Berita Kabupaten Banjar

Diguyur Hujan, Begini Nasib Bawang Merah yang Ditanam Bupati Banjar di Sungai Tabuk Oktober Lalu

Penuturan petani setempat, Selasa (22/01/2019), penyebab kegagalan penanaman bawang merah itu akibat guyuran hujan yang bertubi-tubi.

Diguyur Hujan, Begini Nasib Bawang Merah yang Ditanam Bupati Banjar di Sungai Tabuk Oktober Lalu
banjarmasinpost.co.id/idda royani
GAGAL - Untung Wahyu Purnomo menanam bibit bawang merah pada pengujung Oktober 2018 lalu. Akibat guyuran hujan bertubi-tubi, penanaman bawang ini gagal. Umbinya rusak lalu mati. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Pengujung Oktober 2018 lalu, Bupati Banjar H Khalilurrahman melakukan penanaman bibit bawang merah (alium cepa varascalonicum) di Desa Pejambuan, Kecamatan Sungaitabuk. Lama tak terdengar kabarnya, ternyata nasib bawang merah tersebut kini tinggal cerita.

Penuturan petani setempat, Selasa (22/01/2019), penyebab kegagalan penanaman bawang merah itu akibat guyuran hujan yang bertubi-tubi. Praktis, hal itu berdampak terhadap kerusakan umbi bawang yang tak tahan kelembaban tinggi.

"Tak lama setelah acara penanaman dulu itu, hujan mulai sering menguyur desa kami. Akibatnya umbi bibit bawang merahnya rusak, membusuk lalu mati. Soalnya, memang bawang merah menghendaki iklim yang agak kering," ucap Untung Wahyu Purnomo, petani Pejambuan.

Kegagalan itu mendera hamparan penanaman bawang seluas sekitar satu borong yang ditanam Bupati bersama jajaran pejabat Pemkab Banjar pada 30 Oktober 2018 lalu. Di lahan sekitarnya sekitar satu hektare, saat itu, telah tertanami bawang merah berusia beberapa pekan.

Baca: Durian si Lasung Juara Kontes Durian 2019 di Obyek Wisata Danau Tamiyang Desa Mandikapau

Baca: Pengumuman KemenPan-RB! 100 Ribu lowongan CPNS Dibuka Maret 2019, untuk Kalsel?

Baca: NEWSVIDEO : Siring Jalan Datu Daim Kelurahan Karang Jawa Pelaihari Longsor Setelah Sungai Dikeruk

Ketua Kelompok Tani Bina Guna ini menuturkan hamparan pertanaman bawang lainnya di kawasan setempat seluas 1 hektare masih bisa menghasilkan meski tak optimal. "Kemarin itu dipanen muda mengingat curah hujan terus meninggi sehingga tentu hasilnya kurang memuaskan," sebutnya.

Dijelaskannya, hamparan penanaman bawang merah seluas satu hektare itu dikelola oleh sepuluh orang petani. Ada yang menggarap satu borong (1 hektare=35 borong), ada juga yang dua hingga tiga borong.

Karena itu hasilnya pun beragam. "Ada yang dapat tiga kuintal (1 kuintal=100 kilogram), ada juga yang dapat 4 kuintal. Kalau saja tidak keburu penghujan, pasti hasil panenanya jauh lebih banyak lagi," tandas Untung.

Meski merasakan risiko pahit terdampak tingginya intensitas curah hujan, namun kalangan petani di Pejambuan tidak jera mengembangkan bawang merah. "Nanti saat kemarau atau setelah musim panen padi, kami akan menanam bawang merah lagi," ucap petani Pejambuan lainnya.

Mereka tetap menaruh harapan besar pada usahatani bawang merah. Pasalnya harga bawang merah lebih prospektif karena cenderung lebih kerap naik. Meski terjadi penurunan harga pun, tetap tidak begitu merugikan.

Apalagi lahan pertanian di Pejambuan sangat cocok dikembangkan untuk pembudidayaan bawang merah. Terbukti pada penanam perdana sekitar pertengahan 2018 lalu, petani setempat sukses panen raya.

Baca: Beda Perlakuan Al Ghazali pada Adiknya dari Anak Mulan Jameela & Maia Estianty Diposting Ahmad Dhani

Baca: Pernikahan Impian Syahrini dan Luapan Kecewa Aisyahrani Soal Kedekatan Eks Luna Maya, Reino Barack

Baca: Tanpa Pengacara, Herman Pembunuh Levie Prisilia di Mobil di Gambut Tenang Diperiksa Jaksa

Menggunakan bibit dari Jawa varietas Bima Brebes, hasil panennya sepuluh kali lipat. Tanam satu kilogram, panennya sepuluh kilogram. Selain itu, warnanya juga sama persis dengan yang dikembangkan di Jawa yakni merah cerah, termasuk cita rasanya juga sama. Kondsi ini berbeda dengan yang dikembangkan di Kabupaten Tanahlaut, penampakan panenan bawangnya berwarna merah gelap.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Banjar HM Fachry optimistis pengembangan bawang merah di Kabupaten Banjar bisa sukses dan mempu menjadi sumber penghasilan yang potensial bagi para petani. Tinggal melakukan penyesuaian waktu tanam untuk menghasilkan panenan yang baik.

Pihaknya juga meyakini lahan di wilayah lain di Kabupaten Banjar cocok untuk dikembangkan bawang merah. Bahkan dirinya berobsesi pada rentang waktu tiga tahun mendatang bisa merealisasikan pembudidayaan bawang merah seluas 25 hektare. Lokasinya selain di Pejambuan yakni di Alamroh (Sungaitabuk) dan di wilayah Kecamatan Simpangempat dan Sungaipinang.

(banjarmasinpost.co.id/roy)

Penulis: Idda Royani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved