Opini Publik

Kebijakan Pembangunan Ekonomi Hijau dari Catatan World Economic Forum/WEF 2019

Gelaran Forum Ekonomi Dunia (FED) atau World Economic Forum (WEF) telah diselenggarakan tanggal 22-25 Januari 2019 lalu, di sebuah desa kecil Davos

Kebijakan Pembangunan Ekonomi Hijau dari Catatan World Economic Forum/WEF 2019
www.weforum.org
Logo World Economic Forum 

OLEH: DR ABDUL HARIS FAKHMI STMT, Pengamat Lingkungan, Pertambangan dan Energi

Gelaran Forum Ekonomi Dunia (FED) atau World Economic Forum (WEF) telah diselenggarakan tanggal 22-25 Januari 2019 lalu, di sebuah desa kecil Davos Swiss. Menghadirkan sejumlah elite pemimpin dunia, kecuali Donald Trump. Ketidakhadiran Presiden AS ini disayangkan oleh sejumlah pengamat ekonomi dan lingkungan hidup dunia. Alasan ketidakhadiran Trump karena penutupan administrasi pemerintahan AS (shutdown). Tetapi pada akhirnya Presiden Trump menyerah dengan Partai Demokrat pada hari Jumat (25/1/2019) setelah tarik ulur tawaran anggaran tembok perbatasan AS-Meksiko.

Mengusung tema Globalisasi 4.0: Shaping a New Architecture in the Age of the Fourth Industrial Revolution (Menguatkan Rancangan Global di Era Revolusi Industri Keempat). Globalisasi telah menciptakan pertumbuhan, namun memunculkan ketimpangan antara masyarakat kaya dan miskin yang semakin besar. Sebagai bintang pada forum ekonomi dunia kali ini adalah Presiden Bolsonaro. Presiden Brazil yang baru saja resmi memimpin 1 Januari 2019. Ia menjanjikan transformasi ekonomi Negara Amerika Latin terbesar itu menjadi terbuka bagi para investor. Namun diwaktu yang bersamaan, sang Presiden dikejutkan berita bencana jebolnya sebuah tanggul (25/1/2019) di area Tambang Vale (Perusahaan Pertambangan Raksasa milik Brazil) yang berada di Kota Belo sebelah tenggara Brazil. Dikabarkan 200 orang pekerja hilang dari total 400 pekerja tambang yang sedang bekerja. Tanggul yang jebol karena tidak mampu menahan tekanan yang besar dari limbah tambang berupa tanah berlumpur mengandung air. Dipastikan evakuasi korban dan restorasi lingkungan akan sangat sulit. Mengerahkan semua badan penyelamatan dan seluruh lembaga otoritas terkait yang ada di distrik tersebut.

Transisi ke Ekonomi
Rendah Karbon

Pertemuan World Economic Forum (WEF) 2019 memtuskan untuk mendefinisikan ulang makna ‘Globalisasi’ yang telah berubah sesuai perkembangannya. Dinamika pertumbuhan ekonomi dunia membentuk empat macam transformasi utama yaitu yang pertama, kepemimpinan ekonomi global tidak lagi didominasi oleh multilaterisme tetapi ditandai oleh pluralisme. Kedua, keseimbangan kekuatan global telah bergeser dari unipolar ke multipolar. Ketiga, tantangan ekologis berupa perubahan iklim secara signikian mengancam pembangunan sosial ekonomi. Keempat, Revolusi Industri 4.0 memperkenamkan teknologi dengan kecepatan dan skala yang sulit tertandingi.

Kondisi perubahan ekonomi dunia 2018, telah membawa kondisi sosial masyarakat juga terjadi perubahan yang besar. Ditambah kondisi perubahan iklim yang banyak membawa bencana hampir disetiap negara, tidak pernah sebelumnya membawa begitu banyak risiko serius. Ketegangan geopolitik telah mengurangi kemampuan masyarakat internasional menghadapi berbagai peristiwa bencana. Diambil dari Laporan Risiko Global dari WEF. Laporan ini didasarkan persepsi risiko dari 1000 orang ahli dan pembuat keputusan. Perang dagang yang dilancarkan AS terutama terhadap Cina menjadi perhatian paling utama. Situasi perdagangan global terjadi penurunan dengan cepat selama 2018. Pertumbuhan ekonomi hampir di setiap negara mengalami tren penurunan karena ketegangan geoekonomi.

Dalam laporan Risiko Global pada Pertemuan World Economic Forum (WEF) 2019 atau Forum Ekonomi Dunia menyebutkan bahwa yang harus dilakukan adalah tindakan bersama untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan mengatasi ancaman-ancaman global yang bias menghambat pertumbuhan ekonomi. Ancaman yang dimaksud adalah kesenjangan investasi infrastruktur, kejahatan cyber dan pengaruh perubahan iklim. Masalah infrastruktur pembangunan dan penataan kota diperkirakan akan meningkat. Pengaruh naiknya muka air laut akan mempengaruhi sanitasi lingkungan dan masalah ekstraksi air bersih wilayah perkotaan.

Pembiayaan infrastruktur untuk mengatasi bencana alam berupa amukan badai dan topan yang dapat mengancam keselamatan warga masyarakat. Bencana alam telah menyebabkan kerusakan infrastruktur yang sebelumnya melalui pembiayaan bank dunia dalam jumlah sangat besar, sehingga infrastruktur yang rusak tersebut perlu perbaikan dan membutuhkan pembiayaan kembali yang sangat besar. Perubahan iklim dan konsekwensinya merupakan ancaman yang paling konkrit. Terdapat lima ancaman dengan risiko tertinggi yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia yaitu hilangnya keanekaragaman hayati, cuaca yang ekstrim, kegagalan mitigasi perubahan iklim, bencana buatan manusia dan bencana alam. Menjawab tantangan perubahan iklim tersebut diperlukan peningkatan adaptasi dalam infrastruktur dan impelementasi transisi ke ekonomi rendah karbon.

Pembangunan Ekonomi Hijau

Ketika itu di Yogyakarta, dilakukan pertemuan AsiaLow Emission Development Strategies (LEDS) Forum tahun 2014 atau Forum Strategi Pembangunan Emisi Rendah Karbon tingkat Asia. Diikuti lebih dari 250 peserta yang terdiri dari unsur pejabat pemerintah, pakar, wakil lembaga internasional, LSM, dan pelaku usaha. Mendiskusikan bagaimana ‘kebijakan hijau’ atau green policy dan pilihan investasi wilayah perkotaan, tata guna lahan dan energi hingga dapat menurunkan tingkat kemiskinan. Bagaimana pembangunan ekonomi wilayah perkotaan dapat kompetitif berbasis kepedulian sosial. Meningkatkan produktivitas pertanian dan industri, menjaga lingkungan dan memastikan ketersediaan energi. Jutaan masyarakat miskin di Benua Asia terbantukan karena pertumbuhan ekonomi. Tetapi tekanan terhadap deplesi sumber daya alam dan degradasi ekologi juga semakin besar karena laju urbanisasi, industrialisasi, peningkatan konsumsi, dan pertumbuhan penduduk.Dapat diartikan, kemajuan pertumbuhan ekonomi terancam oleh kerusakan lingkungan, kelangkaan sumber daya, ketimpangan sosial, dan bencana alam karena perubahan iklim.

Peluang pelestarian kekayaan alam di wilayah Asia masih terbuka, dengan membangun infrastruktur yang bersih, kuat dan ramah lingkungan. Menjadi penghubung terhadap investasi yang rendah karbon. Demikian pula pentingnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) untuk mengatasi perubahan iklim. Iptek diperlukan untuk merumuskan solusi perubahan iklim dalam bentuk aksi nyata dilapangan. Keterlibatan masyarakat lokal di sektor pertanian dan kehutanan dapat mengatasi masalah perubahan iklim. Menjamin agar kegiatan masyarakat petani sebagai mata pencaharian untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi dapat dilakukan secara efektif melalui mitigasi dan adaptasi terhadap iklim yang mudah berubah.

Maraknya pembangunan infrastruktur saat ini harus menerapkan konsep green infrastructure. Konsep ini selain mengedepankan aspek teknis dan fisik juga mengutamakan karakteristik bentang alam, serta kepekaan terhadap perubahan cuaca dan iklim. Curah hujan tinggi yang menyebabkan banjir, menimbulkan genangan yang lama surut merupakan contoh kegagalan dan kurang peka terhadap perubahan iklim dan pengelolaan air hujan. Konsep infrastruktur hijau mengimplemetasikan rekayasa dan rancang bangun berbasis lingkungan untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Infrastrukur sudah selayaknya mampu berfungsi secara alami sebagaimana siklus hidrologi, memiliki kemampuan meresapkan air hujan semaksimal mungkin (zero run off).

Penerapan infrastrukur hijau di sektor industri dan penyediaan energi ramah lingkungan juga saatnya diimplementasikan walaupun masih bersifat biaya tinggi. Syarat ini dapat saja diterapkan kepada pelaku usaha agar meningkat minatnya untuk berinvestasi, dengan menurunkan syarat batas baku lingkungan atas parameter buangan limbah dan emisi udara. Dengan kata lain pemerintah dapat menerapkan kebijakan pemberian kompensasi insentif dan keringanan pajak. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved