Berita Hulu Sungai Tengah

Uniknya Jagung Bakitih, Panganan yang Masih Sering Ditemui di Barabai

Pernah mencoba makan jagung bakitih? Makanan dari jagung pipil jenis putih tersebut, masih sering ditemukan di pasar Barabai

Uniknya Jagung Bakitih, Panganan yang Masih Sering Ditemui di Barabai
banjarmasin post group/ hanani
Pedagang jagung bakitih yang sering dijual keliling kampung hingga keliling kantor-kantor oleh warga Barabai 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Pernah mencoba makan jagung bakitih? Makanan dari jagung pipil jenis putih tersebut, masih sering ditemukan di pasar Barabai dan pedagang-pedagang keliling bersepeda ke kampung-kampung.

Disebut jagung bakitih, karena jagung pipil kering yang direbus berjam-jam tersebut siap dimakan, tanpa harus mengigit biji jagungnya dari bongkolnya. Pedagang di Barabai, biasanya menyajikan jagung bakitih tersebut dengan kelapa muda parut, yang diberi garam dan bubuk merica.

Sampai sekarang, jagung bakitih tersebut menjadi makanan tradisional favorit masyarakat Hulu Sungai, karena rasanya yang gurih. S

elain itu, jenis dari jagung putih, membuat rasanya beda dengan jagung kuning, yang selama ini mendominasi jenis jagung di pasaran.

Baca: Tak Hanya Satu Lokasi, Pencuri Pompa Air Apes Saat Kompleks Kompleks Citra Palm Permai

Adalah Fathul Jannah (52), penjual keliling jagung bakitih. Tiap hari dia berjualan di pasar subuh Barabai, dan keliling kantor-kantor pemerintahan menjajakan jagung bakitih.

“Tiap hari saya memasak enam liter jagung pipil putih kering, untuk dibuat makanan. Enam liter dapatnya dua baskom. Satu baskom habis dijual dipasar, satu baskom lagi dijual keliling ke kantor-kantor,”kata Fathul, kepada banjarmasinpost.co.id pekan lalu.

Warga Pantai Batung, Kecamatan Batubenawa, HST ini mengaku sudah jualan jagung bakitih puluhan tahun.

Jagung kering dibeli dipasar, direbus lebih 10 jam menggunakan kayu bakar. Diperlukan waktu lama merebusnya, karena jagung tersebut sangat kering.

Untuk menghasilkan cita rasa yang segar, Fathul mengaku tak menjual jagung bakitih yang sudah matang beberapa hari. Kelapa yang dia gunakan pun kelapa muda, sehingga rasanya gurih.

Baca: Langkah Pemprov Kalsel untuk Tangani Geopark Meratus Selama Belum Adanya Badan Pengelola

Satu takar (gelas kecil ukuran kecil) dia jual Rp 2.000. Disajikan dalam bungkus daun pisang segar makanan zaman dulu (Zadul) ini pun masih menjadi makanan favorit tua dan muda.

“Soalnya bisa menggantikan nasi karena bikin kenyang kayak nasi,”ungkap Nailah, Plt Sekwan DPRD HST yang mengaku doyan jagung bakitih, yang sering dijajakan pedagang keliling tersebut.

(banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved