Opini Publik

Mafia Bola

MAFIA sepak bola bukan baru sekarang terjadi. Sepak bola gajah yang sering terdengar sekarang ini adalah salah satu bentuk mafia itu.

Mafia Bola
tribunnews.com
Mbah Putih saat diamankan Satgas Anti Mafia Bola, Jumat (28/12/2018) 

MAFIA sepak bola bukan baru sekarang terjadi. Sepak bola gajah yang sering terdengar sekarang ini adalah salah satu bentuk mafia itu. Orang pasti tidak lupa dengan pertandingan antara Persebaya vs Persipura Jayapura di Stadion Gelora 10 November Surabaya, dalam perebutan juara Kompetisi PSSI 1987/1988 Wilayah Timur. Saat itu Kompetisi PSSI dibagi dua wilayah, barat dan timur. Juara dan runer upnya bertemu di final.

Nah, apa yang terjadi dengan pertandingan Persebaya vs Persipura? Saat itu Persipura sudah nyaris tersingkir dari divisi utama. Agar selamat harus menang besar dari Persebaya yang sudah aman sekaligus untuk menelikung PSIS Semarang yang menjadi juara bertahan. Jadilah pertandingan tanggal 21 Februari 1988 menorehkan “sejarah” hitam. Persebaya kalah 0-12 dari Persipura.

Dunia sepak bola geger, masyarakat pecinta bola memaki-maki tapi para pengurus Persebaya tidak mengakui sebagai pelanggaran. Hasil itu sah dan Persebaya akhirnya memenangi Wilayah Timur. Dalam putaran final Persebaya mengalahkan finalis Wlayah Barat, Persija Jakarta dan Persebaya menjadi juara PSSI.

Persipura jika tidak ingin terdegradasi harus bisa menang besar dari Persebaya, kalau tidak maka PSM Makassar selamat dan Persipura turun divisi. Di tengah laga Persebaya vs Persipura, kapten Persipura Metu Duaramuri minta tambahan gol pada Kapten Persebaya Muharam Rusdiana, sebab kalau hanya 0-8 riskan, PSM sudah menang 6-0 dari Manokwari, bisa-bisa Persipura tersingkir. Mungkin di sana juga memainkan sepak bola gajah.

Kebetulan pertandingannya bersama-sama. Persebaya pun memberikan tambahan 4 gol gratis sehingga berkesudahan 0-12 untuk Persipura (JPNN.Com 1 Juni 2016). Jadi Persipura selamat, PSIS kehilangan tiket ke final dan Perseman Manokwari tersingkir.
Di zaman liga sekarang ini pun sepak bola gajah masih ada.

Yang cukup memalukan adalah saat PSS Sleman mengalahkan PSIS Semarang 3-2. Tidak ada perjanjian apa-apa, tapi masing-masing ingin menjadi runner up agar tidak bertemu tim kuat Borneo FC. Anehnya, lima gol kedua kesebelasan itu dari hasil bunuh diri, jadi lucu sekali. Pertandingan berlangsung 26/10/2015 di lapangan Akademi Militer Angkatan Udara, Yogyakarta.

Saat ini polisi lewat Satgas Antimafia Bola tengah mengusut praktek pengaturan skor. Sedikitnya sampai pekan lalu 10 orang jadi tersangka, ada pengurus teras PSSI dan ada pula pecundang yang kerjanya menjadi penghubung antara kesebelasan, wasit dan pengurus. Tapi jangan dikira, para petaruh juga bisa ikut bermain.

Sepak bola gajah itu main bola yang skor atau permainannya sudah diatur. Istilah ini terinspirasi oleh pertandingan dua regu gajah sungguhan hasil didikan Suaka Margasatwa Way Kambas, Lampung. Saat itu Presiden Soeharto meresmikan sebuah acara di lapangan Bandarlampung. Untuk memeriahkan digelarlah sepakbola antargajah. Mereka bisa menyepak, merebut bola dan membuat gol, tapi kalau pelatih lengah memberi instruksi bola bisa masuk ke gawang sendiri.
***
Sejak itu ada istilah sepak bola gajah yang kebetulan di Indonesia hidup subur. Prestasi tak pernah membaik. Melawan Timor Leste pada Piala AFF yang baru lalu nyaris kalah.

Masyarakat menuntut ada reformasi total dalam tubuh PSSI. Ketua Umum Edy Rahmayadi dituntut mundur. Kebetulan ia memang tidak bisa konsen di PSSI sejak terpilih jadi Gubernur Sumatera Utara sehingga ada friksi dalam tubuh PSSI. Edy benar-benar mundur. Kebusukan dalam sepak bola kini dibongkar oleh polisi.

Sepak bola itu menarik karena di dalamnya penuh dengan glamour, uang bermiliar-miliar. Apalagi sekarang, hampir semua daerah punya klub dan semua ini mendatangkan uang. Siapa pun ingin jadi pengurus PSSI.

Mundurnya Edy Rahmayadi sebenarnya bisa jadi momentum untuk pembenahan PSSI secara total. Ada yang mengusulkan segera diadakan Kongres Luar Biasa untuk memilih ketua umum yang baru. Nama-nama calon sudah muncul seperti, Eric Tohir yang baru saja membeli klub Liga 1 Inggris Oxford United berkerja sama dengan Anindya Bakrie. Ia kini jadi Ketua Tim Sukses capres/cawapres nomor urut 01 Jokowi/Ma’ruf Amin.

Juga muncul nama Syafruddin yang kini Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi sekaligus Ketua Dewan Pembina Persija. Terakhir Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang tak pernah terdengar kiprahnya di olah raga, Muhaimin Iskandar, juga mau maju.

Sayang dari 85 pemilik suara, saat Kongres di Bali hanya satu yang setuju. Ini pertanda mafia bola belum akan hilang.(*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved