Tajuk

Adipura Bukan Pura-pura

HARI ini, 14 Januari 2019, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan menyerahkan penghargaan Adipura 2018 kepada sejumlah daerah.

Adipura Bukan Pura-pura
net
Piala Adipura

BANJARMASINPOST.CO.ID - HARI ini, 14 Januari 2019, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan menyerahkan penghargaan Adipura 2018 kepada sejumlah daerah di Indonesia. Rencananya, penghargaan ini akan diberikan oleh Presiden Joko Widodo. Penyerahan Adipura ini sendiri boleh dibilang terlambat, karena semestinya dilaksanakan di triwulan IV 2018.

Program Adipura telah dilaksanakan setiap tahun sejak 1986, kemudian terhenti pada tahun 1998. Dalam lima tahun pertama, program Adipura difokuskan untuk mendorong kota-kota di Indonesia menjadi ‘Kota Bersih dan Teduh’.

Program Adipura kembali dicanangkan di Denpasar, Bali, pada 5 Juni 2002, dan berlanjut hingga sekarang.
Pengertian kota dalam penilaian Adipura bukanlah kota otonom, namun bisa juga bagian dari wilayah kabupaten yang memiliki karakteristik sebagai daerah perkotaan dengan batas-batas wilayah tertentu

Dari 13 ibu kota kabupaten/kota di Kalimantan Selatan yang mendapat penilaian, 10 di antaranya berhak mendapat penghargaan Adipura. Dari 10 itu, delapan mendapat piala Adipura, yakni Banjarmasin (Kota Banjarmasin), Banjarbaru (Kota Banjarbaru), Martapura (Kabupaten Banjar), Rantau (Kabupaten Tapin), Marabahan (Kabupaten Baritokuala), Barabai (Kabupaten Hulu Sungai Tengah), Pelaihari (Kabupaten Tanahlaut), Batulicin (Kabupaten Tanahbumbu).

Sedang dua kota lagi mendapat sertifikat Adipura, adalah Paringin (Kabupaten Balangan), Amuntai (Kabupaten Hulu Sungai Utara).

Titik berat penilaian Adipura adalah kebersihan dan berbagai elemen di dalamnya. Kota yang dinilai kemudian diganjar Adipura, berarti memiliki tingkat kebersihan yang baik. Anugerah Adipura ini tak semata kebanggaan bagi masyarakat di daerah bersangkutan. Bagi pemerintah daerahnya pun merupakan sebuah prestasi sekaligus prestise. Karena artinya mereka mampu memanajemen lingkungan di wilayahnya.

Harapan besarnya, anugerah itu bukan sekadar prestasi untuk dibangga-banggakan. Terpenting adalah, bukti bahwa daerah bersangkutan benar-benar mampu mengelola lingkungan bersih,teduh sesuai semangat dari dilaksanakannya program Adipura.

Dulu, pernah mencuat kata satire atas anugerah Adipura ini yang disebut ‘adipura-pura’. Penyebabnya, setelah anugerah diberikan kepada satu daerah, ternyata lingkungannya tidak terawat lagi, sampah berserakan, sehingga ada kesan kebersihan dan penataan lingkungan yang apik sebatas saat tim penilai Adipura datang.

Sekarang tentu kita semua tidak ingin itu terjadi. Kita semua berharap anugerah Adipura benar-benar ganjaran yang setimpal bagi satu daerah yang mampu menjaga kebersihannya kini maupun nanti. Selamat untuk daerah yang menerima Adipura. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved