Berita Kabupaten Banjar

MIN Gambut Langganan Genangan Air, Murid Harus Lepas Sepatu dan Lipat Celana

Tidak hanya pada musim hujan tahun ini saja, sekolah Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Gambut menjadi langganan banjir.

MIN Gambut Langganan Genangan Air, Murid Harus Lepas Sepatu dan Lipat Celana
banjarmasinpost.co.id/hasby suhaili
MIN Gambut, Kabupaten Banjar, terendam saat air pasang dan hujan, Siswa harus melepas sepatu dan melipat celana agar tidak kebasahan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA — Tidak hanya pada musim hujan tahun ini saja, sekolah Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Gambut menjadi langganan banjir. Para murid bahkan harus rela melipat celana panjangnya agar tidak basah.

Kondisi ini pun menjadi perhatian Camat Gambut, Sirajudin Ali. Dirinya berharap ditengah kondisi tersebut sekolah melaksanakan kelompok belajar mengajar sepanjang bisa melakukannya. Apabila tidak bisa, maka diwakti lain supaya menambah jam pelajarannya, supaya para murid tidak ketinggalan pelajaran.

“Apabila ada kerusakan material akibat banjir supaya dilaporkn kepada pihak yang berkepentingan seperti Kanwil Kemenag Kabupaten Banjar untuk penanggulangan banjir,” katanya.

Dia juga mengatakan, pihakan akan sesegeranya akan melaksanakan gotong royong membersihkan segala sesuatu yang menyumbat saluran air supaya cepat mengalir. Pelaksanaannya nantinya, pihaknya akan meminjam alat berat dari Balai Sungai ada di Desa Pematang.

Baca: 3 Pesan Baru Ustadz Arifin Ilham yang Dirawat di Malaysia, Ayah Alvin Faiz Banjir Doa

Baca: Vigit Waluyo Jadi Tersangka Pengaturan Skor, Brigjen Krishna Murti Minta untuk Jujur

Baca: Hotman Paris Ngaku Kencan dengan Chef Farah Quinn Saat Makan di Warung Kaki Lima

“Tetapi perlu ditegaskan bahwa kalau untuk sekolahan milik pemerintah seperti MIN atau SDN dana desa tidak bisa masuK ke infrastrktur itu,” tambahnya.

Kepala MIN Gambut, Abdul Halim mengatakan, sekolah sudah melakukan beberapa upaya, yakni pertama halaman muka madrasah sudah dilakukan peninggian tanah lebih dari setengah meter. Demikian juga halaman bagian belakang.

Sebanyak empat kelas ditinggikan dari sebelumnya dan tiga kelas direnovasi untuk ditinggikan, serta tiga kelas bangunan dibangun baru dengam bangunan yamg sudah tinggi dengam pondasi tingkat dua.

“Banjir langganan di sekolah adalah kondisi alam dan pelarian air datang yang kurang cepat. Bahkan badan jalan A Yani di depan sekolah saja sudah hampir separo tergenang air,” katanya.

Dia mengharapkan, harus ada kerjasama dan perhatian serius bagi semua pihak, mulai dari Pemerintah Kabupaten Banjar seyogyanya memprogramkan dan mengalokasikan dana untuk kelancaran arus jalan air berupa sungai sebagai penyaluran efektif ke laut yaitu sungai irigasi yang menembus ke Aluhaluh supaya diperhatikan kedalaman, kelancaran dan kebersihannya.

Pelaksanaannya tentu sebelum musim hujan tiba seperti kota Banjarbaru yang sudah sibuk membersihkan dan mengatur got dan drainase agar air lancar. Bahkan kalau perlu membuat irigasi khusus didaerah lahan kosong yang menembus ke laut Aluhaluh.

Juga menjadi harapannya, aparat pemerintah dan kecamatan turut aktif mengajak RT untuk mengarahkan masyarakatnya membersihkan dan menjaga kestabilitasan sungai di sekitarnya. Masyarakat juga harus sadar dan turut aktif menjaga kebersihan dan kesehatan sungai dengan tidak membuang sampah sembarangan di sungai dan mendirikan bangunan di atas atau disekitar yang menghambat laju arus sungai. (Banjarmasinpost.co.id/Hasby)

Penulis: Hasby
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved