Fikrah

Pertarungan Meraup Dunia

ALLAH SWT telah menciptakan manusia dari seorang diri (Adam, tujuan pokok diciptakannya untuk menjadi khalifah, pengganti Allah mengatur kehidupan

Pertarungan Meraup Dunia
Kaltrabu
KH Husin Naparin 

Oleh: KH HUSIN NAPARIN, KETUA UMUM MAJELIS ULAMA INDONESIA PROVINSI KALSEL

ALLAH SWT telah menciptakan manusia dari seorang diri (Adam, tujuan pokok diciptakannya untuk menjadi khalifah, pengganti Allah mengatur kehidupan di bumi), dan Dia menciptakan istrinya (Hawwa); dari keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.

Informasi ini diapit oleh dua perintah bertakwa. (QS An-Nisa 1). Hiduplah manusia di permukaan bumi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, li ta’aarafu (untuk saling kenal-mengenal, ada yang memahami saling tolong-menolong), bukan untuk saling membanggakan diri, karena kemuliaan hanya ada di sisi Allah bagi mereka yang bertakwa. (QS Al-Hujurat 13).

Sebelumnya, Adam dan Hawwa disuruh tinggal di surga, sepertinya study banding, belajar bagaimana nantinya mengatur hidup di permukaan bumi supaya nyaman seperti di surga. Salah satu nikmat surga ialah dicabutnya rasa dendam yang ada di hati para penghuninya, mereka duduk bersama berhadapan serasa bersaudara.(QS Al-Hijr 47).

Setelah manusia tinggal di permukaan bumi, ternyata terjadi pertarungan sengit antarmereka guna meraup materi duniawi, harta dan tahta bahkan wanita. Mereka bermusuhan bukan serasa bersaudara, akibat ambisi pribadi tak terkendali (faktor intern), atau karena makin sempitnya sumber rezeki (faktor ekstern).

Manusia lupa, apalagi jika tidak beriman, bahwa rezeki sudah dijamin Allah SWT. Tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya, semua tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mafuzh). (QS Hud 6).

Rezeki yang diberikan kepada manusia ada yang halal dan ada yang haram. (QS Yunus 59). Kendati sudah ada ketentuan nominal rezeki, Allah memerintahkan untuk mencarinya, sehingga Dia menilai, bagaimana perilaku seseorang, apakah orang itu meraih rezeki dengan halal, baik materinya atau cara meraihnya, ataukah sebaliknya.

Allah memerintahkan manusia agar usai salat bertebaran di bumi mencari fadhlullah, karunia Allah; itulah rezeki yang halal. (QS Al-Jumuah 10).

Dalam kehidupan ada orang kaya gampang mencari rezeki, bergelimang dengan harta, dan sebaliknya ada orang susah mendapatkan rezeki, hidup dalam kekurangan. Kami, firman Allah, telah menentukan penghidupan mereka di dunia ini, meninggikan martabat sebagian mereka dari sebagian yang lain, liyattakhidza ba’dhuhum ba’dhan sukhriyya, agar sebagian mereka dapat menggunakan sebagian yang lain. (QS Az-Zukhruf 32).

Apakah masing-masing kita bisa menempatkan orang lain dalam kehidupan ini sebagai mitra, saling menolong dan saling memberi dan mendapatkan manfaat, ataukah sebagai musuh yang harus diberangus?

Jibril AS membisikkan ke dalam batiku, kata Nabi SAW, setiap jiwa tidak akan mati kecuali setelah habis jatah rezekinya. Karenanya bertakwalah kepada Allah dan elok-eloklah dalam mengais rezeki. Jangan sampai terlambatnya rezeki mendorong anda mencarinya dengan jalan maksiat kepada Allah. Rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya. (HR Tabrani dll).

Siapapun, baik beriman maupun fasik, Allah telah siapkan rezekinya yang halal, jika ia mau bersabar sampai rezeki itu diberikan kepadanya. Jika seseorang mencari rezeki dengan haram, maka Allah kurangi rezeki halalnya. (Hilyatul-Awliya 1/326).

Seorang sahabat yang dirundung kesusahan, oleh Rasul SAW dianjurkan agar usai salat sunat Subuh dengan iqamah salat Subuh membaca salawat malaikat dan tasbihnya para hamba Allah sebanyak seratus kali.

Kata beliau, dengan itu mereka dimudahkan mendapat brezeki, yaitu: subhanallah wabihamdih, subhanallahil-azhim, astagfirullah.” (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved