Berita Hulu Sungai Tengah

Sering Hujan Deras, Petani di HST Terancam Merugi Saat Musim Tanam Inir

Hujan lebat sempat mengguyur Kabupaten Hulu Sungai Tengah sejak Minggu (6/1) lalu. Dampaknya, genangan air di sawah meninggi hingga Jumat (18/1/2019).

Sering Hujan Deras, Petani di HST Terancam Merugi Saat Musim Tanam Inir
banjarmasin post group/ eka pertiwi
Petani di Hulu Sungai Tengah (HST) Syarkawie saat membersihkan sawahnya yang terendam. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Hujan lebat sempat mengguyur Kabupaten Hulu Sungai Tengah pada Minggu (6/1) lalu. Dampaknya, genangan air di sawah meninggi hingga Jumat (18/1/2019).

Beberapa lahan pertanian padi di kawasan Palas Palajau Kecamatan Pandawan terendam air. Padahal anakan padi baru saja ditanam sehari sebelum air menggenang sawah. 

Petani di Desa Palas Kecamatan Pandawan, Syarkawie mengaku beruntung padi yang ditanamnya belum diberi pupuk.

Jika diberi pupuk sudah dipastikan ia akan mengalami gagal tanam. Anakan padi yang ditaman akan membusuk atau orang Hulu Sungai Tengah menyebutnya bangai.

Baca: Fakta di Balik Keputusan Presiden Jokowi Bebaskan Abu Bakar Baasyir Diungkap Yusril Ihza Mahendra

Baca: Ahok Minta Dipanggil BTP Sebelum Kabar Rencana Menikah 15 Februari Nanti, dengan Bripda Puput?

Baca: Link Foto & Video Syur Vanessa Angel Kian Tersebar, Cek Rahasia Robby Abbas Soal Prostitusi Artis

Baca: Jawaban Ranty Maria Atas Momen Lamaran Sang Mantan, Ammar Zoni Pada Irish Bella

"Kalau dipupuk batang padi akan menjadi muda. Terendam sebentar sudah busuk. Kalau ini asal tidak tertindih atau batang padi patah, aman saja," katanya saat sedang membersihkan timbunan sampah di sawahnya. 

Selain itu, ia berharap jika hari ini cuaca bisa cerah agar air surut. "Terendam sehari saja lagi, bisa bangai ini," katanya.

Gagal tanam bukan persoalan baru bagi Syarkawie. Ini merupakan persoalannya saban tahun. Tahun lalu ia harus menanam hingga dua kali tanam. Parahnya, tahun sebelumnya, ia bahkan mengalami tiga kali gagal tanam. 

Tentu ada kerugian materil yang dialami oleh Syarkawie. Mulai dari benih hingga upah tanam. Satu belek benih bisa ditaman di satu borongan lahan sawah. Satu belek ia biasanya membeli sebesar Rp 60 ribu. Termasuk satu borongan menanam padi upahnya pun sama yakni Rp 50 ribu.

Baca: Suasana Latihan Perdana Evan Dimas di Barito Putera Bareng Jacksen untuk Liga 1 2019

Baca: Tangis Nikita Mirzani Sebut Anak Tak Diakui dan Siap Tes DNA di Sidang Mediasi Bersama Dipo Latief

"Kalau gagal tanam harapannya bisa diganti benih saja. Ini saya rugi," keluhnya. 

Selama ini setiap kali rugi gagal tanam, ia tak pernah mendapat ganti rugi. "Dulu ada di data tapi tak ada bantuan," katanya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Zainuddin,  untuk pertanian sudah ada program AUTP (Asuransi Usahatani Padi), yang diajukan oleh masing-masing petani. Apabila petani yang kena musibah banjir akan ada penggantian, yang dinyatakan oleh Pengamat Hama Penyakit setempat.

"Setiap musim tanam ada, premi Rp 36 ribu per hektare. Kalau gagal panen, klaim asuransinya Rp 6 juta per hektare. Itu khusus gagal panen," ujarnya.

(banjarmasinpost.co.id/Eka Pertiwi)

Penulis: Eka Pertiwi
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved