Keunikan Masjid Lancip di Amuntai

Masjid Lancip Sempat Direnovasi Hingga Ditinggikan, Sumber Pendanaannya Dari Warga Johor Malaysia

Masjid Lancip Sempat Direnovasi Hingga Ditinggikan, Sumber Pendanaannya Dari Warga Johor Malaysia

Masjid Lancip Sempat Direnovasi Hingga Ditinggikan, Sumber Pendanaannya Dari Warga Johor Malaysia
banjarmasin post group/ reni kurnia wati
Jemaah sedang berada di dalam Masjid Lancip di Amuntai, Kabupaten HSU 

Keindahan Pataka diujung masjid

BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI - Masjid Assu'ada atau Masjid Lancip yang merupakan masjid cagar Alam Amuntai telah direnovasi benerapa kali.

Sehubungan atap masjid banyak yang telah bocor, maka pada tahun 2009 dilakukan lagi renovasi dengan mengganti atap sirap dengan atap metal zincalum/roof.

Pada saat penggantian inilah, beberapa hiasan ujung talang atap masjid atau simbar, cabang yang ada pada ketiga tingkatan atap masjid, dilepas dan tidak dikembalikan ke posisi semula.

Pada tahun 2010, kembali dilakukan pemugaran dengan mengganti bahan kayu sintok pada kubah bangunan induk menjadi kayu balangiran, serta membeton bangunan mikrab dan mengganti kubah migrab dengan bahan baru, meski bentuk kubahnya masih dipertahankan.

Baca: Daftar Inisial 21 Artis Diduga Terkait Prostitusi Online Artis FT Vanessa Angel Diungkap Polda Jatim

Baca: Jadwal Haul Habib Basirih dan Penjelasan Panitia Saat Pelaksanaan Dikaitkan dengan Partai & Paslon

Baca: Ustadz Abdul Somad Bakal Sambangi Markas Persib Bandung, Ternyata Ini Tujuan Kedatangannya

Baca: Raline Shah Ungkap Kedekatannya dengan Suami Nikita Mirzani, Dipo Latief, Sempat Berada di Jepang

Bulan April 2012, masjid ini kembali direnovasi dengan cara meninggikan lantai masjid, namun ubin tua tetap dipertahan. Peninggian lantai dilakukan karena sebelumnya telah pernah terjadi banjir pasang yang nyaris menenggelamkan lantai masjid.

Biaya meninggikan lantai masjid ini ditanggung sepenuhnya oleh warga keturunan Banjar asal Johor Malaysia, yang orang tuanya dahulu berasal dari desa Waringin.

Suasana mimbar atau bagian dalam Masjid Lancip di Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara
Suasana mimbar atau bagian dalam Masjid Lancip di Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara (banjarmasin post group/ reni kurnia wati)

Keaslian yang dapat dilihat pada masjid ini selain konstruksi atap tumpang yang masih dipertahankan adalah adanya hiasan puncak kubah bangunan induk yang disebut pataka (mustaka, memolo) dengan beberapa hiasan ujung talang masjid (simbar, cabang).

Selain itu tiang utama atau soko guru, mimbar, ubin, beduk, dan 2 buah daun pintu dengan ukiran hiasan bermotif tumbuhan dan kaligrafi di sisi utara dan selatan juga masih dipertahankan.

Salah satu pengunjung, Sugeng terlihat akan masuk ke Masjid Lancip, di Desa Waringin, Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Salah satu pengunjung, Sugeng terlihat akan masuk ke Masjid Lancip, di Desa Waringin, Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara. (banjarmasin post group/ reni kurnia wati)

Dahulunya daun pintu itu ada 3 yakni satunya lagi ada di dinding masjid sebelah timur. Inskripsi berupa kaligrafi pada pintu masjid itu berbunyi abubakar umar wallahu khalakakum wama ta’ maluna lailahaillalahu muhammadarrasulullahu usman ali.

"Hingga sekarang, masjid ini tetap dikeramatkan dan dikunjungi penziarah dari berbagai daerah. Pengunjung yang berziarah selain untuk memenuhi nazar, juga tertarik dengan kekunoan masjid ini. Saat berkunjung mereka biasa meletakkan untaian kembang di mimbar masjid," ujar Taufik Kepala Desa Waringin. (banjarmasinpost.co.id/ reni kurnia wati)

Penulis: Reni Kurnia Wati
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved