Suara Rekan

Rusia

SEANDAINYA boleh dimajukan alangkah baiknya kalau pemilihan presiden dilakukan sekarang, terlalu lama menunggu bulan April.

Rusia
dokbpost
H Pramono BS

Oleh: Pramono BS

SEANDAINYA boleh dimajukan alangkah baiknya kalau pemilihan presiden dilakukan sekarang, terlalu lama menunggu bulan April. Bukan apa-apa, ini untuk menghindari agar rakyat tidak semakin bodoh, tiap hari dicekoki dengan pendidikan politik yang penuh kepalsuan.

Sayangnya itu tidak mungkin sehingga mau tak mau kita harus menahan kesal dan amarah menyaksikan adegan kampanye yang penuh dengan kemarahan, hoaks atau kabar bohong.

Seperti kita tahu pilpres sekarang ini sudah menjadi ajang penyebaran hoaks, baik lewat tatap muka maupun media sosial dan ini yang paling banyak. Presiden Joko Widodo menamakan ini dengan istilah propaganda Rusia, yaitu sebuah aktivitas politik untuk menjatuhkan lawan dengan segala cara. Jadi tidak mengarah pada suatu negara, hanya terminologi politik. Ini pernah terjadi saat pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2016 lalu.

Pilpres AS saat itu penuh dengan kebencian, intoleran dan ketakutan. Pers di sana menilai kampanye Presiden AS saat itu adalah yang paling biadab. Media sosial dijadikan alat untuk menciptakan suasana seperti itu. Rusia dituduh ikut ambil bagian dalam kampanye pilpres AS. Hasilnya memang ampuh, Donald Trump memenangkan kontestasi ini. Lawannya, Hillary Clinton, meraih suara terbanyak tapi kalah di distrik sehingga tidak bisa melenggang ke Gedung Putih. Di AS pemenang pilpres ditentukan lewat kemenangan suara di sejumlah distrik tertentu, bukan suara seluruh rakyat. Jadi siapa bilang AS negara paling demokratis?

Suasana saat kampanye di AS juga mencekam, penduduk muslim ketakutan karena Trump akan memberi perlakuan berbeda. Orang islam akan dilarang memasuki AS sehingga banyak orang yang memilih menunda perjalannya keluar AS dari pada tidak bisa kembali, seperti para mahasiswa. Pendeknya cukup menakutkan.

Gaya seperti itu lah yang sekarang dirasakan di Indonesia. Hoaks menjadi makanan rakyat sehari-hari, ada kebencian, kebohongan dan banyak lagi. Indonesia dibilang akan punah jika calon tertentu kalah, korupsi sudah mencapai Rp 500 triliun, menteri keuangan diganti menteri pencetak utang, pembangunan infrastruktur hanya menyengsarakan rakyat, seorang kyai besar dihubungkan dengan “makelar doa”. Belum lagi ancaman model kampanye Pilkada DKI yang kasar sewaktu-waktu bisa digunakan juga. Karena itu tidak salah kalau ada yang menyebut kita tengah terpapar propaganda Rusia.

Menurut pengamat Hubungan Internasional Universitas Pajajaran Bandung, Teuku Rezasyah, istilah propaganda Rusia yang diucapkan oleh Jokowi tidak merujuk pada negara Rusia tapi merujuk pada teori yang digunakan untuk strategi politik (Detik.com 6/2/2019).

Tapi tetap saja ada yang memanas-manasi Kedutaan Besar Rusia agar Presiden Joko Widodo minta maaf. Kedubes Rusia akhirnya mengklarisikasi bahwa istilah propaganda Rusia dalam pilpres di AS adalah rekayasa, bukan realitas. Rusia tidak ikut campur dalam pilpres AS hingga Indonesia. Politisi Partai Gerindra Fadli Zon menyebut Jokowi grusa-grusu.

***

Dalam sejarah, baru pada pilpres 2014 dan 2019 ini Indonesia disesaki dengan hoax, kebencian, fitnah dan semacamnya. Di zaman Megawati bertarung dengan Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2004 maupun 2009, tidak ada fitnah atau serangan kabar bohong. Padahal keduanya merupakan musuh bebuyutan yang dilandasi oleh masalah pribadi. Tapi ternyata keduanya bisa menahan diri, tidak ada serangan pribadi, SBY bahkan sangat santun terhadap Megawati.

Mungkin zaman sudah berubah, saat itu teknologi belum secanggih sekarang. Semuanya masih serba “manual”, telepon genggam baru sebatas untuk bicara atau kirim berita lewat pesan pendek. Sekarang sudah kelewat canggih, telepon genggam bisa dipakai untuk sejuta kepentingan termasuk menebar kabar bohong.

Perangkat ini sekarang memantapkan posisinya sebagai media sosial, tapi tidak setara dengan media arus utama. Karena tidak ada lembaga yang mewadahi medsos jadi liar. Ujaran-ujarannya sering ngawur dan digunakan untuk menyerang pihak lain. Sampai-sampai Presiden Jokowi yang dulu selalu kalem dan sabar pun ikut-ikutan naik pitam melihat jejak-jejak medsos yang penuh konten hoaks. Dia menuduh lawannya menggunakan propaganda Rusia.

Karena pemungutan suara masih sekitar dua bulan lagi maka yang bisa dilakukan sekarang adalah tinggal kuat-kuatan, antara yang menyerang dan menangkis. Bagaimana Indonesia ke depan bisa dilihat dari sekarang.(*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved