Tajuk

Belajar dari Jepang

PERINGATAN dari BMKG adanya ancaman bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem yang menyertai puncak hujan pada Januari hingga Pebruari benar-benar

Belajar dari Jepang
KOMPAS.com/Hendra Cipto
Derasnya air Sungai Jeneberang di bawah Jembatan Kembar, Kabupaten Gowa, Selasa (22/1/2019). 

PERINGATAN dari BMKG adanya ancaman bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem yang menyertai puncak hujan pada Januari hingga Pebruari benar-benar melanda negeri ini.

Senin (28/1) tadi, sungguh banyak kejadian bencana cuaca ekstrem yang menghias khabar nasional hingga banua. Di hari itu, longsor dan banjir bandang di pemukiman warga wilayah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Dampak bencana per 28 Januari 2019 itu mencatat sedikitnya 69 orang meninggal, 7 orang hilang.

Pada waktu yang sama di banua, sebagian pemukiman warga Desa Sungaikitano, Kecamatan Martapura Timur dilanda banjir dan hamparan sawah berubah menjadi danau. Lainnya, terjangan angin ribut puting beliung menyampu pemukiman sebagian desa di Tanahlaut, Tanahbumu, Hulu Sungai Selatan hingga Kapus Kalteng.

Di Tanahlaut, belasan rumah wargadi Desa Panjaratan, Kecamatan Pelaihari, rusak. Demikian pula pesisir Tanahbumbu, puting beliung menerjang rumah-rumah warga di Desa Sepunggur, RT 02, Kecamatan Kusan Hilir.

Di Hulu Sungai Selatan, amuk puting beliung melanda Desa Murung Raya dan Balah Paikat Kecamatan Daha Utara, Pihanin Raya, serta Desa Pandansari Kecamatan, Daha Selatan. Di Kapus Kalteng, belasan rumah di Desa Sumber Mulya Kecamatan Kapuas Murung dan Desa Kahuripan Permai Kecamatan Dadahup, juga tak luput diamuk puting beliung.

Pada Senin itu pula di Banjarbaru, kakak adik, Pebri (13) dan Refaldi (9) tewas tersambar petir ketika bermain sambil bawa HP di tanah lapang di Jalan Bina Putra RT 07 Kelurahan Guntung Payung.

Cuaca eksterm juga membuat kondisi laut tak lagi bersahabat. Dunia pelayaran kena imbas. Gelombang tinggi menjadi ancaman. Izin pelayaran kapal disetop sementara. Nelayan pencari ikan terpaksa memilih tak melaut karena sangat berisiko.

Demikian rentetan bencana hidrometeorologi di puncak hujan. Memosisikan diri untuk melawan kekuatan alam, tentulah hal yang konyol dan sia-sia. Sebaliknya, menguatkan upaya mitigasi bencana, bersahabat dengan alam harusnya dilakukan secara serius.

Seberapa canggihnya teknologi Jepang, toh bencana banjir, gampa tsunami 2011 silam tak bisa ditahan. Tapi Jepang cepat belajar dari bencana sehingga punya sistim mitigasi yang andal, sigap dan cepat penanganan saat bencana hingga pemulihan pascabencana.

Negeri Sakura, dikenal negara rawan bencana alam dan hingga sekarang fakanya Jepang tetap eksis meski berulang kali dihajar bencana alam. Tokyo, misalnya menjadi biasa dengan angin topan dan banjir. Mereka sejak lama berjibaku dengan bencana alam. Lalu bagaimana Jepang memitigasi bencana?

Penduduk Jepang dilatih untuk sigap menghadapi bencana dari skala kecil hingga besar sehingga meminimalkan jumlah korban dan kerusakan. Contohnya, ada peringatan bencana alam semisal gempa di setiap ponsel warga, kereta peluru, rumah anti gempa, pelatihan mitigasi bencana di sekolah hingga ibu rumah pun diperankan sedemikian rupa menghadapi bencana. Jepang juga membangun kanal bawah tanah dengan pipa-pipa raksasa yang mengalirkan banjir ke laut. Ketika terjadi bencana alam, pemerintah dan warga saling bekerja sama ambil posisi perannya sehingga korban dam kerusakan dapat ditekan. Penanganan dan pemulihan pascabencana berlangsung cepat, tidak berlarut-larut. Lalu, kita bagaimana? (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved