Ekonomi dan Bisnis

DPD REI Kalsel dan Apersi Kalsel Keberatan Atas Rencana Kenaikan Suku Bunga KPR, ini Alasannya

Rencana kenaikan suku bunga bagi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) akan diberlakukan pada tipe hunian komersial.

DPD REI Kalsel dan Apersi Kalsel Keberatan Atas Rencana Kenaikan Suku Bunga KPR, ini Alasannya
Istimewa/PT Jofa Dini Lestari.
Hunian KPR bersubsidi di Banjarmasin dan sekitarnya. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Rencana kenaikan suku bunga bagi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) akan diberlakukan pada tipe hunian komersial.

Kenaikan ini mengacu pada suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Semula suku bunga angsuran yang diterapkan 8 persen flat selama tiga tahun, kemudian menjadi 13 persen untuk angsuran tahun berikutnya.

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Kalimantan Selatan (Kalsel), Royzani Sjachril menuturkan, keberatan adanya kenaikan tersebut.

"Kenaikan suku bunga tersebut bakal memperparah penjualan. Saat ini saja untuk perumahan komersial penjualan sangat menurun," ujarnya kepada Banjarmasinpost.co.id.

Menurutnya, perekonomian saat ini masih belum stabil ditambah adanya kenaikan suku bunga, maka penjualan akan semakin sulit serta terbilang mempersulit nasabah.

Baca: Balasan Menohok Via Vallen Saat Kausnya Dibilang Murahan dan Kampungan, Harganya Tak Terduga!

Baca: Daftar Artis yang Dilarang Deddy Corbuzier Datang ke Hitam Putih, Ivan Gunawan Hingga Ayu Ting Ting

Baca: Pengakuan Baim Wong Pernah Mabuk Bareng Raffi Ahmad, Suami Nagita Slavina & Paula Verhoeven Sadar?

Baca: Luna Maya Pilih Sosok Ini Ketimbang Balikan ke Ariel NOAH atau Reino Barack yang Kini Dekat Syahrini

Baca: Kisah Dibalik Lagu Ariel NOAH Untuk Luna Maya Usai Tangis Ariel di Panggung, Ingat Mantan Reino?

Ketua Ketua Bidang Perizinan dan Pertanahan, Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Kalimantan Selatan (Kalsel), Muhammad Fikri menyatakan keberatan adanya kenaikan tersebut.

"Dari suku bunga semula 8-13 persen saja dumi beberapa sektor hunian komersial banyak kredit macet, apalagi ditambah kenaikan suku bunga jelas semakin terjun bebas dan mengalami penurunan," jelas dia.

Terlebih pengeluaraan biaya hidup perbulan yang cukup tinggi tidak dibarengi dengan penghasilan yang memadai, hal ini menjadi pertimbangan calon debitur KPR komersial.

Rumah komersial tidak dibatasi harga cash perunit sebagaimana harga Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) rumah subsidi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang ditetapkan oleh Pemerintah pusat.

Dijelaskan Fikri, di Kalsel yang termasuk hunian komersial mulai dari tipe 36+/42 seharga Rp 200 jutaan, tipe 45 dijual seharga Rp 250 juta ke atas, tipe 55 di banderol Rp 450 jutaan.

Berbeda dengan rumah subsidi, pihak Apersi tidak dilibatkan langsung dalam hal pengkajian kenaikan harga.

Pemerintah umumnya langsung menentukan kebijakan sesuai suku bunga BI Rate.

Terkait pembangunan rumah komersial di 2019 ini, Fikri mengatakan, beberapa pengembang masih ragu untuk menambah unit baru.

"Rekan-rekan pengembang saat ini masih fokus pembangunan FLPP, sebab banyak stok-stok rumah komersial yang ready masih belum laku," tukasnya. (Banjarmasinpost.co.id/Mariana)

Penulis: Mariana
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved