Jendela

Cinta Buta Politis

Semua mata tertuju kepadanya, baik yang suka ataupun murka. Seorang tokoh adalah pusat perhatian, dan perhatian dapat melahirkan cinta atau benci.

Cinta Buta Politis
Mujiburrahman 

OLEH: MUJIBURRAHMAN
Rektor UIN Antasari

Seorang tokoh politisi, apalagi calon presiden dan wakil presiden, tentulah bukan sembarang orang. Dia laksana magnet yang menarik logam-logam di sekitarnya, atau laksana strawberi di atas kue.

Semua mata tertuju kepadanya, baik yang suka ataupun murka. Seorang tokoh adalah pusat perhatian, dan perhatian dapat melahirkan cinta atau benci. Inilah akar dari fanatisme politik.

Mengapa cinta bisa melahirkan fanatisme politik? Karena cintanya buta. Cinta itu positif, tetapi buta itu tidak. Buta artinya tidak bisa melihat. Cinta buta berarti karena sudah cinta, maka dia tidak bisa lagi melihat kekurangan yang dicinta. Jika diberitahu pun tentang kekurangan itu, dia tidak mau tahu.Tidak mau tahu lama-lama menjadi tidak tahu. Tidak tahu artinya bodoh. Fanatik bisa identik dengan bodoh.

Di era media saat ini, cinta buta di dunia politik itu bisa direkayasa melalui pencitraan. Pencitraan itu bahasa halus dari penipuan melalui penampakan di depan publik, baik melalui media maupun tatap muka. Rekayasa itu tidak hanya dalam bentuk penampilan, tetapi juga dalam bentuk berita dan narasi yang memuja sang idola. Pencitraan ini bisamembuat yang belum jadi cinta, dan yang cinta tambah cinta.

Masalahnya, politik itu soal kawan atau lawan. Lawan cinta adalah benci. Cinta menggebu kepada paslon tertentu dapat memicu benci membara kepada saingannya. Agar api cinta dan benci itu terus berkobar, rekayasa pencitraan pun dilancarkan. Sang idola dipuja setinggi langit, sementara saingannya dihina serendah-rendahnya. Berita dan opini yang menggiring k earah itu terus diproduksi dan disebarkan.

Masalah kian bertambah karena cinta-benci politis bukan urusan pribadi antara Romeo dan Juliet. Politik di era demokrasi adalah soal persaingan antara kubu tertentu dengan kubu lainnya, antara masyarakat pendukung paslon tertentu dengan pendukung paslon lawannya. Akibatnya, cinta-benci itu tidak hanya terkait sang idola, melainkan juga para pendukungnya. Kubu sini membenci kubu sana, dan sebaliknya.

Yang kita khawatirkan adalah, cinta-benci itu menggelinding laksana bola salju yang terus membesar di antara para pendukung masing-masing paslon. Seolah yang di sini malaikat, yang di sana setan. Seolah yang di sini ahli surga, yang di sana ahli neraka. Fanatisme buta semacam ini tidak hanya memecah masyarakat, tetapi juga bisa merusak hubungan antaranggota keluarga yang berbeda pilihan politik.

Cinta buta dan benci buta itu akhirnya membuat orang tidak lagi melihat dunia sebagaimana adanya. Ukuran baik dan buruk, benar dan salah, sudah tidak berlaku lagi. Apapun yang dikatakan dan dilakukan sang idola adalah baik dan benar, dan apapun yang dikatakan dan dilakukan lawannya selalu buruk dan salah. Kebaikan seolah menyatu dalam diri sang idola dan kejahatan menyatu dalam diri lawannya.

Cinta buta dan benci buta itu berlebihan. Setiap yang berlebihan akan membahayakan. Sikap yang tepat adalah posisi tengah antara dua sisi yang berlebihan itu. Inilah yang disebut moderat atau wasathiyyah. “Cintailah kekasihmu sewajarnya. Boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci sewajarnya. Boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang kaucintai,” kata Nabi.

Namun, sikap moderat itu tampaknya tidak mudah di era serbaberlebihan dan melampaui batas ini. Kini nafsu serakah adalah penguasa manusia yang sesungguhnya. Berapa pun penghasilan bertambah, masih saja orang merasa kurang. Sudah berpuluh tahun menjadi pejabat, masih saja gatal ingin berkuasa. Meskipun isteri di rumah cantik jelita, masih saja jajan di luar, walau harus membayar puluhan juta.

Mengapa orang menjadi ekstrem alias berlebihan? “Karena mereka kehilangan pusat,” kata Seyyed Hossein Nasr. Pusat itu berada di tengah. Pusat itua dalah asal sekaligus arah. Matahari adalah pusat galaksi. Ka’bah adalah pusat ibadah. Hati nurani adalah pusat kesadaran. Nabi adalah pusat agama. Tuhan adalah pusat segalanya. Ketika pusat terlepas, maka orang terlempar keluar orbit, tak tentu arah.

Alhasil, politisi idola hanya layak menjadi pusat orbit rakyat manakala dia sendiri tak terlepas dari pusat kehidupan yang sejati. Politisi itu bukan Tuhan, bukan pula malaikat. Dia adalah manusia seperti kita! (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved