Ekonomi dan Bisnis

Per Januari 2019, Harga Emas Bergerak Turun, 60 Persen Konsumen Lebih Banyak Jual

Hal ini berimbas pula pada harga emas dunia, tidak terkecuali harga emas di Kota Banjarmasin, yang mana harga jual emas cenderung turun.

Per Januari 2019, Harga Emas Bergerak Turun, 60 Persen Konsumen Lebih Banyak Jual
banjarmasinpost.co.id/mariana
Suasana jual beli di Toko emas Taisir 1, H Gurdani, yang berada di seputaran Pasar Sentra Antasari, Banjarmasin, Selasa (15/1/2019). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Perlambatan ekonomi dunia ditambah sikap bank sentral AS, The Fed, yang terkesan akan dovish (menahan laju suku bunga) di 2019, membuat pasar memprediksi dolar Amerika Serikat (AS) tidak akan sekuat tahun 2018.

Hal ini berimbas pula pada harga emas dunia, tidak terkecuali harga emas di Kota Banjarmasin, yang mana harga jual emas cenderung turun.

Pemilik Toko Emas Taisir 1, H Gurdani menguraikan, harga perhiasan 99 sebesar Rp 585.000 per gram, emas 700 seharga Rp 440.000, dan emas 420 sebesar Rp 265.000 per gram. Serta emas batangan (antam) senilai Rp 582.000 per gram.

Diakuinya, harga tersebut sedikit turun dari pekan sebelumnya, yakni emas 99 Rp 590.000, emas 700 Rp 445.000, dan emas 420 Rp 270.000. Walaupun harga turun tidak mempengaruhi daya beli konsumen.

Baca: Ayah Irish Bella Tak Sengaja Ungkap Tanggal Pernikahan Putrinya dengan Ammar Zoni, Bulan April?

Baca: Pengakuan Mengejutkan Hotman Paris Sudah Jadian dengan Chef Farah Quinn, Dijawab Farah Benar

Baca: Reaksi Tompi Atas Pidato Kebangsaan Prabowo Sebut Gaji Dokter Lebih Kecil Dari Juru Parkir

Baca: Geopark Meratus Akan Dibuatkan Izin Lingkungan dan Pembentukan Badan Pengelola, Ini Tujuannya

"Harga turun, pembelinya juga ikut menurun. Saat Desember 2018 lumayan ramai pembelinya, namun sekarang malah lebih banyak yang jual daripada membeli," beber H Gurnadi kepada Banjarmasinpost.co.id, Selasa (15/1/2019).

Dia menerangkan, selama Januari ini persentase pembelian dan penjualan emas di tokonya berkisar 60 persen berbanding 40 persen, yang mana lebuh besar konsumen yang menjual emas.

Hal ini disebabkan pengaruh sentimen eksternal yakni perundingan politik antara Amerika Serikat (AS) dan China terkait perang dagang, kemudian pemilihan suara Brexit untuk keluar dengan syarat dari Uni Eropa. Keadaan politik yang gamang tersebut, membuat rupiah cenderung menguat dan menurunkan harga emas.

Untuk sementara, menurut H Gurnadi, lebih banyaknya konsumen yang menjual emas tidak berpengaruh negatif terhadap omzet jual beli emas di tokonya.

Baca: Kadishut Kalsel Hanif Faisol Nurofiq Targetkan 50 Destinasi Ekowisata Baru 2019

Baca: FDj Silvya Terima Tawaran Job di Malaysia, Merasa Tertantang, Sekalian Menimba Ilmu

Baca: Curahan Hati Gisella Anastasia Lewat Lagu Perjalanan Berharga, Tentang Perceraian dan Gading Marten?

Namun, dia pun tetap mengkhawatirkan fenomena lebih banyak yang menjual emas dari pada yang membeli emas akan bertahan lama. Sebab dia harus merogoh kocek untuk membeli emas yang dijual, sementara perputaran uang dan barang belum stabil.

Sementara itu, pembeli emas di Toko Taisir 1, Aris Hadi merupakan salah satu konsumen yang datang menjual perhiasan kalung yang berkadar 99.

"Karena lagi perlu uang jadi saya menjual perhiasan ini, tapi biasanya setelah gajian atau uang terkumpul saya investasikan lagi dalam bentuk emas. Untuk harganya yang cukup senang sih turun, cukup menguntungkan untuk melakukan pembelian baru," tukasnya.(Banjarmasinpost.co.id/Mariana)

Penulis: Mariana
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved