Berita Tapin

Petani Cabai Hiyung Tak Punya Gudang Pasca Panen, Hasil Olahan Dibawa ke Arab Saudi

Petani Cabai Hiyung Tak Punya Gudang Pasca Panen, Hasil Olahan Dibawa ke Arab Saudi

Petani Cabai Hiyung Tak Punya Gudang Pasca Panen, Hasil Olahan Dibawa ke Arab Saudi
banjarmasin post group/ mukhtar wahid
Junaidi memperlihatkan abon cabai hasil olahan kelompok usaha bersama di Desa Hiyung, Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin, Jumat (11/1/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Hajah Kasmawati, istri tokoh agama di Desa Margasari, sebelum bertolak ke tanah suci mekkah, Arab Saudi menyempatkan mampir ke Desa Hiyung, Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).

Itu karena pesanan kerabatnya yang bermukim di Arab Saudi meminta oleh-oleh sambel Hiyung atau bubuk cabai Hiyung, produksi Koperasi Usaha Bersama Karya Baru yang diketuai Junaidi.

"Ada pesanan keluarga di Arab minta bawakan sambel Hiyung. Ternyata sambel habis stoknya. Tinggal bubuk cabai saja. Keluarga di Arab senang lombok Hiyung Tapin," katanya.

Junaidi mengaku minimnya stok ketersediaan bahan cabai yang membuat produk olahan sambel dan bubuk cabai terbatas atau tidak punya stok barang saat terjual.

Baca: Ahok Kunjungi Sosok Perempuan ini Jika Bebas dari Mako Brimob 24 Januari 2019, Spesial Tulis Surat

Baca: Andik Vermansyah Buka Opsi Gabung Persebaya Surabaya di Liga 1 2019, Ini Syaratnya

Baca: BREAKING NEWS : Angin Puting Beliung Terjang 7 Rumah di Kecamatan Gambut, Ini Kondisinya

Usaha produk olahan berbahan cabai itu diawali karena harga cabai sempat anjlok pada 2015 lalu. Itu menginspirasi Junaidi dan teman-temannya mengolah produk olahan berupa sambel dan bubuk cabai atau abon dari cabai Hiyung.

"Awalnya kami menggunakan blender saja mengolahnya. Akhir 2016 kelompok usaha kami mendapatkan bantuan mesin pengolah sambel dan bubuk atau abon cabai, dan mendapatkan pembinaan dari CSR perusahaan dan Dinas Pertanian Kabupaten Tapin," katanya kepada reporter Banjarmasinpost.co.id, belum lama ini.

Menurut Junaidi yang juga menjabat selaku Sekretaris Desa Hiyung ini, desanya sudah dinyatakan sebagai desa mandiri dan makmur oleh Pemerintah Kabupaten Tapin.

Itu berkat hasil produk tanaman cabai Hiyung yang terkenal sangat pedas di Indonesia. Sudah ada empat orang petani cabai di Desa Hiyung yang menunaikan ibadah haji dari panen cabai.

Kini, Junaidi mengaku tak hanya bertani cabai. Tapi membeli cabai dari petani setempat untuk diolah menjadi bahan olahan sambel dan abon cabai Hiyung.

Namun dari 113 hektare lahan perkebunan cabai, Junaidi hanya mampu membeli 10 persen dari hasil panen cabai. Alasannya tidak punya gudang yang cukup luas menampung pasca panen cabai.

Baca: Pengakuan Pemilik Hotel di Banjar Soal Praktik Prostitusi Online yang Disorot Satpol PP

"Kami mencoba perkembangan harga cabai Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu. Kami membelinya harga Rp 20 ribu per kilogram. Petani cabai tidak gelisah. Penyangga harga cabai kalau anjlok," katanya.

Junaidi berharap dengan bantuan gudang pasca panen yang besar, sekitar 50 persen paling tidak hasil panen cabai Hiyung dapat dibeli kelompoknya untuk bahan olahan sambel dan abon cabai.

"Sebentar lagi produk olahan cabai Hiyung mendapat sertifikat," katanya.

(banjarmasinpost.co.id/ mukhtar wahid)

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved