Fikrah

Muhasabah Duniawi dan Ukhrawi

MUHASABAH meliputi duniawi dan ukhrawi. “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,

Muhasabah Duniawi dan Ukhrawi
Airul Syahrif
KH Husin Nafarin MA saat pertemuan Sosialisasi Pelaksanaan Program Imunisasi Secara Terpadu oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, di Hotel Ratan Inn, Banjarmasin, Jumat (31/8/2018) pagi. 

Oleh: KH Husin Naparin, Ketua Umum MUI Kalsel

MUHASABAH meliputi duniawi dan ukhrawi. “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS Al-Qashash 77).

Pentingnya menyiapkan akhirat tergambar disebutkan lebih dahulu dari masalah duniawi, karena akhirat adalah tempat tinggal hakiki, dan suruhan menyiapkannya di dalam surah al-Hasyr ayat 18 diapit dengan dua perintah bertakwa.

“Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Pintu akhirat adalah kematian. Be-lajarlah lewat mereka yang telah meninggal mendahului kita: kafaa bil-mauti waa’zhaa, cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat.

Apa yang bisa dibawa ke alam akhirat? Semua materi tertinggal. Seseorang memiliki sandal jepit, jika ia meninggal sandal jepitnya tidak bisa dibawa mati. Tetapi, karena sandal jepitnya itu ia gunakan ke masjid salat berjemaah dan ke majelis taklim menuntut ilmu agama karena Allah; maka ganjaran amalnya itulah yang mengikutinya ke akhirat.

Ganjaran dalam bahasa agama, disebut pahala (bahasa Arab disebut jazaa atau tsawaab). Karenanya bila seseorang memiliki sesuatu, seyogianya cerdas berpikir, apakah yang dimiliki itu dapat dipergunakan untuk menolong diri beribadah kepada Allah.

Jika ingin membeli sesuatu, contoh sebuah payung, tanamkan motivasi untuk memudahkan pergi ke masjid. Nabi SAW besabda, kun ka annaka fid-dunya garibun au ‘abiru sabil, jadikankah diri anda di dunia seperti seorang pelancong yang numpang lewat.

Disabdakannya pula, orang mukmin yang paling pintar ialah mereka yang paling ingat kematian dan yang punya persiapan terbaik untuk menyambut apa yang terjadi sesudahnya (akhirat). (HR Tabrani).

Zaman dahulu. Jasad Fir’aun, raja Mesir yang wafat diawetkan (mummy) karena beranggapan hidup di akhirat seperti hidup di dunia. Seiring dengan itu, sejumlah orang harus dibunuh untuk menjadi pelayannya. Dibuatlah bangunan besar menjulang tinggi berbentuk segi tiga, Piramida namanya, sebagai kuburan.

Dimasukkan ke dalamnya berbagai perabot berbalut emas keperluan sang raja. Itu, dulu. Akhir-akhir ini, di kaki pengunungan Meratus, Kalimantan, seorang tokoh adat meninggal. Disiapkan bekal untuknya berupa bibit padi, jagung, kacang dan lain-lain, termasuk titipan para tetangga untuk keluarga mereka yang telah meninggal.

Anak sulungnya ingin memasukkan sepeda motor ke dalam kubur ayahnya itu, agar dapat mengantar titipan nantinya dengan cepat. Adik bungsunya menolak, karena sepeda motor itu untuknya pergi ke mana-mana. Terjadilah pertengkaran, tetapi dapat diselesaikan oleh seorang alim yang mengatakan, tidak usah dibawa karena di kubur tidak ada SPBU.

Menyiapkan akhirat, bukan berarti seseorang meninggalkan duniawi. Jangan kau lupa nasibmu di dunia. Meraup dunia dengan benar dibenarkan, dengan cara halal; dan dengan motivasi untuk ibadah, kepentingan agama dan menyiapkan ahli waris.

Meninggalkan ahli waris berkecukupan lebih baik bagimu daripada meninggalkan mereka dalam kekurangan, meminta-minta kepada orang lain. (HR Bukhari-Muslim). Rezeki halal menjadi baik jika digunakan untuk ibadah, dan buruk jika digunakan untuk maksiat.

Muhasabahlah tentang duniamu, bagaimana anda menumpuk dan mempergunakannya; dan muhasabahlah akan akhiratmu, anda akan dimintai pertanggungjawaban. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved