Berita Kabupaten Banjar

Tanaman Terendam dan Mati, Segini Kerugian Petani Pejambuan Sangai Tabuk, Kabupaten Banjar

Rusmanto dan kalangan petani Pejambuan menanam tanaman sayuran sebagai tanaman jeda sebelum tiba waktu bercocok tanam padi.

Tanaman Terendam dan Mati, Segini Kerugian Petani Pejambuan Sangai Tabuk, Kabupaten Banjar
banjarmasinpost.co.id/idda royani
TENGGELAM - Tanaman cabai petani Pejambuan layu dan mati akibat tingginya genangan air di hamparan persawahan setempat. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Seperti di Desa Mekar, Kecamatan Martapura Timur, kerugian materil juga dialami sejumlah petani di Desa Pejambuan, Kecamatan Sungaitabuk. Ini menyusul matinya tanaman sayuran yang mereka budidayakan.

Penyebabnya sama yakni dalamnya genangan air di hamparan persawahan akibat tingginya intensitas curah hujan yang terjadi sejak awal pekan tadi. Hal itu menyebabkan tanaman kekurangan oksigen sehingga fase vegetatif terganggu, dan bahkan terhenti. Bagian akar pun juga membusuk akibat terus menerus terendam air.

Antara lain petani Pejambuan yang tanaman sayurannya tenggelam dan mati yakni milik Rusmanto. "Sudah pasti mati, tidak bisa lagi diselamatkan karena akarnya membusuk," sebut Untung Wahyu Purnomo, penyuluh swadaya Pejambuan, Kamis (24/01/2019).

Dikatakannya, beberapa pekan lalu Rusmanto dan kalangan petani Pejambuan menanam tanaman sayuran sebagai tanaman jeda sebelum tiba waktu bercocok tanam padi. Komoditas yang ditanam antara lain cabai, kacang panjang, dan mentimun.

Baca: Uang Jajan Putra Maia Estianty, Dul Jaelani dari Irwan Mussry Terungkap, Sama dengan Ahmad Dhani?

Baca: Beda Reaksi Jokowi & Anies Baswedan Ahok Bebas Besok, Jokowi Terserah Ahok, Anies Siap Layani

Baca: Kabar Pernikahan Ammar Zoni dan Irish Bella Dimajukan, Pemeran Cinta Suci SCTV Ini Buat Foto Prewed

Rusmanto menanam cabai besar daan baru berusia sekitar satu bulan saat area sawah setempat tenggelam. Tegakan tanamannya sebanyak 5.000 batang. "Sudah pasti kalau Rp 5 juta bablas (merugi). Itu biaya bibit, pupuk, pengolahan tanah dan lainnya," sebut Untung.

Tokoh petani Pejambuan ini menuturkan biaya produksi budidaya cabai per batang mulai tanam hingga panen sebesar Rp 5.000. Artinya, jika batang cabai yang ditanam 5.000 batang maka modal usaha tani yang tersedot sebesar Rp 25 juta. Namun karena tanaman yang tenggelam baru berusia sekitar satu bulan sehingga kerugian yang ditanggung tak mencapai sebesar itu.

Saat ini genangan di persawahan Pejambuan memang mulai menyusut seiring cerahnya cuaca sejak Rabu (23/01/2019). Namun penyusutan genangan air tak signifikan akibat sporadisnya sedimentasi saluran pembuangan setempat.

Bahkan kalangan petani terpaksa menjebol tanggul saluran di beberapa tempat guna mempercepat penurunan genangan air di sawah. Jika langkah ini tidak dilakukan, bakal makin banyak tanaman sayuran yang mati. Selain itu, juga kesulitan jika ingin melakukan penanaman sayuran lagi.

"Saya belum mendata jumlah detilnya, yang jelas beberapa hamparan pertanaman sayuran tenggelam pascahujan deras beberapa hari lalu. Sebagian besar mati karena akar tanaman sayuran itu mudah membusuk jika terendam," sebut Untung.

Baca: Akhirnya Bripda Puput Nastiti Devi dan Ahok Alias BTP Duduk Berdampingan Usai Bebas Dari Mako Brimob

Baca: Reaksi Ahok Alias BTP Saat Bertemu Putranya Sean Usai Bebas Dari Mako Brimob

Baca: Bukti Ahok dan Bripda Puput Segera Nikah, Ajukan Surat Izin ke Lurah, Bagaimana Veronica Tan?

Tanaan sayuran, lanjutnya, hanya mampu bertahan dalam genangan maksimal setinggi 15 sentimeter. Sementara kedalaman genangan di persawahan di Pejambuan hingga 50 sentimeter atau setinggi lutut orang dewasa. "Beda kalau lahan di gunung. Ketika banjir kan airnya tidak menggenang lama sehingga akar tanaman tidak membusuk," tandasnya.

Kalangan petani Pejambuan berharap pemerintah segera melakukan normalisasi Sungai Duhat dan saluran pembuang tersier. Pasalnya saluran yang ada saat ini makin parah sedimentasi (pendangkalan)nya sehingga saat hujan deras mengguyur, air lamban susut.

Sementara itu dihubungi secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Banjar HM Fachry mengatakan pihaknya tidak bisa berbuat banyak mengenai kendala teknis yang dihadapi petani Pejambuan tersebut. "Kami tidak punya kewenangan dalam hal penataan saluran itu. Silakan langsung ditanyakan ke Dinas PUPR (Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang)," tandasnya.

(banjarmasinpost.co.id/idda royani)

Penulis: Idda Royani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved