tajuk

Jalin Komunikasi

MENGHEBOHKAN! Satu siswi SMPN 5 Banjarbaru diculik seorang pria, dan pelaku meminta tebusan sebesar Rp 150 juta kepada orangtua korban

Jalin Komunikasi
banjarmasinpost.co.id/nia kurniawan
Suasana siswa di lingkungan SMP 5 Banjarbaru. 

MENGHEBOHKAN! Satu siswi SMPN 5 Banjarbaru diculik seorang pria, dan pelaku meminta tebusan sebesar Rp 150 juta kepada orangtua korban. Karena tuntutannya tak dipenuhi, korban dibuang di lokasi sepi dalam kondisi terikat dan mulut dilakban.

Peristiwa itu mengingatkan kita dengan berbagai peristiwa yang ramai beredar di media, baik koran maupun daring, terkait pergi tanpa pesannya remaja akibat dibawa kabur orang yang baru dikenalnya.

Tapi berbeda dengan yang ramai terjadi, kali ini korban yang masih berstatus pelajar kelas IX itu malah diculik saat sedang berjalan seorang diri usai pulang sekolah. Belum lagi diketahui, apakah pelaku hanya sendiri atau merupakan jaringan pelaku penculikan profesional.

Kini tugas aparat kepolisian untuk mengungkap siapa dan apa motif pelaku penculikan tersebut. Karena aksinya telah turut meresahkan para orangtua, juga guru-guru yang kini harus turut memperhatikan anak murid mereka pascamengikuti jam pelajaran di sekolah.

Melihat kronologis peristiwa yang menimpa siswa tersebit, ada miskomunikasi dengan orangtuanya terkait jam pulang pelajaran tambahan yang harusnya diikuti sang anak. Akibatnya, si ibu terlambat menjemput, dan anaknya telah pulang duluan karena kelamaan menunggu.

Kendala utama sang anak tidak bisa mengomunikasikan informasi terkait kondisi dia, karena ada kebijakan di sekolah tersebut bahwa semua siswanya dilarang membawa handphone ke sekolah.

Dari kondisi ini dapat ditarik benang merah kenapa si anak tak bisa memberitahuktan kondisi terkini dia yang pulang lebih cepat. Sedang si ibu mengira jam pulang buah hatinya sama seperti biasanya.

Kebijakan larangan membawa handphone ke sekolah demi konsentrasi siswa saat mengikuti pelajaran, tentu sangat kita dukung. Tapi kondisi minskomunikasi bisa dicegah, kalau saja sejak awal telah terjalin komunikasi antara pihak sekolah dan orangtua siswa.

Contohnya, ada infomasi timbal balik antara orangtua siswa dengan para guru. Apalagi saat ini sudah banyak aplikasi yang bisa mengumpulkan orang-orang dalam satu grup komunikasi, seperti Whatsapp, Blackberry Messanger, dan lainnya.

Keterbukaan komunikasi antara pengajar dan orangtua siswa, diharapkan bisa menjembatani berbagai informasi terkait kondisi anak didik di sekolah dan di rumah. Termasuk kalau ada kejadian mendadak seperti yang terjadi di SMPN 5 Banjarbaru kemarin.

Berbagai infomasi juga bisa disampaikan orangtua kepada para pengajar di sekolah bersangkutan. Misal, si anak lagi sakit dan tidak bisa masuk sekolah, atau dari sekolah menyampaikan informasi mengenai kondisi siswa-siswa mereka kepada orangtuanya, juga informasi perkembangan sekolah, dan lainnya.

Keterbukaan komunikasi antara sekolah dengan orangtua siswa ini, diharapkan mampu menciptakan rasa aman bagi semua pihak dan mampu mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Termasuk penyimpangan pergaulan negatif para pelajar. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved