Jendela

Hoaks Lagi

PETINJU legendaris Muhammad Ali (almarhum) dikenal sebagai penyebar kesombongan di masa jayanya. Dialah petinju yang terang-terangan menyombongkan

Hoaks Lagi
dokbpost
H Pramono BS

Oleh: Pramono BS

PETINJU legendaris Muhammad Ali (almarhum) dikenal sebagai penyebar kesombongan di masa jayanya. Dialah petinju yang terang-terangan menyombongkan diri untuk menjatuhkan lawannya dengan segala kekuatan dan kecerdikannya. Tapi calon lawan juga mengimbangi, ikut menyombongkan diri dengan segala kemampuannya.

Contohnya waktu akan bertemu dengan Joe Frazier, juga ketika hendak menumbangkan dengan KO petinju bertenaga buldozer George Foreman. Melawan Joe Frazier pada pertandingan pertama Ali kalah angka, penggemar tinju menangis. Tapi pada pertandingan balasan, Ali menang. Cara-cara perang urat syaraf ini ditiru oleh para petinju generasi berikut seperti Mike Tyson, Evander Holyfied dll.

Begitu selesai bertarung mereka berangkulan, tidak ada dendam. Itulah olah raga, mengutamakan sportivitas. Kalah soal biasa, kalau ingin menang harus berlatih sungguh-sungguh bukan hanya menakut-nakuti lawan dengan trik yang konyol.

Itu bedanya dengan politik. Dunia yang penuh tipu daya ini jangan harapkan sportivitas karena yang diutamakan kemenangan apa pun caranya. Misalnya ketika Donald Trump melawan Menlu AS Hillary Clinton dalam perebutan kursi Presiden AS. Begitu panasnya sehingga pers menamakan kampanye saat itu paling biadab dan kotor.

Trump terang-terangan memasuki ranah terlarang keluarga Hillary. Dia juga mengatakan akan melarang orang Islam masuk ke AS dan banyak lagi. Hasil pencoblosan, suara terbanyak diperoleh Hillary Clinton tapi karena di sana pemenangnya memakai sistem distrik maka ketika banyak distrik memenangkan Trump, Hillary pun kalah meski suara secara keseluruhan unggul.

Hiruk pikuk pemilihan presiden kini juga terjadi di Indonesia. Bukan tantangan bernuansa sportivitas tapi penyebaran kabar bohong (hoaks). Begitu banyak hoaks berseliweran, mulai kebohongan aktivis Ratna Sarumpaet yang mengabarkan telah dianiaya orang tak dikenal di Bandung, Indonesia bakal punah, pembangunan tol Cipali tanpa utang, pemakaian satu selang cuci darah untuk 40 orang di RSCM Jakarta dll. Belum lagi fitnah melalui puisi, pantomim dan entah apa lagi karena produsernya sangat kreatif. Terakhir diberitakan 7 kontainer surat suara yang sudah dicoblos dari Tiongkok masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) melaporkan berita bohong tersebut pada polisi, karena kalau tidak ditangani dengan serius bisa menurunkan kepercayaan rakyat terhadap penyelenggaraan pemilu, bahkan bisa mendeligitimasi, dianggap tidak sah dan seterusnya.

Siapa sebenarnya para penyebar hoaks ini, belum diketahui pasti. Akun twiter yang mencuit atau meneruskan sudah diblokir, tinggal dicari pemiliknya. Salah satunya milik Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief. Tapi Andi Arief berkilah, cuitannya hanya mengingatkan KPU agar kasus itu ditangani, bukan menyebarkan hoaks. Namun banyak pihak mencurigai Andi karena kalau dia hanya sekadar mengingatkan, mengapa cuitannya dihapus. Dia pasti tahu dari mana datangnya kabar itu. Partai Gerindra berjanji akan memberikan bantuan hukum jika Andi Arief ditangkap.

***

Dua pasangan capres/cawapres, Joko Widodo/Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto/Sandiaga Uno tidak bisa disamakan dengan Muhammad Ali dan Joe Frazier atau George Foreman. Petinju penantang ini memiliki reputasi yang nyaris sama dengan Ali. Mereka adu mulut dengan menunjukkan masing-masing yang terbesar, bukan memfitnah lawan lewat media atau yang lain.

Dua pasangan capres/cawapres sekarang tidak memiliki rekam jejak yang sama. Yang satu sukses membangun infrastruktur mulai jalan tol, bandara, pelabuhan, waduk, tol laut dari Aceh sampai Papua sedang yang satunya, karena belum pernah memimpin, maka kalau bicara prestasi agak sulit.

Dengan cara apa pun terlau sulit untuk menyamai, maka mereka harus mendekati rakyat, tapi itu tidak cukup karena rakyat perlu bukti bukan janji. Dua pihak ini bisa dibedakan dari cara kampanye, bersikap dan berbicara. Yang satu santai dan santun, tak banyak komentar, sedang yang lain menggebu, mengecilkan lawan dan suaranya berciri khusus.

Hoaks datangnya 7 kontainer surat suara yang sudah dicoblos, kalau dipercaya rakyat bisa jadi masalah. Sebab bila dia menang bisa dianggap tidak sah. Ini akan menjadi bencana politik paling dahsyat. Tapi ini memang cara dahsyat juga untuk mengatasi lawan yang telanjur terbang tinggi. Kalau ini “lolos” mungkin masih akan ada hoaks-hoaks yang lain.

Pasangan mana sih yang sudah dicoblos duluan? Yah... nanti nyoblos sendiri, sama saja. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved