Tajuk

UNBK dan Tantangannya

BEBERAPA hari terakhir ini, hampir mayoritas perhatian warga khususnya orangtua tertuju pada persiapan hajatan akbar bernama Ujian Nasional Berbasis

UNBK dan Tantangannya
faturahman
ilustrtasi: Pelaksanaan UNBK MTs Annur Palangkaraya, Kalteng. 

BEBERAPA hari terakhir ini, hampir mayoritas perhatian warga khususnya orangtua tertuju pada persiapan hajatan akbar bernama Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Karena sekolah baik jenjang SMA dan sederajat serta jenjang SMP sederajat, sedang gencar-gencarnya melakukan persiapan UNBK dengan beragam nama. Mulai tryout hingga simulasi.

Terlepas apapun namanya, para siswa yang notabene tergolong generasi milenial dan generasi Z dituntut untuk melakukan persiapan sejak dini. Baik itu persiapan mental menghadapi ujian nasional maupun persiapan kebiasaan dalam mengerjakan soal-soal ujian, dari kebiasaan menggunakan kertas beralih ke komputer. Ribuan siswa dituntut untuk menghayati ujicoba itu layaknya ujian yang sebenarnya.

UNBK sebenarnya bukan barang baru di dunia pendidikan di negeri ini. Termasuk di Kalsel, karena setidaknya selama dua tahun sudah mengenal program tersebut dan sudah melakukan persiapan. Pemerintah daerah, baik kabupaten maupun kota melalui dinas pendidikan sebagai kepanjangtanganan sudah melakukan serangkaian persiapan, agar semua sekolah di wilayahnya bisa seratus persen secara mandiri melaksanakan UNBK tersebut.

Misalnya secara bertahap mengalokasikan anggaran pengadaan komputer, pengadaan server hingga sejumlah persiapan lain demi suksesnya hajatan nasional tersebut. Termasuk menjalin komunikasi dengan PLN sebagai perusahaan penyedia listrik, hingga menjalin komunikasi secara intensif dengan provider sebagai penyedia layanan jaringan.

Sayangnya, hingga kini masih muncul sejumlah kendala. Misalnya yang menjadi berita utama harian pagi Banjarmasin Post edisi Jumat (25/1) halaman 9, ternyata masih ada sekolah di Banua ini yang terpaksa harus bergabung ke sekolah lain lantaran belum memiliki perangkat lengkap.

Para siswa dipaksa hijrah ke sekolah lain yang memiliki perangkat lengkap. Tentu saja ini menjadi tantangan tersendiri bagi para siswa, khususnya tantangan psikologis. Mereka harus berhadapan dengan siswa lain yang baru bertemu dan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Persoalan lain adalah ternyata masih ada siswa yang canggung dalam penggunaan perangkat UNBK tersebut. Misalnya masih ditemukan siswa yang grogi dalam menggerakkan mouse. Tentu ini juga persoalan yang remeh. Apalagi jika dikaitkan dengan para siswa yang akan mengikuti UNBK tersebut merupakan anaka-anak milenial dan generasi Z, yang notabene sangat akrab dengan gadget.

Nyatanya, generasi yang selama ini mendapat label akrab dengan gadget pun menjadi tidak lihai jika dalam waktu yang bersamaan dihadapkan dengan soal ujian. Tentu pemandangan akan berbeda jika mereka hanya bermain gadget untuk chatting maupun sehelo dengan teman-temannya di dunia maya.

Artinya, kesiapan mental juga tak kalah pentingnya dalam menghadapi UNBK tersebut agar generasi milenial yang mahir menggunakan gadget, juga mahir dalam menjawab soal ujian secara online itu. Pihak sekolah dan orangtua tidak bisa meremehkan dan mentang-mentang siswanya yang merupakan anak milenial yang akrab dengan gadget dipastikan lancar mengikuti UNBK. Jadi menyiapkan secara maksimal sangat perlu agar mendapatkan hasil yang maksimal juga. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved