoditas ini sejak 2013 lalu. Pengembangan bawang merah meliputi Barito Kuala, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah dan Tanahlaut.
Pengembangan terluas berada di Tapin sekitar 350 hektare pada 2017.

Hasilnya produksi lokal juga cukup menjanjikan. Data TPH Kalsel, pada 2015 produksi lokal sebesar 867 ton, pada 2017 meningkat menjadi 3.179 ton.

Dengan luas sekitar 37.000 Km2, Kalsel, para petani di 13 Kabupaten/Kota masih sangat berpeluang mengembangkan bawang merah dan mewujudkan swasembada pangan khususnya bawang merah beberapa tahun ke depan.

Tetapi petani tidak bisa berjuang sendiri. Mengingat tingginya biaya produksi per hektaranya serta risiko serangan hama panyakit, harus ada dukungan permodalan baik dari APBN, APBD, maupun pihak ketiga seperti perbankan, serta tak kalah pentingnya program dan pembinaan berkelanjutan dari pemerintah. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved