Tajuk

Sampah Jadi Berkah Banua

BANUA akhirnya punya Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Regional Banjarbakula yang bisa diandalkan mengatasi masalah sampah. Terutama pengolahan akhir

Sampah Jadi Berkah Banua
banjarmasinpost.co.id/nia kurniawan
Peninjauan TPA Banjarbakula di kawasan Gunung Kupang Banjarbaru 

BANUA akhirnya punya Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Regional Banjarbakula yang bisa diandalkan mengatasi masalah sampah. Terutama pengolahan akhir limbahnya menjadi ramah lingkungan dan berbagai produk daur ulang turunan yang bermanfaat.

TPA Banjarbakula ini berdiri di atas lahan seluas 30 hektare (rencananya diperluas menjadi 60 hektare) dilengkapi fasilitas 4 landfill, 1 IPL, pencucian truk, kantor dan jembatan timbang serta berbagai unit alat pendukungnya. Bangunan fisik dirampungkan sejak Desember 2018 lalu dengan biaya konstruksi Rp 158 miliar dari Kementerian PUPR melalui Dirjen Cipta Karya. Besarnya investasi fisik TPA ini sepadan dengan kemampuannya yang super dalam memproses sampah dengan daya tampung 275 ton per hari.

Melalui TPA Banjarbakula ini, sampah menghasilkan energi terbarukan, bahan bakar biogas Metan, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), pupuk padat dan cair, biji plastik. Kemudian menjadi sentral penampungan limbas medis sehingga rumah-rumah sakit, klinik kesehatan tidak lagi kebingungan membuang limbah medisnya karena TPA ini juga dibangun insinerator skala regional.

Setidaknya ada lima kabupaten kota yang sudah bersepakat teken kerja sama mengirimkan sampahnya setiap hari ke TPA Banjarbakula ini, yakni Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupatan Banjar, Kabupaten Baritokuala, dan Kabupaten Tanahlaut.

Warga banua tentu menaruh harapan tinggi agar keberadaan TPA Banjarbakula benar-benar memberikan manfaat yang besar bagi penyelamatan lingkungan, menjadi jalan solusi terbaik penanganan masalah sampah dari hulu hingga ke hilirnya sehingga membawa berkah dan manfaat.

Tingginya harapan itu tidaklah tak berlebihan mengingat begitu besarnya dana investasi pembangunan fisik dan segala infrastrukturnya. Kemudian begitu panjang dan lamanya proses menuju realisasi TPA Regional Banjarbakula dengan segala riak arus pro kontra baik di tataran masyarakat, pemerintah daerah pemprov dan pusat dan kabupaten kota.

Terlebih Kota Banjarbaru, yang menjadi lokasi TPA Banjarbakula. Membuka diri sebagai pusat kiriman sampah puluhan ton setiap harinya dari kabupaten kota lain, bukan tanpa risiko. Contoh sederhana saja, hilir mudik armada sampah setiap hari yang masuk ke lokasi TPA sedikit banyaknya mengusik warga sekitar.

Sebab itu, akses jalan armada sampah TPA regional harus benar-benar dikondisikan sedemikian rupa agar sekecil mungkin menimbulkan dampak merugikan masyarakat.

Tapi berangkat dari nawaitu yang baik, demi menyelesaikan masalah sampah banua yang selama ini menjadi momok, demi penyelamatan lingkungan dan agar sampah menjadi berkah bukan lagi masalah, operasional TPA Banjar Bakula harus didukung semua pihak dan masyarakat Banua.

Jika di hilirnya, ‘mesin’ pemprosesan sampah banua sedemikian seriusnya disiapkan. Tinggal bagaimana partisipasi individu, masyarakat, ambil peran mengoptimalkan fasilitas tersebut. Mulai dari hal kecil di lingkungan rumah tangga. Misalkan, membiasakan membuang sampah dengan memilah jenisnya.

Sampah organik (bahan alami) pada tempat sampah warna hijau, sampah anorganik (bukan bahan alami) bak sampah warna kuning dan sampah bahan beracun dan berbahaya (B3) pada bak sampah warna merah.

Pembuangan sampah dengan proses pemilihan di hulunya, akan sangat membantu mempercepat kinerja proses TPA. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved