Opini Publik

(Pasca) Euforia Adipura

Sepekan lebih, pasca euforia anugerah Adipura 2018, yang menasbihkan 10 kota/kabupaten di Kalsel, dimana 8 kota/kabupaten mendapat piala Adipura

(Pasca) Euforia Adipura
istimewa/ diskominfo Tabalong
Penyambutan tropi Adipura yang diraih Kabupaten Tabalong untuk ketiga kalinya digelar di halaman Pendopo Bersinar, Tanjung, Kamis (17/1/2019), bersamaan dengan pelaksanaan Upacara Hari Kesadaran Nasional. 

Oleh: MUH. FAJARUDDIN ATSNAN MPD, Dosen STKIP PGRI Banjarmasin

Sepekan lebih, pasca euforia anugerah Adipura 2018, yang menasbihkan 10 kota/kabupaten di Kalsel, dimana 8 kota/kabupaten mendapat piala Adipura, yakni Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Tapin, HST, Kabupaten Tanahlaut dan Kabupaten Tanahbumbu. Sedangkan, 2 kabupaten yakni Balangan dan HSU mendapat sertifikat Adipura, yang membanggakan masyarakat Banua.

Muncul satu pertanyaan sekaligus tantangan yang diulas dalam tajuk BPost berjudul “Adipura Bukan Pura-pura”(14/01/2019), bahwa anugerah adipura bukan sekadar prestasi untuk dibangga-banggakan, tetapi yang terpenting adalah bukti bahwa daerah yang bersangkutan benar-benar mampu mengelola lingkungan bersih, teduh, sesuai semangat program Adipura. Terkhusus untuk Kota Banjarmasin, raihan prestasi Adipura Kirana tahun ini merupakan kuatrik, sehingga sudah saatnya serius membidik Adipura Kencana, yang lepas dari target tahun ini. Salah satunya dengan mengedukasi masyarakat akan pentingnya hidup bersih dan sehat.

Peduli Kebersihan
Berada di lingkungan yang nyaman, bersih dan bebas dari polusi sampah, menjadi dambaan/keinginan dari setiap kita. Minimal, dengan berada di tengah lingkungan yang bersih dan bebas sampah, berarti meminimalisir peluang anggota keluarga kita akan terjangkitnya berbagai penyakit yang ditimbulkan akibat bakteri dan terhindarnya dari bencana seperti banjir pada saat musim penghujan tiba.

Dambaan akan lingkungan bersih dari sampah, sangat dapat terwujud, manakala setiap individu di lingkungan masyarakat, bersikap peduli akan kebersihan, minimalnya lingkungan rumah masing-masing, serta sadar diri membuang sampah pada tempatnya dimanapun berada, yang berarti juga telah membantu para petugas kebersihan.Masih banyak kita jumpai tumpukan sampah di beberapa titik dengan bau menyengat sehingga menimbulkan pencemaran, yang seharusnya jadi warning bagi warga Banua pada umumnya, dan warga Banjarmasin pada khususnya, jika serius mengejar target Adipura Kencana 2019, untuk turut berpartisipasi konkret lewat aksi nyata dalam penanganan sampah.

Solusi atas permasalahan sampah yang tak kunjung usai, memang diperlukan tindakan konkret (nyata) oleh setiap individu, serta kerjasama antara individu yang tergabung dengan masyarakat bersama pemerintah sebagai perumus kebijakan, untuk memunculkan kesadaran peduli sampah.

Tumpukan sampah yang terus-menerus yang berakibat tidak baik pada kesehatan, serta berpotensi melahirkan bencana alam seperti banjir, rob, saat penghujan, selain perlu diimbangi dengan perluasan lahan TPS (Tempat Pembuangan Sampah) maupun TPAS (Tempat Pembuangan Akhir Sampah), juga sekiranya diimbangi dengan kesadaran masyarakat untuk dapat mengurangi sampah (baca: sampah rumah tangga) yang dihasilkan.

Misalkan (terpaksanya) masih belum bisa mengurangi produksi sampah, maka seyogianya setiap individu perlu lagi belajar bagaimana memilah antara sampah yang bisa didaur ulang serta bisa mendatangkan keuntungan, dengan sampah yang tak dapat didaur ulang kembali.Namun, harapannya, bukan sekadar memilah, tetapi juga mengembangkan ide kreatif untuk memberdayakan sampah, misalnya sisa nasi yang sudah tidak berdaya guna, kemudian dijemur dan dikeringkan sehingga bisa untuk pakan ternak, sekaligus menambah penghasilan keluarga.

Kelola Sampah
Salah satu cara kreatif dalam hal pengelolaan sampah, dengan semakin sempitnya lahan yang disulap menjadi tempat pembuangan akhir sampah, adalah dengan mengurangi produksi sampah sehari-hari. Substitusi fungsi antara produk lokal seperti tas purun yang menggantikan kantong plastik bisa dilakukan, selain dengan melakukan perencanaan sebelum berbelanja.

Mengurangi volume sampah plastik yang tidak terurai oleh decomposer, sejatinya sudah dilakukan oleh pemerintah kota Banjarmasin, melalui perwali nomer 18 tahun 2016 tentang larangan menggunakan kantong plastik pada retail modern di Banjarmasin. Bahkan berbagai inovasi terus digalakkan oleh Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina, melalui gebrakan-gebrakan untuk lebih menjadikan kota ini lebih bungas dan bersih lagi. Mengeluarkan himbauan yang sifatnya wajib kepada para ASN (Aparatur Sipil Negara) untuk berkontribusi dalam hal barasih, melalui nasabah bank sampah, yang diharapkan mampu mengajarkan tatacara memilah sampah rumah tangga yang bisa didaur ulang dan tidak, hingga memasukkan sampah apa saja yang layak jual dan tidak layak jual, yang patut diistiqomahkan.

Ubah gaya hidup
Di zaman serba maju dan instan seperti saat ini, sampah dianalogkan sebagai potensi limbah terutamanya yang berwujud plastik sebagai bahan komoditas mulai disadari para perlaku bisnis di Indonesia. Bermunculnya industri-industri daur ulang plastik di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, bahkan di Kalimantan, berdampak positif bagi lingkungan, dimana adanya daur ulang plastik misalnya, dapat membuka lapangan kerja baru, seperti tenaga sortir plastik, tenaga giling, tenaga pengepakan sampai staf administrasi dan keuangan, selain tentunya mengurangi polusi limbah plastik.

Dilematisnya ketika industri-industri tersebut terkendala masalah bahan baku akibat dari belum adanya kebijakan dari pemerintah untuk mengikutsertakan masyarakat sebagai konsumen untuk ikut berperan dalam daur ulang sampah. Jika harapan pemerintah untuk mewujudkan Indonesia bersih dari sampah tahun 2020, seyogianya dari sekarang, dipikirkan masalah pembuangan sampah yang tercampur, sehingga dapat merusak dan mengurangi nilai dari material yang mungkin masih bisa dimanfaatkan lagi. Di mana, bahan-bahan organik dapat mengkontaminasi bahan-bahan yang sebenarnya mungkin masih bisa didaur ulang.

Sudah saatnya, kita menapak tilas jejak negara-negara maju dalam hal pengelolaan sampah. Misalnya saja Jepang. Dimana daur ulang di Jepang dilakukan secara besar-besaran, dengan melibatkan seluruh masyarakat, lengkap diatur dengan undang-undang.
Para konsumen bertanggung jawab untuk memilah-milah sampah masing-masing (sampah basah, sampah kering yang dipilah-pilah lagi menjadi botol gelas dan plastik, kaleng aluminium, dan kertas, sedangkan pemerintah daerah bertanggung jawab mengorganisir sampah-sampah itu untuk diserahkan ke pabrik pendaur ulang.

Dalam tataran yang sama, kita tentu bisa dengan mudah menerapkan kebiasaan orang-orang di Jepang dalam pengelolaan sampah, manakala ada sentuhan pemerintah, para public figure, para tokoh untuk bergandengan tangan, menjaga kebersihan dan bebas sampah, secara kontinyu dan berkelanjutan. Kita dapat mengubah gaya dan pola hidup yang bersangkutan langsung dengan produksi sampah, misalnya dengan membawa keranjang sendiri saat berbelanja, sehingga meminimkan banyak plastik untuk setiap jual beli.

Akhirnya, menyelesaikan persoalan sampah tidak sebatas pada penyiapan lahan untuk “menumpuk” sampah di suatu lokasi tertentu (baca: TPS/TPAS), atau dengan menyediakan bank-bank atau tempat sampah di titik-titik tertentu. Namun, perlu kembali mengedukasi masyarakat dalam hal bagaimana cara pengelolaan sampah yang benar, dengan terlebih dulu menyadarkan diri sendiri akan pentingnya kebersihan dengan mengelola sampah secara tepat dan bijak, serta cerdas dalam bergaya hidup dengan tetap modern tetapi punya feel cinta lingkungan. Sudahkah kita turut serta dalam menjaga kebersihan lingkungan? Minimal dengan tidak membuang sampah sembarangan alias membuangnya pada tempat yang sudah disediakan, berarti kita sudah berkontribusi dalam menjaga kebersihan.Semoga. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved