Rumah Sunat dr Mahdian

Bolehkah Perempuan Sunat? Serial Edukasi Masyarakat Seputar Sunat atau Khitan

Bolehkah Perempuan Sunat? Serial Edukasi Masyarakat Seputar Sunat atau Khitan

Bolehkah Perempuan Sunat? Serial Edukasi Masyarakat Seputar Sunat atau Khitan
istimewa/ Dok Rumah Sunat dr Mahdian
Sunat Perempuan Rumah Sunat dr Mahdian 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Mendengar kata khitan atau sunat, pasti sudah tidak asing lagi. Khitan kerap dikaitkan dengan tradisi budaya tertentu maupun keagamaan, seperti agama islam yang mewajibkan semua laki-laki harus disunat. Di Indonesia, biasanya anak laki-laki dikhitan pada usia 4-13 tahun. Namun, ternyata khitan tidak hanya dilakukan pada laki-laki saja, bisa juga dilakukan pada perempuan.

Khitan perempuan sudah sejak lama menjadi topik hangat dikalangan masyarakat di berbagai negara termasuk Indonesia. Praktik ini sudah dilakukan secera turun-menurun terutama dikalangan umat muslim. Meski begitu, banyak pakar yang menyuarakan pendapatnya baik pro maupun kontra, lalu bolehkah perempuan dikhitan? Berikut penjelasannya.

Khitan Perempuan dalam Pandangan Islam

Khitan perempuan termasuk tindakan yang dianjurkan dalam agama islam. Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), khitan perempuan bersifat makrumah (ibadah yang dianjurkan). Tata cara pelaksanaan khitan perempuan menurut ajaran Islam adalah cukup dengan menghilangkan selaput yang menutupi klitoris.

Hal ini terkait sebuah hadis yang menceritakan sebuah diskusi antara Rasulullah SAW dengan Um 'Atiyyah. Ia adalah dukun sunat pada zamannya, dan terkait profesinya ia berkata, "Kecuali jika dilarang, dan Anda memerintahkan saya untuk berhenti melakukannya." Nabi Muhammad menjawab: "Ya, diperbolehkan. Mendekatlah supaya aku bisa mengajarimu : jika memotong jangan berlebihan, karena akan membawa lebih banyak sinar ke wajah dan ini lebih menyenangkan bagi sang suami."

Khitan Perempuan dalam Medis

Rumah <a href='http://banjarmasin.tribunnews.com/tag/sunat' title='Sunat'>Sunat</a> dr Mahdian

Menurut dr Valleria SpOG khitan perempuan membuat klitoris lebih mudah dibersihkan dari kotoran. Sehingga tidak ada penumpukan kotoran atau smegma yang tergolong najis dan membuat kebersihan vagina terutama sekitar klitoris menjadi Iebih terjaga dan terhindar dari bau yang tidak sedap . Ia juga menjelaskan bahwa proses khitan perempuan dilakukan dengan cara menggores kulit yang menutupi bagian depan klitoris tanpa sedikitpun melukai klitoris.

Setiap perempuan memiliki Clitoral hoods (tudung klitoris) yang terbentuk secara genetik dengan lebar dan tebal yang berbeda. Seiring bertambahnya usia, kelemahan atau elastisitas tudung klitoris menurun sehingga tidak sedap dipandang pasangan. Dalam beberapa kasus, kondisi ini bahkan membuat respon atau sensasi seksual menjadi terganggu.

Menurut dokter asal London – Inggris, dr. Jacobson, pada wanita yang memiliki masalah untuk mendapatkan kepuasan seksual/ orgasme saat berhubungan intim dengan pasangannya, bisa jadi disebabkan tudung klitoris yang terlalu tebal, besar sehingga menutupi klitoris. Hal ini selanjutnya mengurangi rangsangan yang diterima klitoris selama melakukan aktivitas seksual.

Halaman
12
Penulis: Rendy Nicko
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved