Kayu Ulin Tak Lagi Dilindungi

Ulin Tak Lagi Dilindungi, Muncul Petisi Tolak PermenLHK P 106/2018, Ini Reaksi Kepala BKSDA Kalsel

Ulin Tak Lagi Dilindungi, Muncul Petisi Penolakan PermenLHK P 106/2018, Ini Reaksi Kepala BKSDA Kalsel

Ulin Tak Lagi Dilindungi, Muncul Petisi Tolak PermenLHK P 106/2018, Ini Reaksi Kepala BKSDA Kalsel
capture: change.org
Muncul petisi tolak P 106/2018 tentang mengeluarkan jenis pohon langka dari daftar dilindungi. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN – Setelah terbitnya PermenLHK P.106/2018! Yang mengeluarkan jenis pohon langka dari daftar dilindungi, muncul di dunia maya petisi penolakannya.

Petisi itu diunggah di situs Change.org, hingga Selasa (4/2/2019) sudah ditandatangani oleh 1.553 orang dan sedang mengejar 2.500 tandatangan.

Seperti diketahui, Status dilindungi Kayu besi atau kayu ulin khas Kalimantan dengan nama latin Eusideroxylon zwageri kini telah dicabut.

Hal ini berdasar Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/2018.

Baca: Respon Para Ojek Ulin Atas Pencabutan Status Kayu Ulin, Menyot Malah Cemas

Baca: Maia Estianty Tepati Janji Setelah Dul Jaelani Sempat Beri Sindiran Soal Ahmad Dhani yang Dipenjara

Baca: Jadwal Nikah Syahrini & Reino Barack Dibocorkan Imam Masjid Istiqlal, Bagaimana Luna Maya?

Baca: Live Streaming RCTI! Jadwal Home United vs Persija Jakarta di Playoff Liga Champions Asia Malam Ini

Baca: Vanessa Angel Satu Sel dengan Penjebaknya di Prostitusi Artis, Bibi Ungkap Pesan Terakhir Kekasih

Melalui surat elektronik tertanda Ragil Satriyo Gumilang juga disebutkan Pemerintah melalui Permen LHK P.106/2018 yang merupakan perubahan dari P.20/2018 dan P.92/2018 mengubah status Keruing yang sebelumnya dilindungi menjadi tidak dilindungi.

Keruing tidak sendiri, tumbuhan kayu endemik lain dan berstatus kritis (Critically Endangered) berdasarkan IUCN Red list seperti Dipterocarpus littolaris (Pahlahlar Nusakambangan) dan Vatica bantamensis (Kokoleceran --yang juga merupakan flora identitas Provinsi Banten), juga mengalami perubahan status serupa.

Juga disebutkan bahwa 10 jenis kayu yang tak lagi dilindungi seluruhnya memiliki tingkat keterancaman tinggi di alam.

Separuhnya juga merupakan tumbuhan endemik yang hanya dapat ditemukan di lokasi tertentu atau penyebarannya sempit.

Kesepuluh jenis tersebut juga merupakan tumbuhan kayu dengan nilai ekonomis tinggi dan termasuk jenis kayu perdagangan yang diminati perusahaan-perusahaan kehutanan serta cukong-cukong kayu.

Dengan hilangnya status perlindungan dan pengusahaan hutan yang tidak terkendali, bukan tidak mungkin dalam beberapa waktu ke depan mereka tinggal menjadi bagian dari katalog museum/herbarium.

Dikonfirmasi , Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalsel, Mahrus Aryadi mengaku sudah tahu soal beredarnya petisi itu.

"Ya sudah beberapa hari yang lalu,masing-masing punya kepentingan. Bagi masyarakat kalimantan ulin bagian dari way of life, tidak terpisahkan dari kondisi alam yang rawa dan basah. yang penting kedepan kita mampu membudidayakan dengan teknologi," katanya menanggapi terkait petisi itu.

(banjarmasinpost.co.id/niakurniawan)

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Royan Naimi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved