Berita Banjarmasin

Banyak Kredit Macet, Apersi Kalsel Keberatan Rencana Kenaikan Suku Bunga KPR Komersial

Rencana kenaikan suku bunga bagi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) akan diberlakukan pada tipe hunian komersial. Kenaikan ini mengacu pada suku bunga acuan

Banyak Kredit Macet, Apersi Kalsel Keberatan Rencana Kenaikan Suku Bunga KPR Komersial
Istimewa/PT Jofa Dini Lestari.
Ilustrasi / Hunian KPR bersubsidi di Banjarmasin dan sekitarnya. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Rencana kenaikan suku bunga bagi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) akan diberlakukan pada tipe hunian komersial. Kenaikan ini mengacu pada suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Semula suku bunga angsuran yang diterapkan 8 persen flat selama tiga tahun, kemudian menjadi 13 persen untuk angsuran tahun berikutnya.

Ketua Ketua Bidang Perizinan dan Pertanahan, Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Kalimantan Selatan (Kalsel), Muhammad Fikri menyatakan keberatan adanya kenaikan tersebut.

"Dari suku bunga semula 8-13 persen saja dumi beberapa sektor hunian komersial banyak kredit macet, apalagi ditambah kenaikan suku bunga jelas semakin terjun bebas dan mengalami penurunan," jelas dia kepada Banjarmasinpost.co.id.

Baca: 5 Fakta Ahok (BTP) dan Bripda Puput Segera Menikah, Surat Izin ke Lurah Hingga Sikap ke Calon Mertua

Baca: Buka-bukaan Vigit Waluyo Soal Persija Jakarta Juara Liga 1 2018 Settingan Soal Pengaturan Skor

Baca: 2 Lelaki di Banjarmasin Jual Sabu ke Polisi yang Menyamar, Begini Nasibnya

Terlebih pengeluaraan biaya hidup perbulan yang cukup tinggi tidak dibarengi dengan penghasilan yang memadai, hal ini menjadi pertimbangan calon debitur KPR komersial.

Rumah komersial tidak dibatasi harga cash perunit sebagaimana harga Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) rumah subsidi Masyarakat

Berpenghasilan Rendah (MBR) yang ditetapkan oleh Pemerintah pusat. Dijelaskan Fikri, di Kalsel yang termasuk hunia komersial mulai dari tipe 36+/42 seharga Rp 200 jutaan, tipe 45 dijual seharga Rp 250 juta ke atas, tipe 55 di banderol Rp 450 jutaan.

Baca: Jelang Imlek 2019 - Ramalan Shio Harimau di Tahun Babi Tanah pada Tahun Baru China 2569

Baca: Uniknya Jagung Bakitih, Panganan yang Masih Sering Ditemui di Barabai

Berbeda dengan rumah subsidi, pihak Apersi tidak dilibatkan langsung dalam hal pengkajian kenaikan harga. Pemerintah umumnya langsung menentukan kebijakan sesuai suku bunga BI Rate.

Terkait pembangunan rumah komersial di 2019 ini, Fikri mengatakan, beberapa pengembang masih ragu untuk menambah unit baru.

"Rekan-rekan pengembang saat ini masih fokus pembangunan FLPP, sebab banyak stok-stok rumah komersial yang ready masih belum laku," tukasnya. (banjarmasinpost.co.id/Mariana)

Penulis: Mariana
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved