Berita Kalteng

Penambangan Ilegal Marak, DPRD Kalteng Soroti Belum Adanua Realisasi Wilayah Pertambangan Rakyat

Masih maraknya penambangan emas rakyat yang menggunakan bahan pemisah merkuri kata Wakil Ketua DPRD Kalteng, akibat lemahnya pengawasan.

Penambangan Ilegal Marak, DPRD Kalteng Soroti Belum Adanua Realisasi Wilayah Pertambangan Rakyat
istimewa
Dua Penambang Emas Ilegal Katingan Ditangkap Alat Berat dan Mesin Sedot Disita. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PALANGKARAYA - Masih maraknya penambangan emas rakyat yang menggunakan bahan pemisah merkuri ditanggapi Wakil Ketua DPRD Kalteng, Heriansyah, yang mengatakan, penambangan marak akibat lemahnya pengawasan instansi terkait.

Menurut Heri, selayaknya instansi terkait melakukan koordinasi bersama dewan dan lembaga lainnya ketika mendapat informasi masih banyak lokasi tambang ilegal di Kalteng sehingga bisa dilakukan operasi penertiban dengan melibatkan banyak instansi.

Heri tidak hanya menyoroti masalah lemahnya pengawasan saja, tetapi juga menyoroti pihak kabupaten dan kota yang sampai saat ini belum merealisasikan lokasi wilayah pertambangan rakyat atau WPR, sehingga akhirnya, rakyat menambang disembarang tempat.

"Selayaknya, segera saja dibentuk lokasi wilayah pertambangan rakyat sehingga dalam melakukan penambangan para penambang bisa terkontrol, dan dapat diawasi petugas, namun yang terjadi saat ini sudah sulit terkontrol, karena lokas penambangan menyebar," ujarnya.

Baca: Penambangan Emas Ilegal Masih Gunakan Merkuri, Aspera Tawarkan Mesin Ramah Lingkungan

Baca: Via Vallen Pukul Penonton yang Mencoleknya Saat Manggung, Denny Cagur Bereaksi Saat Mendengar

Baca: Jawaban Ariel NOAH Dijodohkan dengan Luna Maya, Usai Putus Dari Reino Barack dan Tak Temani Syahrini

Gunakan Merkuri

Penambangan emas tanpa izin yang menggunakan bahan air raksa atau merkuri hingga kini masih marak dilakukan di sejumlah kabupaten di Kalimantan Tengah.Kegiatan tambang tersebut dilakukan di darat maupun di Sungai.

Aksi penambangan tersebut masih tampak di hulu Sungai Kahayan, di Kabupaten Gunungmas, Katingan, Kotim hingga Kotawaringin Barat. Para penambang, sebagian besar masih menggunakan air raksa atau merkuri dalam memisahkan antara emas dan tambang.

Pertemuan digagas Pemprov Kalteng, membahas penambangan ilegal menggunakan merkuri di Aula Eka Hapakat, Kantor Gubernur Kalteng.
Pertemuan digagas Pemprov Kalteng, membahas penambangan ilegal menggunakan merkuri di Aula Eka Hapakat, Kantor Gubernur Kalteng. (tribunkalteng.com/faturahman)

Bahkan Sekdaprov, Kalteng , Fahrizal Fitri, yang juga adalah Mantan Kepala Bandan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kotawaringin Barat dan Mantan Kepala BLH Kalimantan Tengah, mengakui dia sempat beberapa kali melakukan sosialisasi bahaya penggunaan merkuri tersebut.

Dikatakan Fahrizal, dia punya pengalaman saat melakukan sosialisasi di Kobar, datang ke lokasi penambangan langsung ke pondokan penambang, dan saat itu penambang sedang memisahkan emas dan merkuri menggukan penyaring kain payung.

Menurut dia, meski disaring dengan kain payung, tetap saja merkuri yang lengket di emas tak bisa terpisah sehingga pemisahan menggunakan api."Saat merkuri bercampur emas dibakar tentu asap pembakaran bercampur merkuri dan dihisap penambang," ujarnya.

Baca: Penurunan Tiket Penerbangan Dinilai Belum Stabil, Lion Air Tujuan Jakarta Terendah Rp 950 Ribu

Baca: Hasil 16 Besar Malaysia Masters 2019, Mudahnya Marcus/Kevin ke Perempat Final, Ganda Thailand Cedera

Baca: Heboh Aris Idol & Mantan Syahrini Ditangkap, Ustadz Abdul Somad Jelaskan Doa Pecandu Narkoba

Dia mengatakan , ada salah pembeli emas di lokasi penambang yang terkena dampak merkuri kena penyakit paru-paru, saat berobat ke Rumah Sakit di Semarang, baru diketahui dalam tubuhnya terkandung logam berat tersebut."Tak bisa diobati hingga akhirnya meninggal dunia," ujarnya.

Sementara itu, Asossias Pertambangan Rakyat Kalimantan (Aspera) Kalteng, yang diketuai Kaji Kelana Usop, yang bermitra dengan, lokal Artisanal Gold Council (AGC) dalam pelaksanaan Program Ermas Rakyat Sejahtera (PERS) di Kalimantan Tengah, berusaha memberikan alternatif mesin ramah lingkungan tanpa penggunaan merckuri tersebut.

"Kami berusaha untuk mencarikan alternatif bagi penambang emas rakyat agar tidak lagi menggunakan merkuri dalam pemisahan emas hasil tambang tetapi menggunakan mesin ramah lingkungan.Ini terus kami sosialisasikan kepada penambang di Kotim," ujar Kaji. (banjarmasinpost.co.id / faturahman)

Penulis: Fathurahman
Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved