Pilpres 2019

Doktor Banjarmasin Lulusan UGM Ini Bongkar Perilaku Caleg, ''Kampanye Tanpa Cantumkan Capres''

Aras Pemilu Legislatif (Pileg) berbarengan Pilpres 2019 kali ini sepertinya terjadi perlombaan rasionalisasi berkampanye bagi para caleg.

Doktor Banjarmasin Lulusan UGM Ini Bongkar Perilaku Caleg, ''Kampanye Tanpa Cantumkan Capres''
Istimewa
Pengamat Politik dan Kebijakan Publik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Dr Taufik Arbain, MSi. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Aras Pemilu Legislatif (Pileg) berbarengan Pilpres 2019 kali ini sepertinya terjadi perlombaan rasionalisasi berkampanye bagi para caleg.

Pasalnya sampai 70 hari menjelang Pileg dan Pilpres 2019 sangat jarang ditemukan baliho-baliho besar maupun kecil para caleg mencantumkan foto Paslon Pasangan Presiden baik nomor urut 1 maupun nomor urut 2.

Hal tersebut disampaikan Pengamat Politik dan Kebijakan Publik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Dr Taufik Arbain, M.Si.

“Bagi kami sebagai insan kampus Fisipol menarik dicermati. Kami menduga telah terjadi rasionalisasi kampanye para caleg dengan melihat peta pilihan pasangan presiden yang rentan fifty-fifty di banua ini, sehingga dengan menihilkan foto capres sebagai ikhtiar menyelamatan pilihan," ungkap dosen Fisip ULM ini.

Taufik Arbain menilai, realitas ini justru berlaku tidak sekadar pada para caleg yang baru masuk dalam gelanggang politik (pendatang baru), tetapi penihilan foto capres ini berlaku pada caleg atau tokoh yang berkali-kali menjadi wakil rakyat dengan baliho-baliho besar menghiasi sepanjang lintasan utama public.

Baca: Link Live Streaming Jawapos TV Persibat Batang vs PSIS Semarang Piala Indonesia Hari Ini

Baca: Link Live Streaming PSSI TV Persipura Vs Persidago Gorontalo Piala Indonesia Jam 13.00, Cek Usee TV

Baca: Hari Ini Ulang Tahun Olga Syahputra, Ruben Onsu dan Uya Kuya Jawab Kabar Bangkrutnya Billy Syahputra

Menurutnya, ada dua kemungkinan fenomena demikian, pertama, para caleg memang telah mempetakan bahwa isu-isu capres lebih mengemuka ketimbang dengan isu-isu ke-calegan sehingga pesan kampanye diutamakan pada penonjolan lambang partai, nomor urut, wajah caleg dan jargon-jargon.

Kedua, ada gelombang kegalauan yang dahsyat jika menampilkan foto capres pada baliho atau spanduk caleg baik level DPR RI, DPRD Provinsi maupun DPRD Kab/Kota, dimana berimplikasi pada penggerusan pilihan public pada dirinya dan partainya termasuk peningkatan elektabilitas.

Tetapi mengapa justru lebih dominan menihilkan? “Saya kira justru point kedualah yang utama mengapa ketakutan terjadi degradasi pilihan pasangan presiden khusus kasus banua baik pada dapil1 maupun dapil 2.

Anehnya ini berlaku pada tokoh-tokoh dan incumbent wakil rakyat. Inilah saya kira catatan penting dalam memahami realitas sebagai rekomendasi regulasi pada pemilu yang akan datang," katanya.

Menurut Direktur Utama Banua Meter- lembaga survey politik ini, bahwa ada terjadi variasi distribusi pilihan partai yang tidak linear dengan pilihan presiden, tetapi ada juga yang relative linear pada kasus Kalimantan Selatan. Misalnya pemilih PDIP, dan Golkar cenderung < 70 persen cenderung linear memilih paslon 1, demikian pula pemilih Partai Gerindra, PKS, Demokrat,PAN < 70 persen cenderung linear memilih paslon 2. Sisanya partai yang cenderung berada pada massa Islam tradisional terbelah mencapai 40-50 % termasuk nasionalis.

Halaman
12
Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved