Jendela

Kekayaan Budaya Tionghoa

BESOK, orang-orang Tionghoa di seluruh dunia merayakan tahun baru mereka, yang di Indonesia disebut Imlek.

Kekayaan Budaya Tionghoa
capture/banjarmasin post
Banjarmasin Post edisi Cetak Senin (4/1/2019) Halaman 4 

Oleh: Mujiburrahman
Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - BESOK, orang-orang Tionghoa di seluruh dunia merayakan tahun baru mereka, yang di Indonesia disebut Imlek. Sebagai penduduk bumi terbesar, orang Tionghoa ada di mana-mana. “Di mana ada matahari, di situ ada orang Tionghoa,” kata Jackie Chan dalam sebuah filmnya. Sebagai bangsa dengan sejarah ribuan tahun, orang-orang Tionghoa mewarisi kebudayaan yang amat kaya.

Pada 1952, pujangga dan ulama terkenal, HAMKA, mengunjungi Amerika. HAMKA mengatakan, ketika itu ada ungkapan populer di Amerika berbunyi: “Hidup bahagia adalah, punya istri orang Jepang, punya tukang masak orang Tionghoa dan hidup dengan gaya Amerika.” Memang, sampai sekarang, masakan Tionghoa diakui sangat lezat, dan sangat berasa (tasty) berkat kombinasi racikan bumbu yang khas.

Hingga kini, di banyak negara Barat, terdapat China Town atau pecinan. Di situ, orang-orang Tionghoa umumnya membuka restoran atau menjual bahan-bahan masakan. Ketika kuliah di Montreal, Kanada, saya rutin belanja beras, cabe, kecap, bawang, sayur, ikan hingga mie instan, di pecinan yang ada di sana. Begitu pula ketika kuliah di Belanda, saya kadang belanja bahan makanan di pecinan, Den Haag.

Ketika saya tinggal di asrama mahasiswa, Stationsplein, Leiden, pada 2001, saya sering bertemu dengan para mahasiswa asal Tiongkok daratan di dapur, saat mereka memasak dan makan. Ketimbang membeli makanan siap saji di luar, memasak sendiri memang lebih hemat dan sesuai selera. Di situlah saya mulai mengenal beberapa mahasiswa asal Tiongkok yang studi lanjut di Belanda dalam berbagai bidang ilmu.

Suatu hari, ketika di Leiden itu, saya demam. “Apakah kamu biasa menggunakan obat Barat atau obat tradisional?” tanya seorang mahasiswa asal Tiongkok. Saya semula tidak paham maksud “obat Barat” itu. Ternyata maksudnya tablet dan sirup yang biasa kita minum. Dia kemudian memberi saya ramuan herbal, sejenis daun kering, lalu direbus. “Ini lebih baik,” katanya. Saya coba dan ternyata cepat sembuh.

Namun, jangan Anda kira orang Tiongkok hanya pandai mengurus makanan dan kesehatan tubuh saja. Mereka juga memiliki kebudayaan ruhani yang tinggi. Suatu hari, saya berbincang dengan seorang kawan Tionghoa asal Taiwan tentang kaum Sufi yang mengajarkan agar kita hidup penuh syukur, sabar terhadap musibah dan tidak ambisius. “Apa yang kau katakan itu mirip dengan Taoisme,” katanya.

Jika kita membaca kitab Tao Te Ching, maka kita memang akan menemukan banyak sekali kebijaksanaan hidup. “Jika kebahagiaanmu tergantung pada uang, engkau takkan pernah bahagia dengan dirimu sendiri. Puaslah dengan apa yang engkau punya. Bersukacitalah dengan cara beradanya benda-benda. Saat engkau tak merasa kekurangan, seluruh dunia menjadi milikmu, ” kata Tao Te Ching ke-44.

Meski manusia ambisius dicela, manusia putus asa juga dicela. “Kegagalan adalah suatu kesempatan. Jika engkau menyalahkan orang lain, tak ada akhir bagi penyalahan.” Disebutkan pula, “Hadapi yang sulit selagi masih mudah. Rampungkan tugas-tugas besar dengan serangkaian tindakan kecil.” Lagi pula, “Semua yang mewujudkan kebaikan, tidak bersaing” karena mereka melakukannya dengan gembira.

Pada bagian ke-61 dijelaskan bahwa penguasa harus rendah seperti laut sehingga dapat menampung air sungai yang mengalir turun. Maksudnya, semakin kuat kekuasaan, semakin besar kebutuhannya untuk rendah hati. Bangsa yang besar dan orang besar, kata Tao Te Ching lagi, adalah “orang yang memandang orang-orang yang menunjukkan kesalahan-kesalahannya sebagai guru-gurunya yang paling murah hati.”

Tentu masih banyak lagi kebijaksanaan hidup yang termaktub dalam Tao Te Ching, yang konon ditulis oleh Lao Tse. Ada yang bilang, Lao Tse itu Nabi Luth dan Tao itu Tauhid. Entahlah. Yang jelas, bangsa Tiongkok adalah bangsa yang besar, yang tidak hanya mewarisi budaya ruhani yang tinggi tetapi juga maju dalam pengembangan ilmu, seni, dan teknologi, menyaingi bahkan mengalahkan bangsa Barat.

Kita pun jadi teringat hadis populer: “Tuntutlah ilmu meskipun ke negeri Tiongkok.” Selamat Imlek!

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved