Tajuk

Ulin Tak Langka?

PENGGUNAAN kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) sudah mendarah daging bagi urang Banjar. Kondisi ini tergambar dari berbagai bangunan khas Banjar

Ulin Tak Langka?
Banjarmasinpost.co.id/Mukhtar Wahid
Dua polisi bersenjata menjaga barang bukti satu unit dumptruk bermuatan kayu ulin di halaman Mapolres Tanahlaut, Rabu (11/4/2018). 

PENGGUNAAN kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) sudah mendarah daging bagi urang Banjar. Kondisi ini tergambar dari berbagai bangunan khas Banjar yang mengunakan ulin sebagai bahan utamanya. Mulai dari tongkat, tiang hingga atap.

Sebagai warga Banjar, tentu berbangga saat kayu besi yang sangat dikenal luas di Kalimantan Selatan itu masuk sebagai jenis tanaman dilindungai berdasar Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) P. 92/2018 dan P.20/2018.

Namun apa lacur, belum genap berusia dua tahun —sebagai syarat sosialisasi peraturan tersebut— sebelum diaplikasikan, ternyata di penghujung 2018, telah keluar peraturan baru, Permen LHK P.106/2018 yang mencabut ulin dari daftar tanaman dilindungi.

Berbagai pertanyaan pun muncul. Kenapa kayu ulin dianggap bukan lagi jenis tanaman dilindungi? Padahal siapa pun di Kalimantan Selatan tahu bagaimana sulitnya menemukan kayu ulin saat ini.

Kalau pun ada aktivitas pengangkutan kayu ulin, atau yang lebih dikenal sebagai ojek ulin, potongan kayu yang diangkut tidak besar-besar seperti puluhan tahun lalu. Dan diklaim yang mereka angkut adalah sisa-sisa hasil tebangan pohon ulin yang telah lama dibabat.

Sulitnya menemukan tanaman ulin pun diakui banyak pihak. Dipastikan generasi muda saat ini tidak tahu bagaimana rupa tanaman ulin tersebut, baik batangnya, kulit kayunya, daunnya, buahnya, hingga bagaimana proses menanamnya.

Sejak beberapa tahun lalu memang dilakukan berbagai upaya untuk mengembalikan kayu ulin sebagai tanaman khas Kalimantan Selatan. Salah satunya melalui upaya budidaya tanaman ulin, baik secara perorangan maupun kelompok.

Seperti yang dilakukan oleh Samhudi dan kawan-kawan, warga Desa Tiwinganlama, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, yang berniat menghijaukan kawasan Alimpung, sekitar 10 kilometer dari tempat tinggal mereka.

Upaya-upaya pembudidayaan seperti yang dilakukan Samhudi dan kawan-kawan patut mendapat dukungan. Harapannya, puluhan tahun nanti akan mudah menemukan tanaman ulin di sekitar kita.

Selain itu, tanaman itu bisa menjadi bahan pelajaran dan pengetahui bagi generasi mendatang bahwa masih ada kayu ulin yang bisa dilihat secara fisik. Bukan hanya sekadar cerita dongeng kalau di kawasan Kalimantan Selatan dulu ada banyak yang bernama ulin.

Usaha menanam kembali ulin di Banua jelas harus mendapat dukungan dari berbagai pihak. Mulai dari pihak yang menguasai teknologi pembudidayaan tanaman hutan, hingga upaya pembinaan dari instansi terkait seperti Dinas Kehutanan.

Tak lepas pula kehadiran dari petugas terkait pemanfaatan hasil hutan. Agar tanaman ulin yang sukses dibudidayakan orang-orang seperti Samhudi tidak seenaknya dirambah, bahkan dicuri.

Harapannya, jangan sampai upaya budidaya tersebut akan berujung sia-sia karena tidak didukung oleh semua pihak. Ke depan, ulin yang sebelumnya dianggap sebagai tanaman langka, bakal tak lagi menyandang status sebagai tanaman yang wajib dilindungi. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved