Jendela

Ketika VA Viral

Media konvensional sangat bersemangat memberitakan, dan media sosial heboh karenanya. Mengapa hal ini terjadi dan bagaimana sebaiknya sikap kita?

Ketika VA Viral
Mujiburrahman 

Mujiburrahman
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - PEKAN lalu, kasus prostitusi daring (online) di Surabaya yang melibatkan VA dan rekannya AS sempat panas. Apalagi polisi mengatakan, masih banyak artis dan model yang diduga terlibat dalam jaringan ini. Media konvensional sangat bersemangat memberitakan, dan media sosial heboh karenanya. Mengapa hal ini terjadi dan bagaimana sebaiknya sikap kita?

Banyak orang mungkin penasaran setelah membaca berita bahwa tarifnya mencapai Rp 80 juta. Rasa ingin tahu terpantik, bagaimanakah sosok yang harganya begitu mahal? Rasa ingin tahu inilah yang mungkin dimainkan wartawan sehingga beberapa media langsung menyebut nama tanpa inisial lagi, dan foto wajah yang bersangkutan tidak ditutupi. Berita vulgar tersebut akhirnya makin viral di media sosial.

Fokus perhatian berita dan masyarakat adalah si perempuan VA. Mungkin karena dia cantik dan pesohor sehingga orang pun fokus ke dia. Komentar-komentar berseliweran, dari yang santun hingga kasar, dari yang menganjurkan taubat hingga yang menghakimi dengan neraka. Lama-lama pecah keributan antar warganet, yakni antara yang memaki-maki VA dan yang mengasihani dan berempati kepadanya.

Jika dilihat secara positif, keributan warganet itu sebenarnya mencerminkan kebaikan. Pada satu sisi, mereka yang mengutuk prostitusi daring menunjukkan bahwa nilai kehormatan wanita harus tetap dijaga dan dihormati sebagaimana diajarkan oleh agama dan leluhur kita. Bagi masyarakat kita pada umumnya, mengaggap pergaulan bebas dan pelacuran sebagai hal normal merupakan suatu kesesatan.

Di sisi lain, mereka yang berempati pada VA juga menunjukkan bahwa perempuan harus dilindungi dari perundungan dan penghakiman publik yang berlebihan. Boleh jadi, VA adalah korban, bukan pihak yang diuntungkan. Mereka pun bertanya, mengapa lelaki yang “main” dengannya tidak disorot? Mengapa berita media tertuju penuh kepada VA? Apakah para wartawan penulis berita itu lelaki semua?

Demikianlah, pada hakikatnya kedua belah pihak ingin menghargai dan menghormati perempuan. Sayangnya, sebagian warganet dari kedua belah pihak justru saling menuduh dan memaki. Pihak pertama menuduh pihak kedua membela dan menghalalkan pelacuran dan pergaulan bebas, sementara pihak kedua menuduh pihak pertama sebagai orang-orang yang sok saleh dan suka mengkavling surga.

Memang, tidak menutup kemungkinan orang-orang semacam itu ada di masing-masing pihak. Mungkin saja ada orang yang menganggap pelacuran itu wajar dan pergaulan bebas itu tak masalah. Begitu pula, mungkin ada orang yang merasa diri dan kelompoknya paling saleh, sementara orang lain yang tak sepaham dianggap calon penghuni neraka belaka. Tetapi orang-orang yang ekstrem ini biasanya sedikit.

Karena itu, tantangan yang kita hadapi di era media sosial ini kiranya adalah, bagaimana agar pandangan moderat yang mayoritas itu jangan sampai dikalahkan oleh pandangan ekstrem yang minoritas. Mungkin ada benarnya orang mengatakan bahwa, berbeda dengan mayoritas yang moderat, minoritas yang ekstrem seringkali bersuara lebih keras di ruang publik untuk menarik perhatian masyarakat luas.

Dengan demikian, agar sikap moderat tetap menjadi arus utama, maka para tokoh moderat harus mau bersuara di ruang publik, khususnya di media sosial, dengan dukungan penuh para pengikut mereka. Mereka tidak boleh diam karena diam bisa dianggap setuju. Selain itu, media arus utama juga harus benar-benar memegang etika jurnalistik dengan menyajikan berita yang berimbang dan faktual.

Alhasil, kasus VA memang mempesona dan seksi, tetapi sangat mungkin di tahun politik ini, akan ada lagi kasus-kasus lain yang dapat mendorong masyarakat terbelah menjadi dua kubu ekstrem. Pada saat itulah kaum moderat tak boleh diam, karena kita yakin bahwa jalan tengah di antara dua yang akstrem merupakan jalan kebaikan dan kebenaran. Itulah ajaran agama dan para filosof agung sejak dulu kala! (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved