B Focus Banua Anam

Gudangnya Kopiah Jangang, Semakin Rumit Harga Capai Jutaan Rupiah, Sayang, Pengrajin Terkendala ini

DESA Margasari Hilir, Kecamatan Candi Laras Utara, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, boleh dikata gudangnya kopiah jangang.

Gudangnya Kopiah Jangang, Semakin Rumit Harga Capai Jutaan Rupiah, Sayang, Pengrajin Terkendala ini
BPost Cetak
B Focus Banua Anam edisi cetak Rabu (23/1/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - DESA Margasari Hilir, Kecamatan Candi Laras Utara, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, boleh dikata gudangnya kopiah jangang.

Di sini merupakan kampungnya perajin peci berbahan dasar akar jangang itu.

Salah satu pengrajin kopiah jangang, adalah Basnah (70).

Dia mengaku menggeluti usaha produk kopiah jangang sudah hampir 55 tahun.

Masih ada sejumlah alat ukur kepala pemesan kupiah jangang di rumahnya.

Alat raut akar jangan juga dimilikinya dari bahan kaleng yang ditusuk paku dari ukuran besar hingga paling kecil.

Menurut Basnah, Alat jangang yang diolah menjadi kopiah jangang berbagai ukuran dan bentuk itu bahan bakunya dari Provinsi Kalimantan Tengah.

Baca: Sifat Buruk Baim Wong Diungkap Paula Verhoeven pada Ibunya, Tapi Reaksinya Malah Begini

Baca: Kemarahan Hotman Paris Saat Dituduh Minta Honor di Kasus Pesawat Lion Air Jatuh, Cek Klarifikasinya

Baca: Sikap Abu Bakar Baasyir Soal Status Bebasnya Usai Putusan Presiden Jokowi

Baca: Syahrini Buka-bukaan Identitas Calon Suami, Apakah Eks Luna Maya, Reino Barack? Tapi Ini Syaratnya

Baca: Jadwal Penerimaan CPNS 2019 & Formasi dari Kemenpan RB, Pendaftaran Tak Via sscn.bkn.go.id

Ilmu membuat kopiah jangang itu, diakuinya, dari mulai belajar menganyam akar jangang bersama neneknya hingga kini sebagai pengempul untuk dijual kepada pemesan.

"Satu kilogram akar jangang itu harganya Rp 20 ribu. Kalau raut dihaluskan tidak sampai satu kilogram lagi beratnya. Cara membuat jika akar semakin halus maka semakin rumit dan butuh waktu sekitar satu bulan serta harga jualnya Rp 500 ribu bahkan jutaan," katanya.

Sulitnya bahan baku akar jangang itu diakui Basnah adalah kendala para pengrajin kopiah jangang di sekitar tempat tinggalnya.

Itu karena bahan baku akar jangang harus memesan dengan pemasok akar jangang asal Kalimantan Tengah.

Tak hanya itu, selama ini pengrajin jangang, diakui Basnah, kesulitan modal usaha.

Itu karena bahan baku akar dibeli mengandalkan uang pribadi dari hasil penjualan kopiah laku.

"Kopiah jangang saat dibuat belum tentu langsung laku terjual. Makanya, kami berharap permodalan usaha. Kalau akar jangang banyak, tentunya produk kopiah jangan banyak. Kalau bahan baku dibeli dalam jumlah banyak harganya murah. Kalau sedikit belinya harga akar jangangnya tinggi," katanya.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved