Jendela

Istiqamah

Bagaimana hati tidak luka ketika semua usaha perbaikan yang dilakukan selalu ditanggapi dengan caci dan cela?” Begitulah gerutu seorang kawan.

Istiqamah
Mujiburrahman 

Oleh : Mujiburrahman
Rektor UIN Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - “BAGAIMANA hati tidak bimbang ketika mengetahui bahwa orang mendapatkan jabatan karena sogokan? Bagaimana hati tidak gundah ketika orang yang ingin berjalan di jalan yang benar justru dimusuhi dan dikucilkan? Bagaimana hati tidak luka ketika semua usaha perbaikan yang dilakukan selalu ditanggapi dengan caci dan cela?” Begitulah gerutu seorang kawan.

Saya dapat memahami kegalauan kawan ini, karena saya mengenalnya luar-dalam. Dia bukan tipe orang yang menggantungkan nilai hidupnya pada jabatan. Dia adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya. Dia adalah orang yang sangat mensyukuri rezeki yang selama ini diterimanya dan tidak berambisi untuk menumpuk kekayaan. Dia juga tidak perlu menjadi pejabat untuk dikenal karena dia sudah terkenal.

“Akankah aku berhasil atau gagal menghadapi kenyataan ini?” katanya lirih. “Kita tidak tahu, apakah akan berhasil atau gagal. Itu sudah rumus kehidupan,” kataku. “Tetapi jika aku gagal, maka sia-sialah perjuanganku ini. Orang-orang munafik, yang manis di mulut jahat di hati, akan kian merajalela. Boleh jadi justru aku yang dituduh sebagai orang jahat melalui rekayasa pembunuhan karakter,” katanya.

Percakapan di atas membuat saya merenung, apakah keberhasilan itu penting? Tentu saja penting, bukan hanya bagi si pejabat, tetapi juga bagi masyarakat yang dipimpinnya. Keberhasilan adalah penghibur paling ampuh dan balasan paling diharapkan dalam perjuangan mencapai cita-cita. Tanpa impian akan keberhasilan, perjuangan tidak akan bergairah dan mudah lumpuh di tengah jalan.

Namun, keberhasilan suatu perjuangan tidaklah ditentukan oleh satu orang, melainkan banyak orang. Bahkan bukan hanya ditentukan oleh banyak orang, melainkan juga oleh kondisi alam. Bagi kaum beriman, keberhasilan pada hakikatnya adalah ketika usaha manusia direstui oleh kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan itu ada pada hukum alam, hukum sosial hingga ketentuan-Nya di alam spiritual.

Dengan demikian, keberhasilan bukanlah capaian seorang pribadi atau pemimpin belaka. Dia adalah hasil dari tali-temali sebab-akibat yang saling terkait menuju sasaran yang diinginkan. Karena itulah, orang yang sadar tidak akan sombong ketika berhasil, dan tidak akan putus asa ketika gagal. Kebebasan sekaligus keterbatasan manusia mengharuskannya untuk tetap rendah hati dan optimistis.

Namun, jika dibandingkan antara proses dan hasil, perjuangan dan pencapaian, manakah yang lebih penting? Yang lebih penting adalah proses dan perjuangan karena ia adalah pilihan bebas pribadi manusia. Anda tidak bisa memastikan apakah perjuangan Anda akan berhasil atau gagal, tetapi Anda bisa memastikan, apakah Anda akan terus berjuang dan berproses untuk meraih cita-cita atau tidak.

Kaum Sufi mengatakan, al-istiqâmah khairun min alfi karâmah, konsisten dalam berbuat kebaikan lebih baik daripada seribu keramat. Keramat biasanya dikaitkan sebagai hal-hal yang bersifat supernatural atau berlawanan dengan hukum alam. Tetapi keramat secara bahasa artinya kemuliaan. Keberhasilan adalah keramat. Berbagai penghargaan yang kita terima sebagai buah dari perjuangan adalah keramat.

Di sisi lain, konsistensi seseorang dalam perjuangan mewujudkan kebaikan lebih mulia daripada seribu keberhasilan. Keberhasilan hanyalah terminal, tempat berhenti sementara. Satu keberhasilan sebaiknya tidak menghentikan langkah orang untuk berjuang mencapai keberhasilan berikutnya. Terminal hanyalah tempat rehat, menghibur hati dan mengumpulkan energi untuk melanjutkan perjalanan.

Tentu saja, istiqamah itu sangat berat. Mungkin inilah sebabnya, setiap Muslim wajib memohon kepada Allah 17 kali sehari, “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus”. Kita perlu terus-menerus memohon petunjuk-Nya karena dalam menjalani hidup, kita gampang sekali tergoda, menyimpang dari jalan kebaikan dan kebenaran. Istiqamah adalah perjuangan manusia yang tiada henti, sampai maut menjemput. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved