Berita Tanahlaut

Pedagang Rest Area Gunung Kayangan Keluhkan Mahalnya Biaya Sewa Lapak, Rp 300 Ribu per Bulan

Bahkan para pedagang mendapatkan laporan bahwa biaya sewa yang harus mereka bayarkan yaitu Rp 300 ribu per bulan.

Pedagang Rest Area Gunung Kayangan Keluhkan Mahalnya Biaya Sewa Lapak, Rp 300 Ribu per Bulan
banjarmasinpost.co.id/milna sari
Kondisi lapak pedagang di kawasan rest area Gunung Kayangan, Tanahlaut 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sudah hampir sebulan para pedagang makanan di wisata Gunung Kayangan Desa Tambangulang Kabupaten Tanahlaut Kalimantan Selatan menempati tempat baru yang disediakan Pemkab Tanahlaut.

Sebelumnya para pedagang makanan berjualan ditepi jalan dengan lapak seadanya. Namun Pemkab meminta agar para pedagang di rest area pindah ke area yang sudah disiapkan di area yang menjorok ke dalam dengan lapak yang sudah disediakan.

Namun kini para pedagang mulai khawatir usai pindahan mereka harus membayar sewa lapak kepada pemerintah. Bahkan para pedagang mendapatkan laporan bahwa biaya sewa yang harus mereka bayarkan yaitu Rp 300 ribu per bulan.

Hal itupun mendapatkan tentangan dari para pedagang. Salah satu pedagang yang keberatan adalah Irwansyah.

Baca: Ramai Vanessa Angel, Daftar Tarif Artis Prostitusi Online yang Sempat Beredar, Siapa Paling Laris?

Baca: Vanessa Angel Bebas! Ini Penjelasan Terbaru Polisi Terkait Kasus Prostitusi Online Artis di Surabaya

Baca: Tarif Prostitusi Online Vanessa Angel Diungkap Polisi Usai Penggerebekan Artis FTV di Surabaya

Sebutnya ia tak mampu membayar Rp 300 ribu per bulan dengan kondisi pengunjung rest area yang sepi. Saat ditemui Minggu (06/01/2018) sore sebutnya ia baru mendapatkan uang Rp 30 ribu.

"Itupun kotor, bukan untungnya yang Rp 30 ribu," ujarnya kepada Banjarmasinpost.co.id.

Padahal ujar Irwan dirinya tak pernah menjual melebihi harga pasaran. Meski di rest area tambahnya harga makanan dan minuman yang ia jual juga sama dengan warung biasa namun pembeli juga tak banyak.

Dengan biaya sewa Rp 300 ribu per bulan terangnya ia tak sanggup membayar karena tak sebanding dengan penghasilan pemilik warung.

Sebelumnya tambahnya memang sudah dikatakan pihak Dinas Pariwisata akan adanya retribusi yang harus dibayar. Namun dalam sosialisasi awal sebut Irwan dikatakan Rp 1000 per hari.

"Sekarang malah Rp 300 per bulan, jauh sekali bedanya dengan kesepakatan awal," ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Milna Sari
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved