Berita Kabupaten Banjar

Bidan Tak Menetap, ini Dampak yang Dirasakan Warga Tiwinganbaru

Sejak beberapa tahun lalu hingga kini, warga Desa Tiwinganbaru di Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel)

Bidan Tak Menetap, ini Dampak yang Dirasakan Warga Tiwinganbaru
banjarmasinpost.co.id/roy
Warga Tiwinganbaru menapaki jalan poros desa setempat yang sepi. Warga setempat membutuhkan perhatian pemerintah. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Sejak beberapa tahun lalu hingga kini, warga Desa Tiwinganbaru di Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), kadang mengalami kesulitan ketika memerlukan penanganan persalinan dan pemeriksaan kesehatan ibu hamil.

Hal itu disebabkan ketiadaan bidan yang bertuhas menetap di Tiwinganbaru.

"Bidannya kurang aktif, hanya sesekali saja datang ke sini. Lebih banyak begana (menetap) di Tiwinganlama karena rumahnya di sana," ucap beberapa warga Tiwinganbaru, Jumat (08/02/2019).

Kondisi itu diakui mereka cukup menyulitkan warga ketika sewaktu-waktu ada yang mendadak membutuhkan pertolongan bidan.

"Jangan salahkan warga di sini kalau akhirnya terpaksa meminta bantuan tenaga dukun beranak untuk menangani persalinan," ucap mereka.

Baca: Reino Barack Ragu Nikahi Syahrini Diungkap Sosok Ini di Depan Hotman Paris, Karena Luna Maya?

Baca: Olga Syahputra Meninggal 4 Tahun Lalu, Ini Ceramah Ustadz Abdul Somad Keutamaan Meninggal pada Jumat

Baca: Sikap Maia Estianty pada Pembully Dul Jaelani & Al Ghazali karena Ahmad Dhani, Suami Mulan Jameela

Baca: Link sscasn.bkn.go.id! Pendaftaran PPPK (P3K) 2019 Dibuka Hari Ini Mulai 16.00 WIB, Cek Syaratnya

Baca: Tak Kuat Jadi Gelandangan, Ibu Muda Cantik Ini Peluk Putranya & Lompat dari Jembatan Setinggi 100 M

Karena itu mereka sangat mengharapkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Banjar menempatkan bidan khusus yang bertugas dan bersedia menetap di Tiwinganbaru.

Pasalnya jika ada yang mendadak memerlukan pertolongan bidan, penanganan tak bisa segera dilakukan mengingat bidan berada di Tiwinganlama yang jarak tempuhnya sekitar 15 menit berkelotok.

"Bayangkan ketika hal darurat terjadi kondisi seperti itu, bagaimana nasib pasien selama 15 menit menunggu kedatangan bidan," sebut mereka.

Sejak kapan tak ada bidan menetap di Tiwinganbaru? "Sudah lumayan lama juga, kalau lima tahunan sepertinya ada," tandas beberapa warga tersebut.

Sekretaris Desa Tiwinganbaru M Yusuf dan Kepala Badan Perwakilan Desa (BPD) Fauzi ketika dikonfirmasi membenarkan keluh kesah warga tersebut.

Halaman
12
Penulis: Idda Royani
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved