Berita Kabupaten Banjar

Dua Desa di Kabupaten Banjar Ini Bakal Dijadikan Agrowisata Kampung Bunga, di Sini Tempatnya

Jika Anda menyukai bunga melati (jasminum), datang lah ke Desa Jingah Habangilir di Kecamatan Karangintan atau ke Desa Labuantabub

Dua Desa di Kabupaten Banjar Ini Bakal Dijadikan Agrowisata Kampung Bunga, di Sini Tempatnya
DINAS TPH BANJAR untuk banjarmasinpost.co.id
Inilah hamparan kebun bunga melat di Desa Jingah Habangilor yang ranum menghijau, memanjakan mata. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Jika Anda menyukai bunga melati (jasminum), datang lah ke Desa Jingah Habangilir di Kecamatan Karangintan atau ke Desa Labuantabub di Kecamatan Martapura.

Di dua desa bertetangga itu, bola mata Anda akan tersegarkan oleh hamparan kebun bunga melati yang menghijau ranum bertabur warna putih kuntum bunganya.

"Jingah Habangilir dan Labuantabu masuk dalam kawasan yang rencananya akan kami tetapkan sebagai kawasan agrowisata Kampung Bunga," beber Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Kabupaten Banjar HM Fachry, Senin (21/01/2019).

Selain dua desa tersebut, ada tiga desa lainnya yang juga banyak hamparan tanaman bunga melatinya yakni Desa Pandakdaun dan Bincau di Kecamatan Martapura. Lalu, satu desa lagi yakni di Jingah Habangulu, Kecamatan Karangintan.

Baca: Ahok dan Bripda Puput Disebut-sebut Mau Menikah, Ayahanda Puput Buka-bukaan Soal Kelakuan Anaknya

Baca: Jadwal Babak 16 Besar Liga Champion 2018/2019 MU vs PSG, Liverpool vs Bayern Munchen

Baca: Cek Dapur Lapas Karangintan, Kadiv Pas Juga Ingatkan Petugas Jangan Terlibat Barang Haram Ini

Namun yang paling dominan berada di Desa Jingah Habangilir. Pemilik kebun melati terluas sekaligus pioneer-mya juga berada di desa ini yakni H Abdul Muin.

Jadi di kawasan tersebut kelak juga dikembangkan aneka tanaman bunga lainnya. Di antaranya bunga mawar, kenanga, dan kantil. Apalagi ragam jenis bunga ini juga telah akrab dengan kalangan petani setempat.

"Kelak mereka juga dilatih untuk merangkai dan mengolah serta mengawetkan bunga tersebut," sebut Fachry didampingi Kasi Pembinaan Mutu Pengolahan dan Pemasaran Dinas TPH Banjar Ida Fitriani.

Pengolahan penting dilakukan saat panen raya yang kerap dibarengi anjloknya harga jual. Karenanya perlu teknologi pascapanen seperti mengolahnya menjadi minyak mawar, minyak melati, dan minyak melati serta awetan bunga sebagai pajangan.

Selain itu, nanti pihaknya bersama aparat desa setempat akan membuat area swafoto sehingga menarik untuk dikunjungi wisatawan. Jadi, layak dijadikan kampung bunga sebagai wisata edukasi berbasis pertanian.

"Bunga melati juga bermanfaat sebagai bunga tabur, bahan industri minyak wangi, kosmetika, farmasi, penghias rangkaian bunga dan bahan campuran atau pengharum teh," timpal Ida.

Dikatakannya, bunga yang dijuluki puspa bangsa ini melambangkan kesucian dan kemurnian. Keberadaannya juga kerap dikaitkan dengan berbagai tradisi dan keyakinan tertentu yang menilai bunga melati (berwarna putih) sebagai sebuah persembahan yang sakral. Karena itu, pasar melati takkan pernah mati.

(banjarmasinpost.co.id/roy)

Penulis: Idda Royani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved