Opini Publik

Pesan Tersirat Aquaman

AWAL tahun ini sebuah film mengisi daftar putar bioskop tanah air baru (dirilis 21 Desember 2018 lalu) dari rumah produksi Warner Bross DC.

Pesan Tersirat Aquaman
Instagram/Aquaman Movie
Poster film Aquaman 

Oleh: Usluddin, Mahasiswa PPs Magister Sosiologi Unhas Kotabaru

AWAL tahun ini sebuah film mengisi daftar putar bioskop tanah air baru (dirilis 21 Desember 2018 lalu) dari rumah produksi Warner Bross DC. Film ini juga dimaksudkan sebagai bentuk kompetisi terhadap film-film garapan Marvels Studio yang sukses mencuri perhatian penikmat bioskop. Film ini berjudul Aquaman. Seperti dengan judulnya, film ini didominasi oleh latar setting sebuah gambaran kehidupan laut yang dihuni oleh berbagai kerajaan, salah satunya Atlantis. Kerajaan Atlantis ini memainkan peran yang sangat sentral dalam kehidupan bawah laut, meskipun banyak pula koloni-koloni lain yang juga membentuk sistem pemerintahan yang merdeka dari kerajaan Atlantis.

Film ini disutradai oleh James Wan, seorang penulis, novelis, dan sutradara kawakan berdarah Australia-Malaysia yang sudah memiliki beberapa karya sukses memancing decak kagum warga dunia. Dari tangan kreatifnya pula telah melahirkan banyak karya-karya monumental lainnya yang mendahului film Aquaman seperti film bergenre horror paling popular, Insidious. Film Aquaman ini terinspirasi dari cerita yang pernah Plato populerkan dalam salah satu serial bukunya yang menceritakan sebuah gambaran masyarakat ideal yang diberi nama Atlantis.

Bagi para penikmat bacaan filsafat, tentu saja bahasan tentang Atlantis sudah lama menjadi pengetahuan yang diskursus sebab ada pula kalangan yang menganggap jika kisah tentang Atlantis ini merupakan kumpulan imajinas-imajinasi pemikiran Plato tentang gambaran kehidupan yang adil, damai serta dipenuhi kehidupan sejahtera dalammasyarakat. Mungkin kehidupan Atlantis ini bagi Plato, untuk kita umat Islam menjadi representasi sebuah gambaran kehidupan yang dalam Al-Quran disebut dengan baldatun, thoyyibatun wa rabbul ghofur (potongan ayat terakhir Quran Surah Sabah (34) ayat 15).

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengurai lebih lanjut diskursus Plato tentang Atlantis, namun mencoba mengurai satu sudut pandang tentang pesan tersirat dari film tersebut. Secara singkat, film ini berkisah tentang seorang ratu Atlantik yang diperankan oleh Nicole Kidman yang terdampar ke daratan. Dalam keadaan setengah sadar, kemudian diselamatkan oleh seorang petugas menara Mercusuar yang diperankan oleh Temuera Morriso. Seiring berjalannya waktu, cinta bersemi diantara kedua insan yang berbeda alam tersebut. Akhirnya lahirlah, Arthur Curry, sebagai hasil buah cinta tersebut.

Dalam perjalannya, Arthur Curry – yang kelak sebagai Aquaman – yang diperankan oleh Jason momoa. Saat Arthur mulai beranjak balita, ibunya harus meninggalkan daratan menuju kerajaan Atlantis untuk menjalankan kembali tugasnya sebagai seorang ratu. Dilain pihak, lahir pula Raja Orm di Atlantis sebagai saudara tiri dari Arthur Curry. Bagi kalangan Atlantis, Arthur Curry lebih kompeten untuk memimpin Kerajaan Atlantis dimasa mendatang dibanding saudara tirinya meskipun dalam darahnya hanya sebagian dari keturunan Altantis murni. Konflik utama dalam film tersebut adalah perebutan tahta kerajaan Atlantis yang akan mempersatukan kerajaan lainnya seperti yang menjadi kisah turun-temurun, antara Raja Orm dan mereka yang pro dengan Arthur Curry sebagai raja meskipun dia sendiri tidak memiliki keinginan yang kuat dengan titah tersebut.
Menurut hemat penulis, paling tidak ada 3 pesan tersirat yang bisa kita pelajari dari film ini sebagai berikut:

Derasionalistik
Bagi penikmat film-film impor, mungkin kejayaan Harry Potter tidak akan terulang lagi sebagai film yang paling laris di seluruh dunia. Prof. Darmawan Salman dalam salah satu kelas Filsafat beliau justru merespons negative pencapaian tersebut. Menurutnya, fenomena di balik larisnya Harry Potter sebagai sebuah tontonan bagi semua kalangan jangan sampai menjadi indikasi jika masyarakat Barat sedang mengalami sebuah tahap berpikir derasionalistik yang tentu saja ini bertentangan dengan stigma kita ke mereka pasca era renaissance (setelah melalui suatu fase yang kita kenal dengan istilah The dark ages).

Secara sederhana derasionalistik adalah sebuah cara berpikir yang tidak sesuai (baca:berlawanan) dengan kaidah sains dan cenderung percaya dengan hal-hal mistis dan kekuatan supranatural lainnya yang tidak melalui sebuah riset ilmiah. Dalam film Aquaman, juga sangat identik dengan berbagai kekuatan mistis yang dipercaya sebagai satu kekuatan yang bisa menyatukan 7 kerajaan dimana Atlantis sebagai sebagai pusat kekuatan. Lebih lanjut, sumber pemersatu tersebut disimbolkan dengan sebuah tongkat legendaris dari Raja Atlantis pertama.

Tentu saja keadaan ini sangat tidak ideal, apalagi dunia barat (yang sering dirujuk ke Eropa dan Amerika) yang kita kenal sebagai gudang sains dunia dan menjadi pergumulan lahirnya beragam ilmu-ilmu eksakta lainnya. Bahkan ada asumsi yang berkembang bahwa dunia barat dan sains merupakan dua hal yang tak terelakkan lagi hari ini.

Jika menggunakan pendekatan sains untuk melihat dunia laut, tentu saja sangat berbeda dengan gambaran dalam film Aquaman ini. Sudah menjadi pengetahuan umum jika laut salah satu hal yang sangat berperan penting dalam kehidupan manusia sejak abad pra sejarah hingga era post modern saat ini.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved